Travelog

Sepakbola dan Perjalanan: Fragmen-fragmen

I

Di sebuah losmen 50 ribu per malam, di Labuan Bajo, saya duduk termangu memandangi menara gereja nun jauh di sana lewat celah lebar pintu kamar. Kemungkinan gereja Protestan. Entahlah.

Tiba-tiba saja, segerombolan anak-anak datang dan bermain bola plastik di halaman losmen. Di tanah gersang itu, dengan debu-debu yang menguar ketika bola ditendang, anak-anak itu menyepak bola ke sana kemari.

Di kamar yang lain, seorang pejalan dari Tiongkok muncul dari balik pintu. Kami seperti memahami bahasa universal yang ditawarkan sepakbola. Ketika bola dimainkan, dimulailah perjamuan kudus. Kami bergabung dengan anak-anak itu, dan kembali menjadi bocah yang riang menikmati siang terik dengan bola di kaki.

Saya mengingat sebuah halaman pada Soccer in Sun and Shadow, buku Eduardo Galeano: “Halaman-halaman berikut ini didedikasikan untuk anak-anak yang pada suatu waktu, bertahun-tahun lalu, bertemu denganku di Callela de la Costa. Mereka bermain sepakbola dan bernyanyi: Kami menang, kami kalah, apa pun itu kami bersenang-senang.”


II

Saya bukan pemain bola yang baik. Saat kecil dulu, mungkin hingga SMP, saya senang bermain di sisi sayap. Mungkin saya membayangkan Stefano Fiore atau Gianluca Zambrotta. Atau mungkin sebenarnya saya hanya mengimani crossing sebagai puisi. Tapi, saya toh juga tidak jago memberi umpan silang. Entahlah.

Dari jam-jam bermain bola yang saya alami, tak banyak gol yang saya ciptakan. Namun, saya selalu mengingat sebuah gol di Paking, Malinau. Kala itu, saya sedang dalam program KKN kampus, tinggal sebulan di sana, dan menikmati hari-hari tropik di utara Kalimantan.

Anak-anak bermain bola di halaman SD Negeri Sukasari 01, Kecamatan Serang, Cikarang, Bekasi, 10 Mei 2003 via TEMPO/Bismo Agung

Di sebuah lapangan, yang kadang dipakai untuk voli, kadang sepakbola, kami sesekali membuang waktu bermain bola. Kebanyakan bersama anak-anak dan remaja Paking. Ada yang ikut main, ada pula yang hanya menonton di pinggir lapangan. Apa pun itu, kami bersenang-senang. Menunggu matahari jatuh di langit barat.

Pada satu momen, seorang anak menyisir lapangan, lalu memberi saya umpan manis persis di depan gawang. Saya hanya menyontek bola ke gawang, yang lowong setengah, setelah kiper terkecoh aksi si anak tadi. Saya berlari ke arah orang-orang yang menonton. Membayangkan Thomas Muller merayakan gol tap-in miliknya.


III

Riset lapangan kadang menjemukan. Kadang saya cuma ingin lari sejenak dari detail-detail etnografis dan bermain bola bersama kawan-kawan di Ebay, Siberut. Hampir saban sore, di depan surf camp Usman, bola akan bergulir dan permainan 3×3 dihelat. Gawang disusun dengan dua batok kelapa, ukurannya kecil, dan tak perlu dijaga kiper.

Kontur tanah di pulau tidak perlu disangsikan: bukan tempat terbaik untuk main bola. Juga, sebatang pohon kelapa berdiri seenaknya di tengah lapangan. Tapi tak masalah. Jika orangnya cukup dan ada bola, kita bisa bersenang-senang.

Biasanya kami akan bermain sampai langit agak gelap. Sesekali laga terhenti karena teteu-teteu lewat usai bekerja di ladang. Karena lapangan kecil dan satu tim hanya tiga orang, permainan cukup intens. Membuat saya berkeringat, ditambah di hari yang hangat. Seringnya, usai sepakbola sore, saya akan berenang-renang sejenak di tepian laut.

Saya akan pulang ke rumah dengan campuran keringat dan air laut, mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi. Biasanya, setelah mandi, saya akan dipanggil Mamak untuk makan malam. Sepiring ikan telah menanti di meja makan.


IV

Saya tiba di Wamena pada hari Minggu: hari gereja. Tak ada oto yang ‘kan membawa saya ke Lanny Jaya. Saya mesti singgah semalam di Wamena. Untungnya seorang eja dari Manggarai menemukan saya tersesat di depan Hotel Baliem Pilamo. Ia mengajak saya menginap di indekos sederhana, yang ia tempati bersama beberapa kawan lain.

Saya tiba pagi hari. Siang harinya, saya langsung diajak mereka ikut menghadiri acara makan-makan; kerabat mereka, juga asal Manggarai, baru saja membaptis anaknya. Itu peristiwa besar dan daging babi adalah cara yang pantas untuk merayakannya.

Di sore hari, kami berjalan-jalan santai, sampai ke sebuah jembatan di mana kami bicara hal-hal yang tak paralel, tentang Flores, Papua, dan kelindan di antara keduanya bagi perantau seperti mereka. Kami beranjak pulang ke indekos ketika sepakbola sore dimainkan di halaman sebuah SD. Setelahnya bisa ditebak. Bola disepak, gol-gol dicetak.

Anak-anak bermain sepak bola di atas jalan tol yang tak terpakai di kawasan Sungai Bambu, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2009 via TEMPO/Tony Hartawan

Jujur saya ngeri main sore itu. Di lapangan saya tak mau terlalu lama memegang bola. Tekel-tekel bukan barang mewah di sini. Usai mendapat bola, saya biasanya langsung mengoper lagi, entah ke siapa. Tak ada nama yang saya ketahui di lapangan itu. Tapi, sepakbola tak perlu nama, dan kadang tak perlu kata-kata.

Absurd sekali permainan ini.

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Artikel Terkait
Travelog

Suatu Malam di Studio Rap Abepura

Travelog

Magang Hari Kedua

Travelog

Bertiga ke Jayapura

Travelog

Ketika Semen Padang Tandang ke Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *