Interval

Secuil Cerita dari Asmat: Tentang Berburu-Meramu, Pendatang, dan Mini Compo

Pada bulan November 2019, saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Asmat untuk sebuah kegiatan. Sayangnya, saya hanya memiliki waktu sekitar beberapa hari di sana. Karena sudah lama mengimpikan untuk ke Asmat, saya manfaatkan perjalanan itu untuk memerhatikan berbagai hal di sana dengan saksama.

Selama perjalanan dari Jakarta ke Asmat, sampai kembali lagi ke Jakarta, berbagai hal muncul dalam pikiran saya. Salah satunya adalah perbedaan yang cukup mencolok antara fasilitas dan kemajuan bandara di Jakarta dan Ewer. Meski mungkin bukan yang nomor satu, pastilah bandara-bandara di Jakarta masuk dalam jajaran yang terbaik di negara ini. Di Ewer, bandara terdekat dari pusat Asmat, kondisinya serba minim.

Di Bandara Ewer hanya ada landasan yang tidak terlalu panjang dan satu arah, signage bandara yang hanya berupa huruf-huruf yang dicat di bekas tong minyak, dan ruang tunggu yang sangat sederhana. Hanya ada kursi dan alat timbangan di sana. Penimbangan barang memang dilakukan secara manual. Menurut informasi, karena pesawat yang dioperasikan hanya berkapasitas 9 penumpang, berat bawaan sekaligus berat penumpang perlu dihitung secara teliti. Tentu ini beda sekali dari bandara-bandara di Jakarta yang semuanya, mulai dari penunjuk gate keberangkatan, papan informasi jadwal pesawat, sampai timbangan, dll., serba digital.

Bandara Ewer, Asmat/Timoti Tirta

Jika bandara seperti Soekarno-Hatta penuh restoran dan kios penjual aksesori, Ewer hanya punya sebuah warung sederhana yang menjual mi instan, biskuit, dan rokok.

Ketimpangan-ketimpangan seperti di atas mungkin makanan lama. Belum mau juga saya persoalkan kembali dalam tulisan ini. Kali ini, yang akan saya tuliskan adalah secuil cerita soal perubahan cara hidup penduduk Asmat.

Agats, ibu kota kabupaten yang ramai pendatang

Menginjakkan kaki di Kabupaten Asmat, secara kasat mata akan kelihatan cara hidup orang lokal yang sederhana dan jauh dari kesan pembangunan dan kemajuan ekonomi yang sering didengungkan di kota-kota besar. Beberapa hari di Asmat, saya terdorong untuk memerhatikan sebuah fenomena yang unik, yakni banyaknya masyarakat pendatang di sana.

Pendatang ada yang hanya plesir, namun juga ada yang menetap. Biasanya pendatang yang menetap datang dari Sulawesi, yakni orang Bugis dan Buton. Bisa dikatakan, di Agats (ibu kota kabupaten), sejauh mata memandang adalah toko kelontong (warung) milik pendatang yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari seperti mi instan, biskuit, bohlam, dan sabun.

Lalu, jika keadaannya seperti itu, bagaimana mungkin masyarakat lokal dapat bersaing secara ekonomi? Pikir saya waktu itu. Tanpa bermaksud mengecilkan warga lokal, saya tidak melihat adanya kultur atau cara hidup berdagang dalam masyarakat Asmat. Tentu ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Alhasil, secara ekonomi, para pendatang berpotensi untuk lebih maju. Ini jelas sekali dari kenyataan bahwa rumah-rumah para pendatang dibangun menggunakan bahan-bahan yang bisa dibeli, sementara rumah orang lokal biasanya hanya dibangun dengan bahan-bahan yang diberikan alam.

Berdasarkan infomasi dari seseorang yang tinggal di sana, beberapa tahun yang lalu di Agats masih jarang ada pendatang. Namun kemudahan akses transportasi, yakni kapal besar yang kini dapat masuk ke Agats setiap beberapa hari sekali, membuat Kabupaten Asmat jadi terhitung tidak terlalu sulit untuk dicapai. Itulah yang membuat orang-orang datang mencoba peruntungan di wilayah Agats.

agats asmat
Lapak-lapak penjual kerajinan di Agats/Timoti Tirta

Konsekuensinya tentu saja adalah perubahan budaya. Sebagaimana yang sudah saya tuliskan tadi, sepenglihatan saya masyarakat lokal di Asmat memang tidak memiliki kultur berdagang. Bahkan bisa dikatakan cara hidup mereka masih mempertahankan sistem berburu dan meramu. Hal ini tentunya tidak bisa disalahkan, karena memang begitulah kultur dan cara mereka hidup. Toh mereka bisa survive selama ini karena cara hidup mereka tersebut.

Perubahan itu kentara, terutama pada mereka yang muda-muda. Mereka yang dulunya hanya makan sagu, ditumbuk dan dibakar, bahkan sering kali tidak pakai ikan atau lauk lainnya, sekarang mulai mencoba memakan mi instan. Saya melihat sendiri anak-anak kecil yang makan mi instan langsung tanpa dimasak. Mi instan memang sangat diminati belakangan ini, sampai-sampai ada lelucon bahwa mereka berharap di tanah mereka bisa tumbuh pohon mi instan.

Pemandangan menarik lainnya adalah para pendatang yang berjualan lagu menggunakan mini compo yang dipasang keras-keras. Sumber lagu sendiri berasal dari flashdisk atau ponsel dicolok. Juga, saya mulai melihat warga lokal menggunakan ponsel, menyetel lagu, atau mengantre di kios seluler untuk melihat-lihat ponsel atau membeli pulsa. Kebanyakan dari mereka anak muda.

Keinginan atau kebutuhan?

Melihat fenomena di Asmat, saya teringat seorang ahli ilmu sosial, yakni Zygmunt Bauman. Ia kerap menyinggung konsep yang ia sebut needs (kebutuhan) dan desire (keinginan). Berdasarkan pengamatan singkat selama di sana, saya cukup yakin bahwa kebutuhan akhirnya diciptakan. Sukar memastikan apakah sesuatu adalah kebutuhan dasar atau hanya berdasar pada keinginan semata. Keinginan tentunya berasal dari “barang yang ada.” Karena barangnya ada, akhirnya mereka ingin, dan merasa butuh. Sebenarnya belum tentu aslinya mereka butuh. Pendatang memperkenalkan berbagai kebutuhan ini. Akhirnya, kehidupan mereka sedikit banyak mulai berubah.

Tanpa bermaksud menciptakan judgement tertentu mengenai orang lokal dan pendatang, dampak dari berbagai perubahan sosial tersebut tentunya ada positif dan juga negatifnya. Keberadaan “barang baru” atau hal baru, tentunya akan melecutkan keinginan warga lokal untuk memiliki. Hal ini bisa jadi menjadi pintu awal bagi mereka untuk berkembang atau berubah dalam hal ekonomi dan cara hidup (jika mereka anggap itu baik).

Positifnya, jika merasa perlu, mereka akan mencari cara terbaik untuk mendapatkannnya, mungkin dengan sekolah dan mencari pekerjaan sehingga mendapatkan penghasilan. Poinnya adalah mereka akan memiliki motivasi baru dalam mencapai hal yang baru.

Negatifnya, jika keinginan sudah diciptakan—sampai dianggap sebagai kebutuhan—namun hal tersebut bertentangan dengan kultur mereka, bukan tidak mungkin mereka akan kebingungan untuk bisa bertahan dalam kebaharuan tersebut. Akhirnya akan terjadi situasi serba bingung dan mereka tidak dapat memenuhi keinginan yang sudah tercipta. Dengan kurangnya informasi mengenai berbagai macam pekerjaan yang ada, juga dengan minimnya jumlah sekolah di Kabupaten Asmat, tentunya cita-cita masyarakat lokal akan terbatas.

Perahu membelah sebuah sungai di Agats/Timoti Tirta

Barangkali juga mereka tidak tahu apa yang ada di luar sana. Selama ini, mereka sudah senang dan merasa cukup dengan hidup mereka—yang tentunya juga tidak keliru.

Sekarang, mereka biasa hidup sederhana dan tidak berlebihan. Namun, banyaknya tawaran dari luar sana barangkali membuat mereka mesti melakukan usaha yang lebih untuk memiliki. Jika tidak bisa memiliki, bukan tidak mungkin mereka akan merasa bahwa mereka adalah orang yang miskin, yang mungkin tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Tentu ini akan menjadi pekerjaan rumah baru bagi pemerintah, sebab mereka akan dituntut menciptakan lapangan pekerjaan baru, sekolah tambahan, dan lain sebagainya. Tapi, pertanyaannya, apakah orang lokal sendiri akan berusaha untuk mengubah kultur hidupnya demi memenuhi keinginan mereka? Entahlah. Biarlah mereka yang menjalani proses-proses tersebut. Harapannya, semoga saja tidak muncul kecemburuan sosial seperti yang sudah-sudah di berbagai daerah.

Akhir kata, pemerintah perlu lebih serius memerhatikan fenomena ini sehingga ke depannya harmoni antara orang lokal dan pendatang dapat terus lestari. Selamat bekerja.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Senang bertukar pikiran dan plesir ke berbagai tempat. Jatuh cinta pada Indonesia Timur.

Timoti Tirta

Senang bertukar pikiran dan plesir ke berbagai tempat. Jatuh cinta pada Indonesia Timur.
Related posts
Interval

Mengenal H.O.K. Tanzil lewat “Catatan Perjalanan Pasifik, Australia, Amerika Latin”

Interval

“My Boyhood and Youth”: Masa Kecil dan Remaja John Muir

Interval

Junko Tabei, Perempuan Pertama yang Mencapai Tujuh Puncak Dunia

Interval

Setelah Lumpur Menyembur: Menengok Kehidupan “Wisata” Lumpur Sidoarjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *