Itinerary

Ragam Permainan Anak Tradisional Indonesia

Anak-anak sekarang lebih memilih game di perangkat elektronik sebagai permainan favoritnya. Padahal, banyak lho permainan tradisional yang seru buat mengisi waktu selama di rumah bersama keluarga atau teman. 

Berikut adalah permainan tradisional Indonesia yang bisa dimainkan oleh anak sampai remaja. Yuk, ajak adik-adik dan keponakanmu untuk bermain!

Bola Bekel

Bola bekel lebih populer bagi anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki karena memiliki gerakan tangan yang lebih cekatan dan cepat saat memainkannya. Permainan ini membutuhkan bola bekel terbuat dari karet yang mudah memantul dan biji bekel dengan bentuk unik. 

Dalam memainkannya, bola bekel dilempar dan memantul satu kali, dalam rentang waktu inilah pemain harus bisa mengubah posisi biji bekel dengan cepat. Pemain yang gagal membalikkan posisi biji bekel ini akan akan kalah dalam permainan. Bisa juga menggunakan aturan poin, pemain yang bisa mendapatkan banyak poin yang menjadi pemenangnya.

Kelereng atau Gundu

permainan anak tradisional
Sejumlah anak bermain kelereng di kawasan Kamal Muara via TEMPO/Yosep Arkian

Permainan tradisional ini lebih sering dimainkan oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Ada banyak pola yang bisa dimainkan menggunakan kelereng. Mulai dari pola lingkaran, pola jirak (memanjang), atau bisa juga dengan lubang.

Aturan permainannya berbeda-beda tergantung pola serta aturan-aturan tertentu. Namun yang jelas, jika kelereng yang ditembakkan mengenai kelereng sasaran, maka bisa menjadi pemenang.

Berbeda dengan kelereng sekarang ini yang menggunakan kaca, pada permainan kelereng yang lebih tradisional masih menggunakan biji karet. Tentunya dengan bentuk yang tidak bulat dari biji karet akan menambah tantangan tersendiri dalam permainan ini.

Kelereng cocok dimainkan pada area yang mendatar serta rata agar dapat mengincar kelereng lain dengan posisi yang terbaik.

Permainan Congklak

permainan anak tradisional
Anak-anak bermain congklak di Keraton Surakarta via TEMPO/Kastoyo Ramelan.

Pada permainan congklak membutuhkan papan permainan khusus yang memiliki bentuk oval memanjang dengan total sembilan lubang. Ada dua lubang besar yang dijadikan sebagai penyimpanan dan tujuh lubang lain untuk memindahkan biji congklak. Biji congklak ini bisa menggunakan kelereng, biji-bijian, atau batu kerikil.

Congklak dimainkan oleh dua orang yang secara bergantian memindahkan biji congklak sarah jarum jam. Butuh ketelitian dan perhitungan jitu agar biji congklak dapat dikumpukan sebanyak mungkin di lubang penyimpanan.

Pemain dengan jumlah biji congklak terbanyak lah yang akan menjadi pemenangnya. 

Egrang

Egrang adalah permainan tradisional yang menggunakan bambu untuk memainkannya. Dua buah bambu yang diberi pembatas untuk dijadikan sebagai pijakan. Pemain harus menaiki egrang dan menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Biasanya mereka yang jatuh duluan akan mendapatkan hukuman.

Butuh latihan terus menerus agar bisa menaiki egrang ini karena tidak semua orang langsung bisa menggunakannya. Pemain juga perlu berhati-hati saat menaiki egrang karena bisa jatuh dan terjepit di bambunya. Namun begitu, egrang masih menjadi permainan favorit dan mudah ditemukan di kampung-kampung. 

Petak umpet

Permainan anak tradisional ini masih sering dijumpai dan dimainkan. Permainan yang mengharuskan satu orang menjadi penjaga dan sisanya bisa bersembunyi agar tidak ditemukan oleh penjaga. 

Nantinya dalam hitungan tertentu, penjaga akan mulai mencari sambil menjaga pos agar tidak tersentuh oleh mereka yang sembunyi. Apabila mereka yang bersembunyi bisa menyentuh pos, maka permainan akan diulangi dari awal lagi. Sedangkan jika semua sudah tertangkap maka bisa bergantian dengan pemain lainnya dengan cara hompimpa.

Dalam skala besar di kampung, petak umpet bisa lebih asyik dan seru. Pemain dibagi dalam dua tim untuk menjadi polisi dan satunya maling. Polisi bertugas menangkap maling yang bersembunyi dalam lingkup area yang lebih luas. Biasanya, areanya berukuran satu kampung atau menggunakan batas-batas tertentu.

Gobak Sodor

permainan anak tradisional
Gobak Sodor via Flickr/thisisinbalitimur

Anak-anak hingga dewasa bisa memainkannya. Pola permainannya sangat mudah dibuat dan dimainkan.  Ada dua tim yang akan bermain, tim pertama menjadi penjaga dan tim kedua menjadi penyerangnya. 

Tim yang menjaga berusaha agar tim kedua tidak bisa lewat dan tim kedua harus bisa melewati semua penjaga sampai ke belakang. Jika salah satu penyerang tersentuh oleh penjaga, maka permainan selesai dan tim akan saling berganti posisi. Bisa juga dengan aturan 2 atau 3 orang yang tersentuh jika pemainnya ada banyak. 

Patok Lele atau Bentik

Permainan tradisional lain yang tak kalah seru adalah patok lele atau bentik. Permainan ini dimainkan oleh dua tim yang jumlahnya imbang dan minimal 2 orang dalam satu tim. Bentik membutuhkan dua potong kayu dengan panjang 30 cm dan 10-15 cm. Nantinya, tim yang duluan memukul akan meletakkan kayu yang pendek ke tanah yang sudah dilubangi atau bisa menggunakan batu bata dan batu. 

Kayu kecil akan diungkit dan dilempar sejauh mungkin agar tim lain tidak bisa menangkapnya. Jika bisa menangkapnya tanpa menyentuh tanah duluan maka bisa mendapatkan poin yang tinggi.

Jika tidak berhasil menangkapnya, tim pemukul akan meletakkan kayu pemukul di antara batu. Selanjutnya, tim penangkap berusaha melempar kayu kecil agar bisa menjatuhkan kayu pemukul tadi. 

Apabila tidak bisa mengenai kayu pemukul, maka tim pemukul akan melanjutkan putaran kedua dengan berdiri dan memukul kayu kecil tanpa menggunakan batu lagi. Sebagai hukumannya, tim yang kalah akan menggendong tim yang menang.

Lompat Tali Karet

permainan anak tradisional
Sejumlah remaja dan anak-anak memainkan lompat tali via TEMPO/Fully Syafi.

Karet gelang yang disusun dan dibuat menjadi tali yang panjang bisa digunakan untuk permainan lompat tali. Dalam permainannya minimal ada tiga orang yang memainkannya. Dua orang memegang tali karet sedangkan yang lain akan berusaha melompatinya.

Biasanya ada beberapa tahapan ketinggian yang harus dilewati mulai dari dasar, mata kaki, lutut, perut, sampai ujung kepala. Pemain yang gagal melompati akan bergantian menjadi pemegang tali karet. Dalam permainan ini yang paling penting semua badan harus bisa melewati tali karet tanpa tersangkut.

Engklek

permainan anak tradisional
Sejumlah remaja dan anak-anak memainkan permainan engklek via TEMPO/Fully Syafi.

Engklek adalah sebuah permainan anak tradisional untuk menjaga keseimbangan. Pemain menggambar garis kotak-kota pada tanah lapang, memanjang, dua kotak di sisi kanan kiri pada ujungnya. Pemain hanya boleh melewati satu kotak dengan satu kaki saja dan tiga kotak ujung dengan dua kaki. 

Biasanya permainan ini dikombinasikan dengan melempar “kereweng” atau pecahan genting ke dalam kotak tertentu. Nantinya jika berhasil masuk ke dalam kotak maka kotak tersebut tidak boleh dipijak sehingga harus melompat ke kotak selanjutnya.

Memainkan engklek akan lebih seru di tanah lapang yang rata. Permainan tradisional Indonesia ini bisa menjadi aktivitas seru untuk dihabiskan bersama anak-anak atau saudara di rumah. 

Apalagi, permainan ini juga bisa dilakukan untuk menghindari efek kecanduan bermain game di smartphone. Permainan tradisional ini juga bisa dilakukan sekalian untuk berolahraga dengan menggerakkan anggota tubuh. 

Yuk perkenalkan ragam permainan tradisional ini ke adik-adik kita. Dengan mengenalkan dan memainkan permainan ini, kita turut melestarikan permainan tradisional ke generasi berikutnya!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Kerupuk Klenteng Bojonegoro, Warisan Legendaris yang Tetap Eksis Sejak 1929

Itinerary

Road Trip ke Pulau Sabu dan Menggila Bersama Bento

Itinerary

"Playlist" Buat Kamu yang Rindu Berderu Bersama Ombak

Itinerary

Desa Wisata Ngargoretno, Wisata Alam dengan Kearifan Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *