Interval

Perjalanan: Menemukan Bhinneka, Memperbarui Keindonesiaan

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”

—Marcel Proust

Di sekolah dasar, seperti anak-anak Indonesia lain, saya diajar dan belajar tentang Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Falsafah itu menempel terus di kepala hingga dewasa.

Pastinya saya tak sendiri. Semua orang Indonesia tentu tahu betapa beragamnya negeri ini. Toh, mengetahui belum tentu sama dengan memahami. “Keberagaman” sering kali berhenti sebagai konsep di kepala saja, bukan kenyataan yang sebenar-benarnya. Ia menjadi klise, menjadi taken for granted.

Kita mungkin bangga, tapi tak peduli-peduli amat. Kita jarang mempertanyakan soal kebhinnekaan dan keindonesiaan ini. Apakah Indonesia benar-benar beragam? Apakah Bhinneka Tunggal Ika masih relevan hari ini?

Yang ditawarkan oleh perjalanan

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mengemuka begitu saja. Terutama ketika saya sedang melintasi lanskap yang asing, bertemu orang yang logatnya berbeda, atau mencicipi makanan yang tak familiar. Seketika saya mengingat lagi kalimat sansekerta itu, yang mengendap entah di mana di kepala.

Yang ditawarkan oleh makin populernya, atau makin “demokratis”-nya, perjalanan wisata di Indonesia pada satu-dua dekade ke belakang adalah kesempatan untuk menggali ulang Bhinneka Tunggal Ika.

Perjalanan domestik bisa jadi adalah kendaraan untuk mengalami secara langsung kebhinnekaan yang kita dengar dan pelajari saat kecil dulu. Lewat perjalanan, kita memperbarui persepsi kita tentang “keberagaman” dan mendefinisikan ulang konsep abstrak bernama “Indonesia.”

Seorang nelayan Mekko memperbaiki pukat yang rusak/Syukron

Untuk itulah kita memerlukan pertemuan budaya. Ketika kita jalan-jalan, kita tak bisa menghindari pertemuan budaya itu. Bentuknya bisa macam-macam. Mulai dari dialog informal dengan orang, melihat kesenian tradisional, tersesat di pasar lokal, mencicipi makanan setempat, dan sebagainya. Melalui perjalanan, kita mempertemukan (sekaligus membenturkan) kebudayaan kita dengan kebudayaan lain.

Penting untuk diingat bahwa pertemuan budaya itu tak mungkin terjadi di ruang hampa. Ia bertempat di lokalitas yang khusus. Dalam konteks pariwisata, ia terjadi di “destinasi” di mana orang-orang lokal hidup sehari-hari.

Menjadi reflektif

Tapi, bagaimana pertemuan budaya bisa memperbarui persepsi kita tentang keindonesiaan dan keberagaman? Secara tanpa sadar, dengan menemui kebudayaan yang berbeda, kita sedang diberi kesempatan untuk bercermin dan untuk mempertanyakan sudut pandang kita yang lama.

Jalan-jalan ialah proses belajar (Leenders, 2010). Memang, lewat posting-posting di Instagram, traveling lebih sering diasosiasikan sebagai laku hedonistik (bersenang-senang). Tapi sebenarnya ia punya kualitas yang reflektif. Juga hermeneutik.

Kita semua punya ide, tradisi, cara berpikir, dan perspektif yang unik dan berbeda-beda. Menurut John Urry (2011), hal-hal itu adalah lensa yang kita pakai ketika “memandang” (gaze) sesuatu dalam perjalanan. Tapi cara pandang itu—yang diciptakan secara sosial (socially constructed)—tidaklah permanen.

Perjalanan menciptakan semacam proses dialog di dalam kepala kita. Kita mengevaluasi, menimbang, dan mengintepretasi ulang cara pandang yang kita miliki. Pada akhirnya, laku-laku reflektif dan hermeneutik itu memperkaya pandangan kita.

Namun, untuk menjadi reflektif belum tentu mudah. Terlebih di masa di mana traveling sudah menjadi konsumsi gaya hidup urban. Itulah pentingnya menjadi kritis dan sadar (mindful), seraya menghindar dari narasi-narasi mindless consumerism yang mendominasi praktik-praktik perjalanan kita hari ini.

Kontak langsung di lokal

Lalu, apa pentingnya traveling dalam memahami kebhinnekaan saat kita sudah hidup di lingkungan yang beraneka ragam budaya di rumah, sekolah, atau pekerjaan? Apakah masih penting untuk jalan-jalan dan menemui budaya yang lain?

Pada konteks masyarakat perkotaan, Williams dan Lew (2015) mengatakan: “Dalam masyarakat yang mengglobal, yang dulu tampak berbeda sekarang familiar. Keharusan untuk melakukan perjalanan demi menemui perbedaan perlahan surut. Karena pengalaman terhadap budaya, praktik, selera, dan fesyen yang asing kini sudah melekat secara rutin di kehidupan sehari-hari tiap orang.”

Williams dan Lew mungkin benar. Terlebih di Indonesia yang bhinneka. Sejak kecil saya dikelilingi orang-orang dari beragam budaya dan agama di keluarga, lingkungan sekitar, dan sekolah. Sebelum mengenal konsep “keberagaman budaya,” saya sebenarnya sudah hidup di dalamnya. Dan saya pasti bukan kasus tunggal.

noken khas papua

Menggendong anak dengan noken/Dewie Suwiryo

Terutama di perkotaan, pertemuan budaya terjadi setiap harinya. Kita tak perlu keluar kota dan jalan-jalan untuk menjumpai budaya yang berbeda. Tapi, anehnya, jalan-jalanlah yang membuat saya menyadari betapa beragamnya negeri ini.

Mengapa? Bagaimana saya bisa lebih memahami keberagaman budaya Indonesia lewat perjalanan, dan bukan di rutinitas sehari-hari? Pertanyaan ini susah, jadi yang bisa saya berikan cuma sekadar hipotesis, jawaban sementara.

Saya meminjam ide psikolog Gordon Allport (1954), yang mencetuskan contact theory saat meneliti tentang prasangka (prejudice). Menurutnya, ketika orang-orang dari latar belakang budaya berbeda menjalin interaksi langsung, mereka kemungkinan besar akan memahami satu sama lain dengan lebih baik.

Dalam konteks perjalanan, yang penting bukan hanya adanya kontak langsung, tapi di mana kontak itu terjadi. Saya rasa, itulah pentingnya kontak langsung dengan orang dan budaya yang berbeda di lokal (locale) yang spesifik. Kota tidaklah cukup, karena kota bukan locale “asli” dari banyak orang yang tinggal di sana. Misal, bapak saya asal Toraja. Meski lama hidup di Depok, locale orisinilnya Tana Toraja. Di sanalah kebudayaan Torajanya berpusat. Demikian pula para “pendatang” lain.

Saya ingin mengutip teman saya, Timoti Tirta. Katanya, “Alam yang beda menghasilkan budaya dan cara hidup yang berbeda. Budaya dan cara hidup yang beda menghasilkan karakter yang berbeda. Dengan traveling ke mana-mana, kita bukan hanya melihat pemandangan. Kita juga belajar tentang orang-orang yang tinggal di alam lingkungannya. Itu yang membuka pikiran kita. Jadi tak sempit lagi. Kita jadi bisa menerima perbedaan satu sama lain karena kita paham bahwa latar belakang alamnya berbeda.”

Memperbarui keindonesiaan

Mari merangkum sejenak tentang “bahan-bahan” yang telah saya bahas di atas. Pertama, pertemuan budaya yang aktif dan mindful. Kedua, pertemuan itu terjadi di setting yang lokal. Ketiga, kontak langsung dengan orang dan budaya yang berbeda. Keempat, reflektif terhadap pertemuan dan kontak tersebut.

Argumen saya, meminjam Franklin (2003), traveling bisa menjadi mekanisme simbolis di mana arti menjadi Indonesia (a sense of being Indonesian) diperbarui. Kita mengaitkan perjalanan kita di berbagai tempat di Indonesia dengan identitas, kebhinnekaan, dan keindonesiaan yang kita miliki.

Bhinneka Tunggal Ika jadi bukan sekadar konsep, tapi kenyataan yang telah terbukti. Setelah itu, kita jadi memahami bahwa kita hanyalah bagian kecil dari negeri yang beragam ini. Dan itu semua bisa terjadi karena kita telah keluar rumah, kita telah bertemu dengan budaya yang berbeda-beda, dan kita telah bercermin.

Proses-proses itu telah memperbarui keindonesiaan kita. Tapi, penting untuk diingat bahwa menjadi Indonesia itu proses untuk selalu menjadi (always becoming). Proses yang tak pernah selesai. Dan, jalan-jalan hanya satu bagian kecil dari proses tak berkesudahan itu.


*Tulisan ini disadur dari tugas kuliah penulisnya, dengan judul asli “Let’s Travel and Meet Locals: Moment of Truth for Indonesian Travellers,” untuk mata kuliah Introduction to Leisure, Tourism, and Environment. Naskah asli ditulis dan selesai pada Oktober 2016 di Wageningen.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Interval

Mengaca pada Sri Lanka, Menilik Pariwisata Indonesia

Interval

Mojok di Diên Biên Phu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *