Interval

Ombak dan Hal-Hal yang (Tak) Diceritakan

Tesis sebenarnya omong kosong? Saya bertanya, pada suatu pagi yang mendung di Mappadegat. Mungkin iya, mungkin tidak. Sebenarnya kita tak perlu selalu menjawab. “To respond, not to answer per se,” kata Meghann.

Maka, pertanyaan sebenarnya bukanlah antonim untuk jawaban. Yang ditanya, tak perlu terjawab. Tapi setidaknya ada respon. Ada alasan untuk babibu dan aiueo agar hari terasa lebih pendek. Ini penting, karena di sini siang hari terasa begitu panjang. Bangun terlalu pagi, siang yang lowong, dan malam yang gegas. Ritme seperti ini mulai menjadi darah di dalam nadi. Saya lupa caranya bangun siang.

ombak

Ombak Nipussy/Sarani Pitor

Kultur memasung kita. Dan melupakan hal-hal yang sebenarnya, merangkumnya jadi “subtil,” jadi latar untuk praktik, kebudayaan, dan simbol-makna. Ia tak lebih dari representasi.

Ombak sebenarnya adalah semacam tragedi

Ombak, misalnya. Orang-orang lebih tertarik pada surfing, entah ia sebagai kebudayaan, atau praktik (olahraga, waktu luang, hobi, apapun itu), atau simbol kebebasan. Tapi tak banyak yang peduli pada ombak sebagai materiality. Mungkin ia telah menjadi taken-for-granted. Kita tak perlu membahasnya, karena untuk apa membahas ombak? Tapi kita bisa meresponnya dengan pertanyaan, dan pertanyaan baru, hingga ia menjadi semacam teka-teki yang tak tuntas.

Pada suatu malam di Padang. “Ombak itu pembunuh,” katanya di warung makan Ampera. Mukanya menyiratkan keseriusan, membentuk semacam adegan: ia duduk di atas pompong, dengan mata yang pucat, dan doa-doa yang dirapal dengan tergesa-gesa.

Di lautan, ombak-ombak itu meraung, berteriak, dan memecah. Ombak sebenarnya adalah semacam tragedi, karena ia adalah patahan-patahan gelombang. Peselancar bermain di areal yang patah-patah itu. Mereka menemukan kesenangan pada apa yang telah patah. Yang patah itu bisa jadi mengerikan, membentuk trauma, atau alasan untuk menghindar.

Tapi tak ada cara memunggungi lautan. Di sini, laut adalah kewajiban yang harus diselesaikan. Orang-orang harus melaluinya untuk memeluk sanak famili, atau membeli bahan makanan di kedai-kedai di Siberut, atau menyantap ikan di malam hari. Ia adalah kenyataan yang tak bisa ditunda—sama seperti tesis.

ombak

Ombak Bengbeng/Sarani Pitor

Suka tak suka, mau tak mau, manusia harus berhubungan dengan laut. Ini bukan perintah, tapi cara untuk merespon kehidupan. Hubungan itu intens, erat, lekat, sehingga kadang-kadang ia sulit dipahami. Ia telah jadi terlalu sehari-hari. Laut dan manusia telah jadi satu, bukan lagi dua, seperti Sonnet XVII-nya Neruda.

Karang-karang tajam Nipussy

Nipussy adalah jalan yang panjang: karang-karang yang tajam, lalu lumpur setinggi lutut, dan “tanaman-tanaman liar tak tahu malu” (mengutip Dialog Dini Hari).

Silainge-silainge¹ ini menuju ombaknya, dengan papan selancar yang lengket di tangannya, dan sunscreen yang memagari wajahnya dari sinar ultraviolet. Setelahnya adalah kontras. Di Nipussy, saya tak melihat orang-orang bermuka pucat, yang menahan kencing, di dekat ombak yang menggulung. Ketakutan itu lenyap, berubah jadi semacam dansa. Mereka berenang ke tengah laut, menunggu ombaknya, dan menari. Dan menari. Dan menari. Mereka pulang dengan barrel.

Nuansa penghindaran (avoidance) dan pertemuan (encounter) membentuk hubungan manusia-ombak di sini. Tapi, dari mana ia berasal?

Ingold mengajak kita melupakan mantra “everything is socially constructed. Ia merayu kita untuk lari dan bebas dari penjara-penjara konseptual Cartesian. Engagement adalah kata kunci. Berkali-kali, istilah itu diulang-ulang. Dengan berbagai adjektiva yang kadang sederhana dan kadang rumit: perceptual engagement, sensory engagement, blablabla. Intinya, persepsi (atau makna, meaning?) tak lahir dari buah pikiran manusia, apriori interaksi dengan lingkungan sekitar. Persepsi lahir ketika manusia bersentuhan dengan lingkungan.

Masalahnya, kata dia, “Sometimes we fail to interpret what we perceive. Di situlah peliknya turun-lapangan berpilin dengan kemalasan tropikal.

Ketika Ingold bicara lingkungan, ia tak bicara dalam kerangka berpikir ala metafisika Barat, di mana nature-culture terpisah secara ontologis. Buatnya, pemisahan-pemisahan itu tak ada. Ingold cukup rumit, tapi ia melenakan. Mirip seperti Adorno. Bedanya, ia bicara dengan istilah-istilah yang sederhana. Ia tak perlu memakai kata-kata sulit seperti Marxis-Marxis itu. Tapi, bukan berarti ia tak politis. Sebenarnya, yang ia ajukan adalah gugatan terhadap kemapanan ontologi. Secara “politis,” engagement adalah senjata yang ia tawarkan agar manusia melepaskan superioritas atas non-manusia, dan belajar merangkul anjing, laut, langit, bulan, matahari, tanah, kecoak, daun singkong, dan lain-lain sebagai “brothers and sisters. Mereka bukan tabula rasa yang harus kita isi dengan makna. Makna lahir dari pertemuan kita dengan mereka.

“Langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia”

Maka, kita harus menggali soal materiality. Setidaknya, ada dua hal yang selalu keluar dari mulut teman-teman di sini ketika kita bicara tentang ombak: karang dan besar.

Keduanya adalah bagian dari karakter ombak Mentawai, yang tak terpisahkan. Hampir semua ombak Mentawai adalah ombak karang. Saya dengar ada satu ombak pasir di Taileleu. Sedangkan, urusan besar-kecil selalu relatif, tergantung cuaca dan faktor-faktor alam lain (gelombang samudera, arah angin, waktu pasang surut/naik). Setidaknya, ombak Mentawai cukup konsisten. Di hari-hari bulan Desember, tetap akan ada ombak untuk diajak menari. Karang dan ukuran ombak mendasari ide avoidance-encounter tadi. Tapi, ini tak sepenuhnya tentang selancar.

“Surfing” di Mentawai via Hiber

Di Mappadegat, orang-orang membahas ombak dengan keintiman yang sejajar. Ombak tidur, misalnya, untuk bilang “tak ada ombak hari ini” atau “ombak kecil.” Di pinggir pantai, hampir setiap pagi, banyak orang pergi ke bibir pantai untuk mengecek ombak hari ini. Lupakan Accuweather atau Buienradar. Di sini orang berkawan dengan cuaca, laut, langit, dan tanda-tanda alam dengan atensi yang tak bisa saya pahami.

Suatu pagi, Mamak bilang ke saya, “Jam 12 nanti hujan.” Dan benar saja, tepat jam 12. Bagaimana ia bisa tahu masih jadi misteri bagi saya. Saya mengingat Banda Neira: “langit dan laut, dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia.”


[1] Silainge adalah kata dalam bahasa Mentawai yang artinya bujang/anak laki-laki—ed.

Pemutakhiran terakhir 25/01/18 6:58 am.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
#dirumahajaInterval

“Staycation” di Rumah

Interval

Githa Anathasia: Memberdayakan Masyarakat Arborek untuk Pariwisata Berkelanjutan

Interval

Rizki Kelimutu: Bicara soal Perempuan di Bidang Teknologi

Interval

Bahaya Laten Heritagisasi

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *