Pilihan EditorTravelog

Sejam di Museum KAA: Pedagogi Dekolonial?

Pada suatu siang akhir pekan yang cerah, saya berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Ceritanya saya mesti menunggu jadwal kereta selama tiga jam. Jadi, daripada bengong-bengong di stasiun, saya berangkat ke kawasan Braga.

Sebenarnya, saya tak terlalu suka pergi ke museum. Museum pada umumnya disusun dengan framing tertentu, yang sering kali menempatkan heritage dan sejarah sebagai sesuatu yang statis. Saya berangkat ke Museum KAA karena setahun ke belakang sedang asyik mempelajari pemikiran dekolonial (decolonial thinking) yang konon akar historisnya terletak pada KAA Bandung 1955.

Walter Mignolo, cendekia dekolonial asal Argentina, misalnya, menempatkan “Bandung” sebagai momen historis dari gerakan dan pemikiran dekolonial yang bertahan hingga kini, baik di situs-situs resistensi di ruang publik maupun di pergulatan ontologis-epistemologis di ranah akademik. KAA Bandung 1955, yang mengumpulkan delegasi negara-negara Asia dan Afrika di tengah iklim Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (kapitalisme dan komunisme), adalah gebrakan yang tak disangka-sangka kala itu.

museum kaa
Pengunjung melihat-lihat koleksi museum Konferensi Asia Afrika (KAA) via TEMPO/Prima Mulia

Kita mesti membayangkan hidup di zaman itu untuk menyadari betapa revolusionernya momentum KAA. Di saat dunia seperti hanya diberi dua cara berpikir (ala AS atau Soviet), tiba-tiba saja sekelompok orang datang dengan gagasan bahwa jalan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya itu mungkin. Menurut Mignolo, yang ditawarkan KAA 1955 saat itu adalah “pemisahan” (delinking) dari dua narasi besar Barat.

Berawal dari KAA 1955 sebagai fondasi politis dan epistemiknya, pemikiran dan gerakan dekolonial tak hendak mengajukan nilai universal baru (yang mendaku sebagai satu-satunya yang paling benar), tapi memberikan opsi-opsi yang beragam. Secara inheren, yang digugat oleh decolonial thinking adalah praktik, pemikiran, dan nilai yang berangkat dari tradisi pemikiran dan pengalaman Barat, yang sering kali mengabaikan dan bahkan membunuh keragaman cara berpikir, cara berimajinasi, cara berkehidupan, cara bercerita, dan lain-lain.

Artefak-artefak: yang bungkam dan bersuara

Singkatnya, saya masuk ke Museum KAA dengan gagasan-gagasan di atas. Diorama Pembukaan KAA 1955 memulai tur saya. Soekarno berdiri di podium, sedangkan tokoh-tokoh penggagas KAA lain duduk di belakangnya. “This is the first intercontinental conference of so-called colored people in the history of mankind,” kira-kira begitulah saya membayangkan Soekarno berpidato, saat membuka peristiwa bersejarah itu.

Dalam banyak telaah setelahnya, kategori “colored people” yang dipakai Soekarno menuai pujian dan kritik. Di satu sisi, kategori itu dimaknai sebagai penolakan terhadap narasi modern/kolonial sebelumnya yang mengabaikan eksistensi orang non-putih dalam kancah politik. Di sisi lain, meski secara epistemik mendobrak tatanan politik global, kategori “colored people” pun mesti dilihat secara kritis; karena yang namanya kategori hampir pasti akan membawa serta klasifikasi beserta logika kontrol dan eksklusi di dalamnya.

Setelah diorama, tur berlanjut dengan berbagai artefak yang menggambarkan suasana KAA 1955 secara deskriptif, baik berupa benda-benda yang dipakai di KAA (meja, kursi, mesin ketik, dll.), foto-foto (suasana konferensi, kedatangan delegasi, wawancara jurnalis dengan tokoh, ramah tamah, dll.), dan piagam Dasasila Bandung dalam berbagai bahasa. Beberapa kutipan dari tokoh-tokoh yang hadir juga menghiasi tur. Misalnya, kutipan Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India kala itu, yang menyebut Bandung sebagai ibu kota Asia dan Afrika.

museum kaa
Potongan-potongan berita di media tentang Konferensi Asia Afrika/Sarani Pitor Pakan

Selain itu, ada dua bagian lain yang dimunculkan oleh Museum KAA, yaitu hal ihwal pra- dan pasca-konferensi. Konteks-konteks yang melatari terjadinya KAA 1955 pun dijelaskan selama tur. Salah satu tembok menjelaskan soal imperialisme, rasisme, dan Perang Dingin, sedangkan tembok lain memaparkan pertemuan-pertemuan yang mendahului KAA (Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, dan Konferensi Bogor).

Pula, dampak-dampak yang dihasilkan KAA 1955 juga dipamerkan di dalam museum. Saya membaca bagian ini sebagai justifikasi atas keberhasilan KAA. Salah satu tembok mendaftar negara-negara yang merdeka setelah KAA 1955. Selain itu, ada banyak kliping berita media massa tentang momen KAA. Dampak-dampak KAA lain pun diutarakan dengan kentara, misalnya hubungan KAA dengan lahirnya Gerakan Non-Blok dan terbentuknya berbagai asosiasi yang melibatkan orang-orang dari Asia dan Afrika.

Museum sebagai pedagogi: yang dekolonial dan bukan

Mari kita berandai-andai bahwa salah satu tujuan museum adalah agar pengunjung bisa belajar sesuatu. Jika demikian, apa yang kita dapat dari tur sekilas di Museum KAA? Apakah ia berhasil memberi kita semacam pedagogi dekolonial, atau hanya sekadar selebrasi nasionalistik atas keberhasilan Indonesia menyelenggarakan KAA? Apakah kita hanya melihat KAA sebagai momen yang menempatkan Indonesia di panggung internasional, atau berusaha memahami kompleksitas kolonial, poskolonial, dan dekolonial yang terkandung di dalamnya?

Berswafoto di dalam Museum KAA via TEMPO/Prima Mulia

Setelah kunjungan ke Museum KAA tersebut, saya membaca sebuah tulisan yang asyik, yang berupa dialog antara Rosalba Icaza dan Tamara Soukotta, dalam monograf berjudul “Meanings of Bandung” (2016), Soukotta, asal Maluku (Indonesia), menggugat perihal apakah KAA Bandung 1955 benar-benar merupakan momen dekolonial, karena menurutnya konferensi itu tak benar-benar menggambarkan realitas (pos)kolonial yang kompleks di Indonesia. Misalnya, saat KAA 1955 berusaha merayakan keragaman di luar narasi kapitalisme-komunisme, proses politik yang menjadikan Indonesia ada adalah unifikasi, di mana perbedaan-perbedaan dimasukkan ke dalam kotak besar bernama NKRI. Apakah itu dekolonial?

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu tak muncul di dalam Museum KAA. Ia justru hadir ketika saya keluar dari gedung peninggalan penjajah itu, ketika saya membuka lagi buku-buku serta pikiran saya untuk memahami (ulang) apa sebenarnya KAA 1955. Sejarah bukanlah sesuatu yang statis. Ia tumbuh, bergerak, berubah, dan bertransformasi terus. Adalah pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya dinamis. Dan pertanyaan-pertanyaan itu, dalam kasus saya, bisa saja didorong oleh tur sekilas di museum (sembari menunggu kereta).


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Travelog

Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Travelog

Mencari Udara Segar di Gunung Penanggungan

Travelog

Pulau Talango dan Kenangan Manis di Seberang Madura

Travelog

Rumah-rumah Tak Berpagar di Kampung Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *