Travelog

Menjadi Vegetarian di Mie Kopyok Pak Dhuwur Semarang

Mi kuningnya cukup kenyal dan tak begitu tipis, seperti mie kocok di Bandung. Tahu pong yang sudah diiris tipis di atasnya punya tekstur krispi di luar namun lembut di dalam. Keduanya menyembunyikan potongan lontong yang menguarkan wangi daun pisang. Juga, taoge yang krenyes segar tanda belum matang sempurna. Remahan kerupuk gendar mengelilingi piring bersama dengan bawang goreng dan daun seledri. Kuahnya light bening kecokelatan dengan aroma bawang putih yang menguar. Kecap hitam pekat dan sambal tak lupa jadi tambahan. Itulah sepiring Mie Kopyok Pak Dhuwur, Semarang.

Tak ada niat sebenarnya untuk wisata kuliner atau menyambangi destinasi unggulan di Ibu Kota Jawa Tengah pertengahan Juni lalu. Niat saya hanya tok bertemu dan ngobrol dengan beberapa kawan yang memang berdomisili di Semarang. Saya pun semula hanya akan menghabiskan waktu semalam, numpang menginap di kos salah seorang kenalan saat ke Maluku dulu. Meskipun demikian, tetap saja saya digiring semesta untuk wisata kuliner.

mie kopyok pak dhuwur semarang
Suasana Mie Kopyok Pak Dhuwur Semarang/Dewi Rachmanita Syiam

Ceritanya, dalam perjalanan menuju Stasiun Poncol, perut saya mulai keroncongan tanda minta diberi asupan makanan. Iseng berselancar di dunia maya, muncullah nama “Mie Kopyok Pak Dhuwur.” Awalnya saya tak begitu tertarik. Dari gambar yang saya lihat di internet, yang disajikan di Mie Kopyok Pak Dhuwur lazimnya olahan mi pada umumnya. Sekilas mirip sekali dengan mie kocok di Bandung.

Tapi, ternyata ada yang istimewa dari penganan asli Semarang itu, yakni penyajiannya yang tanpa daging-dagingan. Ini makanan cocok sekali untuk vegetarian. Sebagai anak muda yang (sok) ingin belajar jadi vegetarian—meskipun sebenarnya tak suka sayuran—saya lekas berlalu menuju Mie Kopyok Pak Dhuwur di Jalan Tanjung. Lokasi itu cuma sekitar 400 meter dari Stasiun Poncol, Semarang.

mie kopyok pak dhuwur semarang
Mi kuning, taoge, dan bahan-bahan lain untuk meracik mie kopyok/Dewi Rachmanita Syiam

Aroma bawang putih yang menguar

Lima menit setelah memesan, sepiring penuh mie kopyok tersaji di depan saya, lengkap dengan es teh manis untuk mendinginkan siang yang membara di Semarang. Aneka rupa bahan berpadu, saling tumpuk dalam piring. Lapisan paling bawah lontong, lalu berurutan taoge, mi kuning, seledri, bawang goreng, dan remahan kerupuk gendar. Kuah turut membanjiri piring tanpa mengubah tekstur gendar, pertanda gendar ditabur belakangan.

Sengaja saya tak mengaduk dulu mie kopyok itu agar bisa mencicipi kuahnya yang “ringan.” Saat saya sendok, aroma bawang putih tercium begitu kuat, begitu pun saat kuah itu menyentuh lidah saya. Belakangan saya tahu bahwa kuahnya yang cenderung asin-gurih itu, yang bercampur dengan manisnya kecap kental-manis, terbuat dari bawang putih yang diulek halus lalu dilarutkan dalam air.

Saya coba komponen mie kopyok lain, yakni remahan gendar kecokelatan. Di beberapa daerah, kerupuk yang terbuat dari adonan nasi dengan bumbu itu disebut kerak atau kerupuk puli. Mengunyahnya di dalam mulut dan menikmati kerenyahannya membangkitkan kenangan lama. Memori saya melayang ke masa kecil saat mbok-mbok penjual pecel dan kerupuk gendar biasa lewat depan rumah. Begitu dicelupkan ke kuah, kelezatannya makin menggoyang lidah.

mie kopyok pak dhuwur semarang
Seporsi mie kopyok terhidang di meja/Dewi Rachmanita Syiam

Sendok saya lalu bergerak ke potongan-potongan lontongnya yang dermawan alias lumayan banyak dan besar. Warnanya agak kehijauan dengan aroma daun pisang yang cukup kentara. Ini tanda bahwa lontong memang dikukus secara apik dan lama terkungkung dalam balutan daun pisang. Tentu kamu bisa membayangkan sendiri bagaimana aromanya.

Penjelajahan rasa pun berlanjut ke taoge yang sengaja saya pesan untuk disajikan dalam porsi kecil. Kecambah-kecambah itu masih krenyes karena memang sengaja dimasak tidak sempurna, medium well. Sementara itu tahu pong digoreng sampai matang sempurna alias well done. Kulitnya yang cokelat dan renyah bertolak belakang dengan bagian dalamnya yang putih lembut. Sepintas mirip tahu Sumedang yang disajikan dalam ukuran lebih besar.

kerupuk gendar
Kerupuk gendar yang jadi “topping” mie kopyok/Dewi Rachmanita Syiam

Bintang utama mie kopyok, mi kuning, jadi komponen terakhir yang saya coba. Mi yang tak begitu tebal itu cukup kenyal. Begitu mengunyahnya, ingatan saya langsung lari ke mie kocok di Bandung. Namun, tentu saja mie kopyok ala Pak Dhuwur beda dari mie kocok ala Bandung. Apalagi, demi menjaga autentisitas rasa, mi kuning diproduksi sendiri oleh Mie Kopyok Pak Dhuwur.

Setelah mencoba komponen mie kopyok satu per satu, saya lantas mengaduknya secara merata. Saya memotong lontong, lalu mi kuning, taoge goreng, remahan kerupuk gendar, lalu menenggelamkan semuanya dalam kuah bercampur bawang goreng dan daun seledri. Kombinasi rasanya sungguh menarik, meskipun rasa gurih dan manis kecap masih mendominasi.

Sebagaimana halnya semangkuk bakso, menghabiskan seporsi mie kopyok di Pak Dhuwur yang cuma Rp13.000/porsi tidak berat. Bagi sebagian pelanggan, barangkali mie kopyok ini hanya jadi pengganjal perut.

mie kopyok pak dhuwur
Tahu pong “well done” yang melengkapi kelezatan mie kopyok/Dewi Rachmanita Syiam

Semula, olahan mi yang juga disebut mie lontong, mie kere, atau mie teng-teng ini hadir lewat gerobak-gerobak yang didorong keliling kampung. Penjualnya biasa mengundang pembeli lewat suara teng-teng-teng yang keluar dari piring yang dipukul dengan sendok. Dagangan itu pun kemudian tenar sebagai mie kopyok karena sebelum disajikan di-kopyok-kopyok dulu dalam air panas.

Sejarah Mie Kopyok Pak Dhuwur juga berawal dari gerobak. Pelan-pelan, dari jalanan kampung, Mie Kopyok Pak Dhuwur makin berkembang sampai akhirnya punya empat cabang, salah satunya di Jakarta. Sebagai bentuk adaptasi dengan zaman, tempat makan legendaris ini juga sudah mulai menerima pembayaran berupa uang elektronik.

Namun, meskipun terus menyesuaikan diri dengan zaman, ada satu hal yang stagnan dari Mie Kopyok Pak Dhuwur: cita rasa yang diturunkan turun-temurun.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Pala, Muara, dan Kejora (3)

Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Travelog

Belajar Memilah Sampah "Iso Bosok" dan "Ora Iso Bosok" di Kongres Sampah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *