Itinerary

Meresapi Makna dan Harapan dari Makanan Khas Imlek

Setelah bekerja di Jakarta, aku hanya pulang sekali dalam sebulan ke rumah ibu di Bandung. Bahkan, kalau ada kerjaan di akhir pekan, aku terpaksa tidak pulang. Tapi karena besok Imlek, tentu aku harus pulang hari ini.

Ketika aku tiba di rumah, ibu sedang membuat beberapa cemilan, aku melihat ada bahan-bahan untuk membuat lumpia dan pangsit di atas meja. Makanan ringan yang biasanya disajikan saat Imlek dan memang biasanya kami buat sendiri di rumah.

Aku pun bergegas mandi, mengganti pakaian, dan setelah urusan beberes usai, aku langsung membantu ibu di dapur. Sebelum membuat pangsit aku akan membuat lumpia terlebih dulu.

Lumpia yang Memiliki Filosofi Tentang Harapan Akan Kemakmuran dan Kekayaan

Lumpia bisa tersaji sebagai makanan pembuka atau makanan ringan. Bentuknya yang terlihat seperti batangan emas, menjadi simbol harapan untuk kemakmuran dan kekayaan. Kulit lumpia terbuat dari tepung, air, dan garam. Untuk isinya tergantung selera. Di keluargaku biasanya membuat lumpia dengan isi sayuran seperti wortel dan kol juga daging ayam. Wortel dipotong bentuk korek api, sementara kol diiris tipis dan keduanya kemudian ditumis bersama ayam yang sudah ditambahkan bumbu berupa bawang merah, bawang putih, lada, dan garam.

Setelah isiannya matang, letakkan sekitar dua sendok isian ke kulit lumpia, kemudian gulung dan rekatkan tepinya dengan putih telur. Lalu goreng hingga kulitnya berwarna keemasan. Aku sudah membayangkan memakan lumpia beserta sausnya. Hmm… Pasti rasanya enak sekali!

Pangsit, untuk Hidup yang Penuh Keberuntungan

pangsit imlek
Pangsit via Tempo.co

Setelah menggoreng beberapa pangsit yang kami rasa cukup untuk dimakan bersama keluarga, kini giliran membuat pangsit. Bentuk pangsit yang seperti bungkusan ini diyakini sebagai bungkusan keberuntungan. Setelah memakannya, diharapkan hidup akan semakin kaya dan sejahtera.

Kita juga berharap meninggalkan masa lalu di belakang dan siap untuk menyambut hal baru yang lebih baik di tahun baru. Untuk menghidangkannya bisa berupa pangsit rebus atau pangsit goreng. Semuanya enak! Tapi kami memilih untuk direbus.

Sedangkan untuk isiannya juga sangat variatif, bisa diisi daging, sayuran atau telur. Sesuaikan saja dengan selera. Kalau pangsit yang kami buat isinya udang, karena aku suka sekali pangsit dengan isi udang.

Kue Keranjang, tentang Kesuksesan dan Kerukunan Keluarga

kue keranjang
Kue keranjang via TEMPO/ Aditya Herlambang Putra

Selain pangsit dan lumpia, yang biasanya pasti ada di rumah kami tentu saja kue keranjang. Tapi, untuk kue ini kami tidak bikin sendiri. Biasanya kami beli saja. Karena membuatnya lumayan cukup sulit.

Kue keranjang adalah kuliner khas imlek yang jadi favorit aku sejak kecil. Bentuknya yang menyerupai keranjang dan rasanya yang seperti dodol manis ini sangat khas sekali. Aku selalu merindukannya, karena kue ini memang pada umumnya hanya dapat ditemukan pada saat perayaan tahun baru Imlek saja.

Sesuai namanya, kue keranjang memiliki wadah cetak berbentuk keranjang. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula. Teksturnya kenyal dan lengket, punya arti menjadi harapan akan keharmonisan keluarga. Bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Nama asli dari kue keranjang adalah Nian Gao. Kue ini melambangkan keinginan untuk sukses dan memiliki kehidupan yang lebih tinggi setiap tahun, yang berarti juga tahun baru ini harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Aku suka menyantap kue keranjang sebagai makanan penutup atau jadi cemilan.

Jeruk Sebagai Lambang Pembawa Rezeki dan Kebahagiaan

Jeruk Imlek
Pohon jeruk yang dipercaya warga keturunan Tionghoa membawa keberuntungan via TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Jeruk yang tampak seperti matahari dianggap sebagai simbol hal yang positif, mewakili keberuntungan dan kebahagiaan. Jeruk juga biasanya menjadi hadiah untuk kerabat karena dianggap membawa berkah baik. Jenis jeruk Imlek pada umumnya adalah jeruk mandarin. Di rumah kami sudah tersedia juga sekeranjang jeruk dengan warna oranye cerah yang cantik.

Selain makanan ringan, tentu saja akan ada makanan berat yang tersaji juga saat perayaan Imlek. Selain lumpia, pangsit, kue keranjang dan jeruk, biasanya di rumah kami akan tersaji ikan rebus, ayam rebus, juga yee sang dan mie panjang umur.

Tentang Makanan dan Harapan

Aku melihat sudah ada beberapa kue keranjang di meja makan. Ibu kemudian mengambil salah satu kue keranjang dan memandanginya. Ibu pun mengucapkan harapannya di hadapanku. Dia berharap agar keluarga kami tidak ada yang hidup terpisah.  Terlebih untuk keluarga kakakku yang tengah ada masalah dalam rumah tangganya.

Aku selalu senang dengan perayaan Imlek, terutama makna di balik makanan-makanan yang tersaji di atas meja. Memang segala hal dalam hidup tidak ditentukan oleh makanan. Tapi mengetahui filosofi dan harapan-harapan dari makanan itu, membuatku jadi lebih memaknai apa pun yang ada di sekitar kita. Sesederhana makanan yang kita konsumsi mengandung doa dan harapan yang begitu dalam.

Hidup memang tidak seketika berubah dengan memakan sesuatu, tapi dengan meyakini bahwa adanya harapan yang lahir dari hal-hal yang terhidang dan tersaji, bisa bikin kita juga jadi lebih optimis dan positif memandang hidup.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Sepiring Hidangan yang Tak Biasa

Itinerary

5 Tips Memilih Tempat Makan di Destinasi Wisata

Itinerary

Mengenal Desa Boti, Nusa Tenggara Timur

Itinerary

6 Destinasi Ekowisata di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *