Itinerary

Menyingkap Cerita Adat Istiadat di Kampung Tarung, Sumba Barat

Tokoh pendiri Bangsa, sekaligus Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno pernah berkata “Jangan pernah melupakan sejarah.” Sebuah petuah bijaksana untuk mengingatkan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar, agar tidak melupakan sejarah. Termasuk sejarah siapa, dan bagaimana kita menjadi sebuah bangsa.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, tersebar jejak sejarah yang merekam asal muasal Indonesia, hingga ke peradaban yang membentuk kebudayaan kita hingga saat ini.

Kebudayaan besar yang paling mudah diidentifikasikan oleh para peneliti adalah Megalitikum, sebuah zaman Batu dimana manusia mulai mengenal peralatan untuk membantu kehidupan, mulai dari bercocok tanam, mengolah makanan, dan sebagainya. Pada periode ini kita juga bisa menemukan makam, arca, dan bangunan khas periode megalitik.

Kampung Adat Tarung via Instagram/mujisrv

Situs megalitik yang cukup terkenal di Indonesia ada banyak, namun yang cukup menarik perhatian dari semuanya adalah Situs Gunung Padang dan Kampung Tarung yang berada di Sumba Barat. Keberadaan Kampung Tarung tidak terpisahkan dari peta perkembangan manusia, dengan persebaran bangsa dan budaya Austronesia di bagian selatan bumi. Di Kampung Tarung, kita bisa menemukan kawasan dan masyarakat adat yang hingga sekarang memegang teguh tradisi sejak zaman megalitik.

Bentuk bangunan megalitik seperti kubur batu dolmen, batu tegak dengan berbagai pahatan,  hingga susunan batu temu gelang dan teras berundak. Di kampung ini merekam semua tradisi megalitik Sumba, dimana setiap bangunan megalitik yang sudah dipahat dengan kualitas batu berukuran tinggi. Dalam pahatan tersebut terkandung makna kehidupan manusia, binatang, objek langit seperti matahari, bulan, dan bintang.

Diluar megahnya benda-benda peninggalan tersebut, ada sebuah keteguhan adat istiadat yang terus dijaga oleh masyarakat yang tinggal di kampung adat. Dengan berbagai perkembangan modernisasi yang ada di Waikabubak, Kampung Tarung tetap menjaga teguh nilai budaya dengan mempertahankan bentuk rumah khas.

Salah satu sudut Kampung Tarung via Instagram/bxluckys

Rumah adat Sumba yang dikenal sebagai Uma merupakan bentuk bangunan adat dengan bentuk atap pencakar langit. Jika diperhatikan atap rumah akan berbentuk segi empat, di bawahnya terdapat hunian berbentuk panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu dengan kerangka utama tiang turus, masyarakat menyebut ini sebagai Kambaniru Ludungu—sebuah pilar sebanyak empat batang.

Dalam agama Marapu, Uma menjadi tempat yang sangat sakral, terlihat dari pembagian-pembagian rumah. Di bagian atas digunakan untuk menyimpan senjata Pusaka atau terkadang hasil panen, bagian ini dikenal dengan Toko Uma.

Marapu sendiri merupakan kepercayaan dinamisme, yang mempercayai bahwa arwah nenek moyang atau leluhur yang telah meninggal tetap hidup ditengah-tengah mereka. Inti kepercayaan Marapu adalah kepercayaan akan adanya wujud Ilahi yang dinamakan “Mawolu Marawi” atau “pencipta segala sesuatu” yang berkuasa atas hidup matinya manusia serta seluruh alam dan iman (leluhur). Tidak heran perwujudan marapu dalam lingkungan akan diwakilkan sebuah batu besar yang berada di tengah lingkungan kampung, dimana para leluhur akan bersemayam di situ, berdampingan dengan mereka yang masih hidup, dikelilingi oleh bangunan Uma.

Bagian tengah Bei Uma yang tidak menyentuh tanah, terdapat kisi untuk membedakan ruang akses pria dan wanita. Di bawahnya ada area diskusi atau menyambut tamu, sehingga tidak mengganggu ruang tinggal pemilik rumah, menjaga privasi dari kehidupan luar. Dan bagian paling bawah terdapat Kali Kabunga, sebuah area untuk menyimpan ternak.

Uma via Instagram/diahhermanto

Masyarakat di Kampung Tarung mengadaptasi nilai adat bila seseorang memiliki status tertinggi, maka posisi rumahnya berada di posisi yang tertinggi, walau pola pemukiman masyarakat Kampung Tarung tidak memiliki pola tertentu, namun lebih kepada memperhatikan topografi setempat.

Namun setiap peletakan rumah akan mengikuti kebiasaan agar tidak menghadap ke barat atau timur. Pada ajaran Marpau, bila rumah menghadap ke barat, penghuni akan mengalami penyusutan, dan bila menghadap ke timur akan mendatangkan bahaya. Pola pemukiman masyarakat di Kampung Tarung terdiri dari rumah-rumah yang akan diorganisir mengelilingi suatu ruang terbuka, istilah ini dikenal sebagai Talora. Di dalam Talora akan terdapat kubur batu, dolmen, meja altar, monument batu yang berfungsi untuk upacara-upacara adat oleh masyarakat dalam satu area tersebut.

Gotong royong masyarakat Kampung Tarung via Instagram/maspotoinmas

Dengan pemahaman ini, kita bisa belajar bahwa masyarakat di Kampung Tarung memegang teguh keluarga dalam satu lingkungan besar di kehidupan bermasyarakat, masing-masing berperan untuk melindungi dalam satu lingkungan tertutup yang dikepalai oleh tetua adat, rumah yang memiliki posisi paling strategis atau paling atas pada susunan Talora tersebut.

Untuk menuju Kampung Tarung tidak terlalu sulit, mengingat lokasinya yang ditengah Waikabubak, dan pemerintah sudah menetapkan daerah ini sebagai desa wisata, banyak warga lokal yang menawarkan paket untuk menjelajah sembari mengenalkan cerita Waikabubak, Sumba, dan Kampung Tarung sebagaimana tulisan yang kalian baca ini.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

ItineraryPilihan Editor

Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *