Interval

Menyanyikan Travelog lewat Folk

Cerita perjalanan itu beragam bentuknya. Beberapa orang mencatat rapi di buku catatan kecil yang dibawanya ke mana-mana saat berkelana. Yang lain berbagi lewat fotografi, video, dan bentuk visual lain semisal gambar coretan tangan. Ada juga yang lebih suka bertutur secara lisan, entah itu di acara kumpul keluarga, kubikel kantor, maupun bar-bar pinggir jalan. Lalu, ada Oscar Lolang yang bercerita lewat lagu.

Come get around, folks, I am gonna tell you story ‘bout my very brief time in Paris, back in twenty twelve,” begitulah Oscar memulai A Bosnian & A Brazilian. Sejak lirik itu, ia menjelma seorang pendongeng, lengkap dengan gitar di tangan. Alkisah, ia pergi liburan ke Paris selama beberapa hari. Kemudian, bla… bla… bla….

Lagu itu ditulis dan dinyanyikan dengan kata-kata yang ugahari. Saat pertama kali mendengarnya, saya merasa sedang duduk di sebuah kafe dan seorang teman bercerita tentang hari-harinya yang singkat di Paris. Sesimpel itu.

Pedestrian di sudut kota Paris/Sarani Pitor

Kesan itu rupanya juga ditangkap Nuran Wibisono, jurnalis musik. Ia mengapresiasi cara Oscar menghadirkan suasana live di lagu itu. “Aku jadi membayangkan bar blues yang sempit dan penuh asap rokok di kawasan Southern sana,” tukas Nuran. Dengan “suasana live” itulah kita dihipnotis menjadi pendengar yang duduk diam dan saksama mendengar travelog yang dinyanyikan Oscar lewat folk.

Oscar tak berusaha puitis di lagu itu. Ia bercerita sedeskriptif mungkin tentang apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan di Paris. Yang ia ceritakan pun bukan hal-hal klise. Oscar tak membahas Eiffel yang tinggi, Louvre yang besar, dan klise-klise Parisien lain. Ia cuma berkisah soal copet yang gagal merampas dompetnya dan gadis cantik yang ia lupa tanya siapa namanya. Itu saja.

Mister Othar yang malang

Selain A Bosnian & A Brazilian, ada satu lagu yang bernuansa perjalanan dalam album Drowning in a Shallow Water, yaitu Mr. Othar’s Vacation Blues. Jika lagu pertama terasa kosmopolitan (pertemuan cowok Indonesia dengan cewek Bosnia dan Brazil dalam konteks urban negara dunia pertama), lagu kedua mengusung kerumitan skala nasional.

Tersebutlah seorang bernama Othar yang tinggal di Bintuni, Papua Barat. Ia ingin jalan-jalan ke Raja Ampat dan Taman Nasional Lorentz, tapi…. “Tapi” itulah yang menjadi tema yang dinyanyikan Oscar. Sebenarnya, lagu itu bercerita tentang ketidakadilan soal akses dan nonsens bernama pemerataan. Menariknya, Oscar memakai pendekatan traveling untuk membahas tema-tema yang krusial itu.

Saya sempat berkorespondensi dengan Oscar via surel. Cerita sendu Othar adalah fiksi yang terinspirasi dari pengalaman seniornya di Antropologi Universitas Padjajaran dan kawannya yang berasal dari Papua.

folk dan perjalanan
Senja di Arborek, Raja Ampat/Widhi Bek

“Mereka cerita kalau orang-orang Papua juga ingin berlibur ke Raja Ampat dan lain-lain, tetapi aksesnya susah dan sangat mahal. Traveling adalah hiburan. Karena tontonan mereka dan kita sama … gambaran mereka tentang hiburan pun bisa sekali sama, tetapi akses tidak sama,” jelas Oscar.

Kita bisa memahami kegalauan Othar di lagu ini. Dibandingkan turis-turis Jakarta yang necis, ia sebenarnya tinggal relatif dekat dengan Raja Ampat dan Lorentz. Namun, kesulitan akses menghalangi keinginannya untuk liburan dan melihat-lihat pulau yang ditinggalinya. “Shit, what am I supposed to do then? Throw away my money for fuckin’ pricey plane?” begitulah Oscar menyuarakan kebimbangan Othar.

Pada akhirnya, Othar memilih tak ke mana-mana. Impiannya untuk berlibur gagal. Traveling memang tak melulu soal hedonisme dan yang asyik-asyik. Lewat kisah Othar, kita bisa jadi lebih paham sedikit tentang sisi lain dari traveling.

Folk dan perjalanan

Apa yang dilakukan Oscar lewat A Bosnian & A Brazilian dan Mr. Othar’s Vacation Blues sebenarnya bukan hal baru. Sudah sejak lama musisi folk mendendangkan tema perjalanan lewat musik mereka. Folk dan perjalanan memang erat. Oscar menduga hal itu tak lepas dari unsur minimalis dalam musik folk dan pengaruh musisi-musisi folk terdahulu.

“Folk adalah musik yang minimalis. Kita bisa ke mana-mana dengan mudah membawa gitar akustik atau instrumen simpel lainnya. Dalam sejarahnya, musisi folk ternama seperti Bob Dylan, Pete Seeger, Woody Guthrie, Neil Young, dan Robert Johnson terkenal dengan riwayat mereka berkelana sambil bermusik, baik sebelum terkenal maupun ketika sudah terkenal. Hal itu menjadi influens bagi musisi folk di zaman berikutnya,” ujar Oscar.

Sebuah mobil Colt L300 melintas di Wamena/Widhi Bek

Nuran Wibisono sepakat soal pengaruh musisi folk mula-mula pada kedekatan folk dengan perjalanan. Musisi folk zaman dulu doyan mengembara, dan yang mereka renungkan di perjalanan tak jarang menginspirasi karya mereka. Nuran menyebut nama-nama seperti Bob Dylan, Tom Waits, Iwan Fals, Leo Kristi, dan Franky Sahilatua. “Leo Kristi malah bisa dibilang pejalan penuh waktu yang kebetulan main musik,” tambahnya.

Di masa kini, musik folk Indonesia pun tak jarang bersentuhan dengan tema perjalanan, baik dalam konteks wisata maupun konteks yang lebih luas, misalnya, soal merantau, migrasi, dan lain-lain. Lagu-lagu dari Silampukau (Puan Kelana dan Lagu Rantau), Kapal Udara (Merantau dan Melaut), dan Float (Pulang) adalah beberapa contoh lagu bertema perjalanan yang disarankan Nuran.

Lagu-lagu di atas mungkin berangkat dari perspektif yang berbeda-beda. Namun, apa pun itu, musik folk telah memberi kita cara lain untuk menikmati/memahami perjalanan dan untuk menghayati travelog. Cerita perjalanan akhirnya tak harus melulu berakhir sebagai caption dan gambar (yang itu-itu lagi) di Instagram.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Womentourism.id: "Women Empower Women"

Interval

Hanifati Radhia dan Pengalamannya Menjadi Pendamping Desa

Interval

Hannif Andy dan Desa Wisata Institute: Gotong Royong Membangun Desa Wisata

Interval

Ranar Pradipto: Mempromosikan pariwisata Indonesia lewat Fotografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *