Travelog

Menjelajah Sumba Timur, Menikmati Air Terjun Waimarang

Sumba selalu mempesona, setidaknya itu yang selalu aku bayangkan ketika menentukan Sumba sebagai tempat untuk liburan. Banyak informasi yang cukup memukau siapapun, bahkan aku sendiri. Keinginan ini sudah lama terpendam, mengingat sumba merupakan tempat yang tidak jauh dari tinggalku sekarang.

Tinggal di Banyuwangi, daerah paling timur pulau Jawa membuat perjalanan ke Sumba sesungguhnya sangat mudah, aku memiliki dua opsi terkait bagaimana hendak menuju Sumba, melalui Darat, maupun melalui Udara.

Jika melalui Darat, aku bisa menggunakan kendaraan pribadi, menuju Pelabuhan Ketapang dan menyebrang beberapa kali hingga akhirnya tiba di Sumba. Atau menggunakan rute tercepat yang semua orang juga bisa lakukan, yaitu menggunakan pesawat. Tinggal pilih saja mana penerbangan yang kita kehendaki, atau setidaknya tiket pesawat yang masuk kedalam budget liburan kita.

Yang jelas, perjalanan ku ke sumba harus direncanakan dengan matang, mengingat tahun ini Jatah liburanku cukup banyak dipangkas oleh kantor pusat. Ya, bekerja di kantor Cabang memang memiliki tantangan tersendiri. Apalagi jika berkaitan dengan target, dan beberapa kali pengajuan cutiku ditolak dengan dalih tidak ada yang bisa menggantikan pekerjaan yang aku lakukan. Dengan demikian, jika hendak mengajukan cuti, maka pertimbangan kantor harus benar-benar mantap.

Jika kalian bertanya kemana aku hendak tuju setiba di Sumba? aku bisa menceritakan sebuah destinasi yang sejak awal dibuka atau banyak diberitakan oleh media, dan membuatku sangat ingin menuju kesana.

Bagi banyak orang, tentu sudah tidak asing dengan Air Terjun Waimarang. Destinasi ini sangat terkenal di awal tahun 2019, dan di saat seperti ini, tempat tersebut cukup sepi dari pengunjung, membuat keinginanku kian membuncah kala mendapat kesempatan untuk mengunjungi Waimarang tanpa ada banyak penumpukan pengunjung yang membuatku kekurangan antusias.

Yap, aku adalah tipikal pejalan yang ingin menikmati kesunyian dari destinasi yang ku kunjungi. Persiapan untuk menuju Waimarang benar-benar ku rencanakan dengan sangat matang, karena ku putuskan menyewa kendaraan untuk menuju kesana, tentu saja tidak sendirian. Aku bukan tipikal supir antar kota yang memiliki stamina layaknya supir profesional. Itu yang membuatku diawal menyebutkan, perjalanan ini benar-benar harus dipersiapkan secara matang.

Destinasi Air Terjun Waimarang sendiri berada di Desa Waimarang, Melolo, Kelurahan Watu Hadang, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur. Lokasinya yang jauh berada di timur setidaknya membuatku berputar mencari informasi jalur mana yang harus aku tempuh untuk menuju ke sana. Ditambah, aku yang bukan warga lokal, membuatku membuka daftar kontak rekanan yang bisa mengantarkan ku untuk menuju ke sana.

Bandar Udara Umbu Mehang Kunda/Sumber

Aku pun mendapat rekomendasi teman perjalananku setiba di sumba, dan kami berjanji untuk bertemu di Bandara Umbu Mehang sembari kendaraan untuk mengantarkanku ke Waimarang disiapkan. Dia adalah salah adik dari kerabatku di kantor, yang kebetulan sedang berkuliah di Sumba, namanya Ridwan. Ridwan pernah berkunjung ke sana beberapa kali bersama rekan satu kampusnya, sehingga dia cukup hafal jalur yang harus kami tempuh.

Untuk menuju Air Terjun Waimarang, menurut Ridwan, kita perlu menempuh perjalanan selama 2 jam. Sehingga kami memastikan kepada perusahaan yang menyewakan kendaraan, agar stamina mobil yang kami gunakan bisa menempuh jalur yang cukup menanjak, termasuk memastikan bensin terisi penuh. Syukur di dekat sini terdapat stasiun pengisian bahan bakar, sehingga kami tidak kesulitan mengisi bensin.

Perjalanan menuju Waimarang dihiasi dengan pemandangan Sabana sepanjang perjalanan, aku seperti mengingat film Marina yang diperankan oleh Marsha Timothy, disitu aku melihat pemandangan Sabana Sumba yang mengagumkan, dan sekarang bisa ku lihat langsung. Seperti yang diceritakan oleh banyak orang, bahwa sumba cukup terkenal dengan peternakan kuda liarnya, dan ku jumpai beberapa peternak sedang menggembala kuda menuju ke lokasi air terjun ini.

Kuda Sumba/Sumber

Sebagaimana disebutkan oleh banyak literatur dan juga melalui Ridwan, untuk menuju Air Terjun Waimarang akan ditemukan beberapa tanjakan dan jalanan off road, ya setidaknya aku sudah cukup siap untuk menghadapi jalur seperti ini, sehingga tidak kesulitan sama sekali untuk menerjang beberapa tanjakan. Setiba di Gathering Point, kami memarkirkan kendaraan di lapangan yang disediakan oleh warga setempat. Ridwan berkata, dari sini kami harus berjalan kaki, mendaki bukit. Selepas memarkirkan kendaraan, aku membawa backpack kecil untuk ku isi dengan air mineral dan beberapa makanan kecil yang bisa kami jadikan pengganjal apabila lapar di jalan nantinya.

Menurut Ridwan, lokasi Air Terjun Waimarang perlu ditempuh dengan trekking sejauh 1 Km, karena berada diantara bukit. Jalur trekking yang naik dan turun memang cukup melelahkan, tapi itu semua terbayar setiba di sana.

Air terjun waimarang terlihat menyegarkan dengan warna hijau biru yang banyak dikabarkan oleh orang-orang dan media. Air terjun tersebut memang tidak tinggi, namun tetap memukau dengan kolam alaminya. Setidaknya ada 3 tingkatan kolam alami dengan aliran air yang mengisi tiap kolamnya.

Waimarang Waterfall/Sumber

Aku tidak berniat untuk mandi, seperti rencana awal, aku ingin menikmati air terjun ini dengan penuh ketenangan sembari memutar lagu Endless Rain dari smartphoneku. Oh ya, tentu lagu tersebut sudah ku download terlebih dahulu, karena aku baca dari berbagai literatur, tempat ini masih sulit mendapatkan sinyal 4g secara optimal.

Beruntungnya aku bisa menikmati suasana ini setidaknya untuk 1 jam kedepan tanpa ada pengunjung lain, dan Ridwan meminta izin untuk bermain sejenak di segarnya Air Terjun Waimarang, dan ku kabulkan itu sembari menikmati waktu sunyi ini.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Semasa CoronaTravelog

Mengunjungi Taman Safari Prigen Semasa Corona

Semasa CoronaTravelog

Melihat Lebih Dekat Rupa Perjalanan dari Kupang ke Rote Kala Pandemi

Travelog

Merayakan Hari Raya di Lappa Laona The Green Highland

Travelog

Berwisata ke Museum Benteng Vredeburg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *