Itinerary

Menjejak di Pantai Indah Tulungagung, Melepas Resah Bersama Senja

Bagaimana rasanya harus pulang dengan perasaan kalut, antara kecewa dengan dosen yang ternyata merevisi sebagian besar kumpulan teori yang susah payah kalian kerjakan selama seminggu di perpustakaan kampus, hingga teman-teman yang mulai tidak lagi kita temui karena mereka sudah selesai dengan masa studinya.

Itu juga yang dirasakan Faradhina, salah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas ternama di Jawa Timur. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kelulusannya masih harus diperjuangkan dengan cara merapihkan kembali coretan demi coretan yang masih banyak ditemukan pada lembaran-lembaran skripsinya.

Merasa kalut dan bertepatan dengan libur pertengahan semester, Ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Tulungagung, sebuah kabupaten yang terletak di bagian selatan Jawa Timur.

Untuk menuju Tulungagung dari Surabaya, Faradhina bercerita bahwa kita bisa menggunakan berbagai transportasi publik, seperti kereta dan bis. Dari Surabaya Gubeng, setidaknya ada 4 pemberangkatan kereta menuju Tulungagung menggunakan kereta Dhoho Penataran.

Tujuan Faradhina pulang kali ini selain untuk melepas kalut, Ia berencana untuk mengembalikan beberapa barang milik temannya semasa kuliah. Kebetulan tempat tinggal temannya tersebut berada di lokasi tempat Faradhina ingin melepas kalut, yaitu tepi laut.

Sebagai sebuah kabupaten yang berada di pesisir selatan, Tulungagung memang terdapat banyak destinasi wisata pantai yang menarik untuk disinggahi. Bahkan beberapa merupakan pantai yang baru dibuka oleh masyarakat sekitar untuk menarik wisatawan dan menambah pendapatan bagi daerah tulungagung dari sektor pariwisata.

Sebut saja salah satu pantai yang terkenal di Tulungagung, yaitu Kedung Tumpang. Pantai ini cukup banyak direkomendasikan oleh para pelancong yang berkunjung kesana.

Kedung Tumpang/@idhamanjaya

Walau sebagai pantai yang terletak di pesisir selatan, di Kedung Tumpang, kita bisa menemukan kantung-kantung air yang dikelilingi oleh bebatuan, menjadikannya seperti kolam, atau berarus tenang.

Pengunjung yang datang ke pantai ini bisa menikmati berenang dalam kolam-kolam yang terbentuk secara alami. Faradhina juga bercerita bahwa di tepi pantai ini sering ditemukan para petualang yang membangun tenda dome untuk sekedar menikmati suasana sembari berkemah.

Jadi jika kalian berencana untuk datang ke pantai ini, maka tidak ada salahnya mencoba sensasi berkemah di tepi pantai seperti yang diceritakan olehnya.

Tidak jauh dari Pantai Kedung Tumpang, terdapat pantai lumbung. Sebuah lokasi pantai yang cukup ramai dikunjungi pada akhir pekan di Tulungagung. Namun karena keterbatasan akses jalan, pantai ini hanya bisa ditempuh melalui jalur perkebunan dan menggunakan kendaraan beroda 2. Walau masih bisa juga diakses menggunakan kendaraan roda 4, dibutuhkan kemampuan berkendara dan saat cuaca cerah. Jalan menuju lokasi ini masih belum sepenuhnya di betonisasi atau aspal.

Jalan Pantai Lumbung/@kacamata_tulungagung

Pantai lain yang tidak luput dari rekomendasi menurut Faradhina adalah pantai Popoh. Ketenaran pantai ini sudah ada sejak lama. Menurutnya, pantai ini cukup terjaga sejak pertama Ia kesini, pantai dengan tekstur pasir putih yang terawat, ombak yang tenang, dan tidak jauh aksesnya dari fasilitas umum.

Dari sini kita bisa melihat salah satu objek penting yang ada di Tulungagung, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air Niyama. Pembangkin ini menjadi penting karena salah satu pemasok energi untuk wilayah Jawa – Bali sejak tahun 1993.

Di sela-sela surelnya, Faradhina menyebutkan Pantai Sanggar sebagai rekomendasi lain jika kita hendak bermain air di Tulung Agung. Berada dalam kawasan yang sama juga terdapat pantai Ngalur, dua pantai tersebut merupakan pantai yang juga sering ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal saat berkunjung ke sana. 

Pantai ini cukup rindang karena berada di area pegunungan, tepatnya berada di area pegunungan kecamatan Jengglungharjo. Untuk mengunjungi pantai ini butuh pemahaman lokasi, tidak heran saat ia bercerita ingin mengunjungi kampung halamannya, Ia mengajak teman perjalanan yang lebih paham jalan tersebut.

Tapi tempat yang hendak Faradhina kunjungi adalah Pantai Pathok Gebang. Untuk menuju pantai ini, Faradhina bercerita kita bisa melalui pantai Sanggar, namun karena lokasinya yang masih belum memiliki akses jalan rata, Ia berulang kali memeriksa prakiraan cuaca bersama dengan temannya yang tinggal tidak jauh dari pantai Sanggar. 

Pantai Pathuk Gebang/Sumber

Pantai ini memiliki panorama yang sangat indah. Bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu yang paling indah dibandingkan dengan beberapa pantai lain yang ada di Tulungagung. Sebagai sebuah pantai yang baru diperkenalkan atau baru ditemukan, pantai ini memiliki pemandangan layaknya pantai kelingking di bali.

Bedanya, pantai ini memiliki ombak yang cukup besar, sehingga tidak direkomendasikan untuk beraktivitas air. Jika hendak menikmati pemandangan alamnya, maka pantai ini sangat layak. Dan itulah yang hendak dilakukan Faradhina, sepertinya Ia ingin melepas resah bersama dengan debur ombak di pantai ini.

Selain ombak, di Pantai ini kita bisa menikmati senja yang terbenam mesra dengan warna has senja yang membuatnya terhibur dari coretan revisi skripsi yang tidak berkesudahan. Ia merasa lebih baik dan siap untuk kembali mengerjakan semua revisi-revisi tersebut sepulang dari pantai.

Faradhina adalah salah satu sahabat telusuri yang berbagi cerita perjalanannya mengunjungi pantai-pantai indah di Tulungagung. Jika kamu ingin membagikan kisah perjalanan, kamu juga bisa mengirimkan tulisanmu ke redaksi telusuRI seperti Faradhina.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Sepiring Hidangan yang Tak Biasa

Itinerary

5 Tips Memilih Tempat Makan di Destinasi Wisata

Itinerary

Mengenal Desa Boti, Nusa Tenggara Timur

Itinerary

6 Destinasi Ekowisata di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *