Itinerary

Menilik Upacara Adat Rambu Solo Suku Toraja

Bagi masyarakat yang ada di Indonesia, siklus kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian dianggap sebagai proses yang sakral. Dari mengandung, melahirkan, masa kanak-kanak, dewasa, hingga meninggal dunia sebagai proses yang harus disempurnakan dengan upacara adat. Salah satunya adalah Suku Toraja yang berada di Sulawesi Selatan bagian Utara. Terdapat upacara adat unik yang beranama Rambu Solo. 

Rambu Solo merupakan upacara yang tujuannya untuk menghormati dan mengantarkan arwah seseorang yang telah meninggal dunia menuju alam roh atau masyarakat menyebutnya sebagai puya. Ada perbedaan upacara adat Rambu Solo antar komunitas Suku Toraja, namun tujuannya tetap sama. 

Salah satu yang menarik adalah Rambu Solo yang diadakan oleh Kete Kesu, salah satu komunitas Suku Toraja. Mereka tinggal di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malening, Toraja Utara atau sekitar 14 kilometer dari Kota Rantepao. 

Biaya tiket masuknya sekitar 5 ribu rupiah untuk wisatawan lokal dan 10 ribu rupiah untuk wisatawan mancanegara. Dengan tiket tersebut pengunjung sudah bisa memasuki dan melihat cagar budaya yang ada di kawasan Kete Kesu. Di daerah ini terlihat hamparan sawah yang luas dengan hewan ternak seperti kerbau yang sedang digembalakan. 

Bagi Suku Toraja, kerbau merupakan ternak yang dianggap suci karena mereka dipercaya sebagai pengiring arwah yang sudah tiada. Semakin banyak jumlah kerbau yang dipakai saat upacara Rambu Solo maka arwah akan lebih cepat menuju alam roh. 

Upacara Adat Rambu Solo di Tana Toraja TEMPO/Iqbal Lubis

Prosesi Upacara Adat Rambu Solo

Upacara adat Rambu Solo biasanya diadakan di sekitar rumah adat yang bernama tongkonan. Rumah-rumah ini dipercaya sudah berusia lebih dari 300 tahun. Di depan tongkonan akan diletakkan sebuah tongkongan kecil di tengah-tengah sebagai tempat jenazah dalam upacara Rambu Solo. 

Jenazah akan dibiarkan di dalam tongkonan sementara, sedangkan para wanita Suku Toraja sibuk mempersiapkan hidangan untuk tamu undangan. Hidangan ini biasanya lebih banyak menggunakan daging babi dan kerbau. 

Tamu undangan biasanya datang dari kerabat dekat yang sudah berkeluarga atau mereka yang tinggal dalam satu tongkonan yang sama. 

Prosesi upacara adat Rambu Solo dibagi menjadi dua prosesi yaitu prosesi pemakaman atau rante dan pertunjukan kesenian. Kedua prosesi ini memang tidak bisa dipisah, biasanya akan dilakukan dalam satu kegiatan upacara yang berlangsung selama 3 sampai 7 hari. 

Rante sendiri dibagi menjadi beberapa bagian yaitu Ma’Tudan Mebalun yaitu jenazah dibungkus dengan kain kafan oleh petugas khusus. Lalu ada juga Ma’Roto yaitu menghiasi peti jenazah dengan benang perak atau emas. Selanjutnya adalah Ma’Popengkalo Alang atau penurunan jenazah. Proses ini dilakukan secara berurutan hingga jenazah dibawa ke rumah kecil atau goa nantinya. 

Tamu yang hadir biasanya membuat lingkaran mengelilingi tongkonan kecil sambil bergerak berlawanan arah jarum jam sembari mengucapkan mantra-mantra.

Upacara dilanjutkan dengan pemberian khotbah yang dipimpin oleh seorang pendeta karena mayoritas masyarakat Suku Toraja memeluk agama Kristiani. Setelah selesai, para wanita akan membawa hidangan keluar dapur dan membawanya ke menuju tongkonan. Tamu yang hadir serta wisatawan akan dipersilakan untuk menyantap makanan yang sudah disediakan. 

Barulah setelah makan siang, upacara akan dilanjutkan dengan sesi foto oleh keluarga jenazah. Keluarga dari yang muda sampai yang tua akan berfoto bersama tongkonan yang berisi jenazah. 

Prosesi dilanjutkan dengan mengelilingi jenazah sembari membacakan mantra-mantra penghantar. Biasanya akan ada anggota keluarga yang menangis secara tiba-tiba sambil memeluk tongkonan, suasana akan berubah menjadi haru dan penuh duka cita. Peti jenazah akan dilepaskan dari tongkonan, kemudian dibawa ke lokasi makam yang jaraknya hanya 30 meter dari lokasi upacaranya.

Ada yang unik saat prosesi ini yaitu peti jenazah akan digoyang-goyangkan oleh tamu terlebih dahulu baru kemudian dibawa ke makam. 

Sesuai tradisi Suku Toraja, peti dimasukkan ke dalam goa di tebing atau rumah kecil khusus untuk menyimpan jenazah. Satu rumah kecil bisa dipakai untuk beberapa jenazah dan biasanya dipakai mereka yang masih dalam satu keluarga.  

Biasanya, banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang ikut berpartisipasi untuk melihat upacara dari awal sampai akhir.

Nilai-Nilai Luhur dari Suku Toraja

Masyarakat Suku Toraja meyakini dengan meletakkan peti ke rumah khusus sebagai pertanda bahwa roh sudah tidak ada lagi di dunia karena sudah diantarkan oleh kerbau-kerbau menuju alam roh. 

Selain itu, ada alasan lain mengapa Suku Toraja meletakkan jenazah di tebing batu yaitu karena bukit dan lembah masih bisa digunakan untuk kepentingan generasi yang masih ada (hidup), seperti untuk bercocok tanam atau berternak. 

Rangkaian upacara adat dari Rambu Solo memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Jadi tak heran acaranya dilakukan beberapa bulan atau bertahun-tahun setelah seseorang meninggal. 

Uniknya lagi, biaya untuk melakukan prosesi ini diambil dari semua sisa hasil usaha mendiangnya. Hal ini merupakan bentuk pelajaran tersendiri bagi generasi Suku Toraja agar tidak bergantung pada warisan mendiang mereka. 

Tingkatan Upacara Adat Rambu Solo

Dalam upacara adat Rambu Solo dikenal dengan beberapa tingkatan yang dilakukan sesuai strata sosial masyarakatnya. 

Pertama yaitu upacara Dissili atau ritual pemakanan untuk strata rendah atau anak-anak yang belum punya gigi. Kedua adalah upacara Dipasangbongi untuk masyarakat biasa yang dilakukan hanya satu malam. Biasanya mengorbankan babi hingga 4 ekor dan kerbau 2 ekor. Lalu ada juga Upacara Dibatang atau Digoya Tedong untuk mereka yang kalangan bangsawan menengah. 

Upacara satu ini dibagi menjadi 3 jenis yang dilakukan selama 3, 5, dan 7 hari dengan jumlah kerbau dan babi yang dikorbankan bervariasi antara 3 sampai 7 ekor.

Paling terakhir adalah upacara Rapasan yang dikhususkan untuk bangsawan kelas tinggi. Upacara ini dilakukan selama dua kali dengan rentang satu tahun. Babi dan kerbau yang dikorbankan juga bervariasi antara 9 ekor sampai lebih dari 100 ekor. 

Ada tanda khusus yang membedakan upacara Rapasan ini dengan yang lainnya yaitu adanya kain merah panjang, kain ini sebagai pertanda bahwa jenazah dalam peti dari kalangan bangsawan. 

Biasanya ada beberapa budaya atau tradisi yang ikut dipertontonkan untuk wisatawan dan tamu yang hadir. Mulai dari Ma’pasilaga Tedong atau adu kerbau dan Ma’tinggoro Tedong yaitu menyembelih kerbau dengan sekali tebasan.

Kerbau yang diarak terlebih dahulu kemudian ditebas menggunakan parang yang sangat tajam. Banyak juga musik dan tarian daerah yang akan ditampilkan dalam upacara Rambu Solo ini. 

Saat melaksanakan tradisi ini, banyak nilai-nilai luhur yang dapat dilihat seperti sikap gotong royong masyarakatnya hingga kekeluargaan dalam Suku Toraja.

Mereka juga meyakini bahwa jika tidak mengadakan upacara adat Rambu Solo maka kemalangan akan menimpa keluarga yang ditinggalkan. Itulah mengapa tradisi ini masih ada hingga sekarang.

Biasanya setiap tahun selalu ada upacara Rambu Solo, jadi jika ingin melihatnya sebaiknya cari tahu dahulu waktu yang tepat untuk berkunjung ke sana.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Kerupuk Klenteng Bojonegoro, Warisan Legendaris yang Tetap Eksis Sejak 1929

Itinerary

Road Trip ke Pulau Sabu dan Menggila Bersama Bento

Itinerary

"Playlist" Buat Kamu yang Rindu Berderu Bersama Ombak

Itinerary

Desa Wisata Ngargoretno, Wisata Alam dengan Kearifan Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyingkap Cerita Adat Istiadat di Kampung Tarung, Sumba Barat