IntervalSemasa Corona

Menghadiri Pernikahan di Masa Pandemi

Menghadiri resepsi pernikahan semasa corona tentu perlu pertimbangan khusus dan penuh kehati-hatian. Selain itu, ada yang berbeda pada kunjungan ke pernikahan kali ini, yakni terasa lebih formal. Aku mesti diperiksa dengan thermo gun, mencuci tangan, dan ketika mendekat memberikan doa kepada pengantin harus menjaga jarak serta mengenakan masker. Pembawa acara pun menghimbau untuk pengantin dan para tamu untuk tidak bersalaman meski pengantin terus mengenakan sarung tangan.

Kurasa, baik mereka yang mengadakan resepsi pernikahan di gedung atau di rumah sendiri, tentu akan merasakan perbedaan perihal protokol kesehatan. Yang tadinya kita bisa bebas melakukan apa saja di acara tersebut kini dapat kita lihat para pengunjung pun saling mengingatkan untuk selalu mengutamakan protokol kesehatan. Tidak ada hiburan karena hal tersebut jelas dilarang. Jika ada yang melanggar dan mengundang kerumunan, maka dibubarkan paksa. Sebuah pemandangan yang jarang kita sebelum corona menghampiri.

Akad nikah yang biasanya dihadiri khalayak ramai, kini menjadi terbatasi. Beberapa kali aku melihatnya. Tetapi aku pikir, itu sudah seharusnya dilakukan demi kebaikan bersama.

Seorang pria sedang melaksanakan ijab qabul
Seorang pria sedang melaksanakan ijab qabul /Deffy Ruspiyandy

Saat PPKM Darurat diberlakukan, dan kamu masih mendapatkan izin untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, tentu bisa dibilang beruntung. Seorang teman yang menikahkan anaknya menjadi orang yang terdampak dengan aturan pembatasan ini. Pernikahannya boleh dilaksanakan di gedung tetapi hanya bisa dihadiri oleh anggota keluarga, itu pun dibatasi meski sudah memesan tempat jauh-jauh hari. Undangan yang disebar katanya mubazir karena tamu undangan tak bisa menghadirinya. Jelas ada kerugian yang dirasakannya. Aku hanya memintanya untuk bersabar karena semua itu terjadi di luar perkiraan.

Akad nikah pun terkadang mesti dilakukan di kantor KUA. Tak pelak rombongan pengantin menggunakan kendaraan yang ada berangkat untuk melaksanakan janji suci sepasang pria dan wanita. Mereka dalam pernikahan ini, aku bisa berperan sebagai orang yang menyerahkan calon mempelai pria, menjadi saksi dalam pernikahan itu, menjadi pembawa acara pada event tersebut dan yang jelas paling banyak dialami adalah menjadi tamu undangan.

Seorang suami menyerahkan mas kawin kepada isterinya
Seorang suami menyerahkan mas kawin kepada isterinya /Deffy Ruspiyandy

Aku kemudian berpikir, bisa jadi banyak pernikahan tertunda karena pandemi. Mungkin para mempelai ingin menyambut banyak keluarga dan sahabat. Namun ada juga yang sebagian—termasuk beberapa rekanku—memanfaatkan kesempatan ini untuk menikahkan putra-putrinya karena budget bisa ditekan seminimal mungkin. Bahkan banyak yang menikah di rumah, tanpa mengundang tamu. 

Mengunjungi resepsi pernikahan yang biasa dilakukan sepasang suami istri, kini terkadang justru perannya dibagi dua. Kadang aku yang datang ke resepsi itu atau istri yang mendatanginya. Kecuali jika keluarga dekat yang melaksanakannya maka aku dan istri yang berangkat dan juga membawa anak-anak kami. Tak heran jika di resepsi pernikahan itu orangtua kedua mempelai menanyakan, jika aku yang menghadirinya maka yang ditanyakan kok tidak bersama istri dan kalau istriku yang hadir maka yang ditanyakan, kok tidak bareng suaminya.

Tamu undangan yang hadir di resepsi yang digelar di rumah
Tamu undangan yang hadir di resepsi yang digelar di rumah /Deffy Ruspiyandy

Dengan begitu, aku semakin menjadi tahu dan tersadarkan jika terkadang banyak orang yang jor-joran pada saat resepsi pernikahannya tetapi tak merasakan kesakralan saat akad nikah sebagai momentum terindah selama hidupnya. Karena di masa pandemi ini bukannya resepsi digelar secara mewah atau melarang ada hiburannya tetapi semua adalah penjagaan agar tidak menimbulkan klaster baru penyebaran COVID-19. Tetapi aku melihat jika resepsi pernikahan tetap menjadi hal menarik untuk dinikmati walaupun ada pembatasan secara ketat. Tentunya biarpun ada pembatasan sesungguhnya hal tersebut adalah momentum berbagi kebahagiaan yang masih bisa dinikmati tanpa melupakan aturan yang telah ditetapkan.

Meski awalnya aku berpikir jika resepsi pernikahan seharusnya tak ada pembatasan kunjungan, sehingga tamu-tamu undangan dapat secara bebas menikmati resepsi itu dan bercengkrama dengan saudara atau teman-temannya. Namun pada akhirnya aku memakluminya, sekarang memang bukan saat yang tepat untuk merayakan resepsi pernikahan secara besar-besaran.

Kita berharap pandemi ini segera berakhir.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.
    Artikel Terkait
    Interval

    Menyusuri Sulawesi lewat Buku “Cerita yang Datang dari Pulau Berkaki Empat”

    Interval

    Eksistensi PLTA sebagai Destinasi Wisata

    IntervalSampah Kita

    Lautan yang Indah Kini Menjelma Tumpukan Sampah

    IntervalSampah Kita

    Mereka, Garda Terdepan dalam Urusan Sampah

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Setelah “Isi Lambung Tengah” di Pesta Perkawinan Kapoposang