Itinerary

Menghabiskan Akhir Pekan di Bukit Moko

Menjelang akhir pekan, kami masih saja disuguhi dengan berbagai tugas organisasi yang tiada hentinya. Saat itu, saya dan teman organisasi sedang mengadakan lomba bertaraf internasional di kampus kami. Tapi, entah kenapa kami semua merasa jenuh dengan segala aktivitas dan memilih untuk mencari tempat sekedar melepas penat. Setelah berdiskusi dan mendapat masukan dari seorang rekan yang baru saja melakukan foto post-wedding di Bukit Moko, kami memutuskan untuk mengadakan perjalanan bersama-sama ke sana.

Tanpa berpikir panjang, semua anggota (termasuk saya) serentak mengatakan “let’s go!” Kami pikir, akan seru kalau saja tugas organisasi bisa dilakukan sembari berlibur sambil menikmati suasana yang menenangkan hati. Seperti kata pepatah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”

Bukit Moko Bandung

Pohon pinus/Kurniadi Leo (Flickr)

Perjalanan tak selalu mulus

Kami bertujuh mengendarai motor, menarik gas kendaraan, menyusuri jalan menuju Bukit Bintang yang berada 1.500 mdpl. Pantas saja orang Bandung menyebutnya puncak tertinggi di Kota Bandung, lokasinya memang cukup tinggi. Ternyata, Bukit bintang berada sangat jauh dari posisi kami yang masih di Desa Cimenyan. Oleh warga, kami disarankan melewati jalan lurus menanjak ke atas yakni Jalan Padasuka. Sangat menantang, tapi seru!

Perjalanan memang tak selalu berjalan mulus, ada saja hal diluar rencana yang harus dilalui. Kebetulan, hal itu terjadi pada saya dan Raihan. Saat ingin menanjak, motor Raihan tiba-tiba mogok. Panik lah kami. Jalan menuju Bukit Moko memang dipenuhi tanjakan dan turunan cukup terjal. Makanya, kalau kamu berniat ke sini, pastikan kendaraan dalam kondisi baik atau setidaknya dirawat dengan rutin supaya nggak ngambek. 

Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena ternyata Bukit Moko sudah tidak jauh lagi. Walaupun begitu, selama 20 menit berjalan kaki, saya dan Raihan tetap menikmatinya karena di sepanjang jalan kami ditemani ribuan pohon pinus yang menjulang tinggi, bikin mata seger!

Dari kejauhan, tampak raut wajah teman-teman kami yang menunggu dengan rasa (agak) cemas.

Bukit Moko Bandung

Bukit Moko Bandung/Kusumah (Flickr)

Tiba di Bukit Moko

“Kalian kemana aja sih, kok gak ngabarin. Kita semua panik ini, untung aja sampai yah! Huhuhu..” Ucap teman-teman saya. 

“Tenang, kita baik-baik aja kok, ini buktinya!” Canda Raihan. 

Seketika berada di puncak, rasa lelah hilang seketika. Matahari tenggelam menyambut kami sore itu bersama desiran angin semilir yang menyegarkan.

Fardi memberikan kami segelas teh hangat dan cemilan untuk menangkal rasa lapar setelah perjalanan tak terduga tadi. Ia lalu mengajak kami untuk mampir terlebih dahulu ke  Warung Daweung yang menyediakan makanan khas Sunda.

Sesuai agenda utama, kami melanjutkan rapat organisasi dengan agenda laporan dari masing-masing anggota atas kinerja selama satu minggu belakangan. Tanpa disadari, jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Kami sejenak beristirahat sembari duduk di pinggiran bukit sambil menikmati malam dan gemerlapnya lampu-lampu kota. Suasana makin asik, karena kami bercerita satu sama lain, cerita dari hal-hal romantis, kisah sedih, bahkan cerita horor.

Bukit Moko Bandung

Bukit Moko malam hari/Willy Hanafi (Flickr)

Makin larut, Bukit Moko makin ramai

Uniknya, semakin larut semakin ramai saja pengunjung yang singgah ke sini. Terlebih lagi, saat itu adalah akhir pekan. Sayangnya, saya dan teman-teman tidak ada rencana untuk camping di sini karena pergi ke sini diagendakan tanpa rencana yang matang. Padahal, Bukit Moko menyediakan camping ground lengkap dengan berbagai fasilitas seperti mushola, toilet, area parkir, dan ruang luas untuk para pengunjung sekedar duduk-duduk.

Selain bersenja, kami juga menanti matahari terbit di Bukit Moko. Ya meski tidak membawa perlengkapan cukup untuk camping, pada akhirnya kami tetap pulang keesokan harinya. Sebelum pulang, kami jalan-jalan dan berfoto sejenak di hutan pinus. Sederhana, tapi menyenangkan.

Tepat pukul 08.00 WIB, kami bergegas pulang dan bersyukurnya motor Raihan sudah kembali normal. Dengan berat hati, saya meninggalkan Bukit Moko secara perlahan dan menceritakannya di sini agar menjadi kenangan indah yang diabadikan melalui tulisan. Sampai berjumpa kembali Bukit Bintang!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI. Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.  

Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Puas Berwisata di Purworejo dengan merasakan makanan khasnya

ItineraryNusantarasa

Mengenal Makanan Wonogiri Selain Semangkuk Bakso

Itinerary

Menelisik Sejarah di Lembah Tumpang

Itinerary

Film Balada Si Roy: Bukan Sekadar Bahan Nostalgia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *