Itinerary

Mengenal Jepara lewat Sajian Khas Kulinernya

Jepara, kota yang dikenal sebagai tempat kelahiran Raden Ayu Kartini ini merupakan destinasi wisata yang dikenal lewat ukiran kayu. Siapa sangka, ternyata kota ini menyimpan sejuta cita rasa yang mungkin masih menjadi misteri bagi sebagian besar pejalan seperti Saya. 

Cuti akhir tahun ini sengaja Saya habiskan untuk mencoba menjelajahi Jepara lewat destinasi Rasa, sebuah cerita lidah yang memperkaya khasanah keberagaman kuliner Nusantara, sebuah harta yang tidak lekang oleh waktu, mungkin hanya masalah Rasa, tiap orang punya beda selera. 

Saya bukan tipikal yang ingin bertualang tanpa rencana, apalagi Jepara bukan daerah yang Saya kenal, mengunjungi sebuah destinasi tanpa mengetahui segala seluk beluk dan tujuan yang jelas, mungkin akan berakibat buruk kedepannya. Itu juga yang melandasi mengapa Saya rajin membuka berbagai macam tab browser untuk sekedar membekali rasa ingin tahu Saya akan kuliner khas kota di Utara Jawa ini.

“Kak, coba deh beberapa rekomendasi makanan ini” icha memperlihatkan layar smartphone berisi beberapa rekomendasi makanan dengan tajuk “Makanan Khas Jepara”. Rekan kerja satu ini memang paling lihai memburu sesuatu di Dunia Maya, tak salah dia dijuluki ratu kepo di kantor kami.”

Saat tiba di Jepara pukul 11 siang, Saya kembali membuka catatan yang kubuat bersama icha, kami sempat berdiskusi hebat mana makanan pertama yang perlu Saya coba. 

“Kak, kan Jawa terkenal tuh sama Sotonya, pasti soto jepara pas untuk dicoba pertama kali setiba di sana” Icha mungkin benar, Indonesia memang memiliki banyak varian soto nusantara, dan Jawa menjadi pulau terbanyak dengan olahan sotonya.” 

Waktunya tepat, perut sudah mulai aktif bersuara dan Saya menyesuaikan dengan niat menuju lokasi pertama mencoba Soto Khas Jepara yang ada di Jalan Shima, Mulyoharjo, Jepara. 

Saya bertanya dalam hati, Apa beda soto khas Jepara yang menjadikannya berbeda dengan soto di daerah lain? Mencoba mencari jawaban dalam semangkuk soto jepara yang tersaji, ku dapati sebuah perbedaan yang paling mencolok antara Soto Jepara dengan soto lainnya yaitu tersedianya kucai sebagai pelengkapnya. Inilah yang membuat sotonya segar kalau disajikan saat masih hangat. 

Tapi, bakalan lebih nikmat kalau kita pakai tambahan lainnya seperti tahu, tempe, sate usus, ati ampela, hingga telur puyuh. Pokoknya rasanya sulit dilupakan! Bagi Anda yang mau atau sedang berkunjung ke Jepara, harga soto Jepara ini bervariasi, mulai dari Rp17.000. 

Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, Saya pun melanjutkan perjalanan ke Alun-alun Kota Jepara, Jawa Tengah. Suasana cukup terik saat itu, sebab matahari tepat di atas kepala Saya. Selain itu, Saya juga memilih untuk berjalan kaki. Entahlah, sudah berapa kilometer yang Saya tempuh. Tiba-tiba, terlihat dari kejauhan seseorang yang sedang menikmati minuman berwarna yang dicampur es. Woh! Tanpa berpikir panjang, Saya pun mengunjungi tempat es tersebut dijual. 

Ternyata oh ternyata! Ini toh Es Gempol Pleret yang lagi hits dan seingat Saya icha pernah kasih saran untuk cobain es ini, tapi mungkin dia lupa nama jelas dari es tersebut. Daripada penasaran, Saya langsung menghampiri penjual dan melihat bagaimana proses pembuatan Es Gempol Pleret. Menurut Saya, Es Gempol Pleret ini termasuk dalam kelompok  Es Dawet, Es Doger, atau Es Cendol. 

Tak lupa, Saya juga bertanya ke penjual, resep dari es ini untuk dituliskan di catatan harian pribadi Saya. Bersyukurnya penjual es sangat ramah dan mau menjelaskan detail bagaimana proses pembuatan Es Gempol Pleret hingga menjadi es yang segar dan bisa menghilangkan dahaga. Begini katanya,

“Gini neng, gempol pleret ini terbuat dari bahan utama beras yang digiling halus. Lalu, setelah menjadi tepung beras, diaduk menggunakan air agar menjadi adonan. Untuk gempol akan dibuat bentuk bulat, sedangkan pleret dibentuk pipih. Selanjutnya, gempol dan pleret dioles warna merah muda hingga akhirnya dikukus dengan daun pandan. Setelah itu, diberi sirup, santan dan es supaya semakin menggoda setiap penikmat gempol pleret. Mudah kan?” Gitu penjelasan panjang dari penjual sekaligus pembuat.

Pembuatannya memang sedikit rumit, tapi Saya benar-benar gak nyangka kalau harganya murah banget. Cuma Rp5000 loh! Oke, setelah rasa haus hilang, Saya pun melanjutkan perjalanan dan mengitari alun-alun. 

Tanpa disadari, Saya sudah di penghujung hari dan suasana di Jepara saat itu makin sejuk dan langkah kaki Saya mulai mengiringi terbenamnya matahari. Didukung oleh cuaca yang adem, Saya pun mulai mencari makanan yang bisa menghangatkan tubuh Saya. Sambil membuka catatan yang dibuat kemaren, Saya pun browsing dan mengetik keyword “rekomendasi makanan khas Jepara”. Tepat di halaman awal google, ada makanan yang menurut Saya unik dan lucu, yaitu Bakso Bambu Runcing. 

Tentu, Saya semakin penasaran dan mulai bertanya kepada warga sekitar letak dari penjual bakso itu. Momen bertanya ini Saya manfaatkan untuk bersosialisasi dengan warga sekitar agar semakin akrab. Dengan sikap yang ramah, mereka mengarahkan lokasi dari penjual bakso tersebut dan percayalah saat itu Saya sudah terbayang-bayang akan gurihnya Bakso Bambu Runcing. 

Yes! Akhirnya Saya menemukan bakso ini dan benar pula cita rasanya tak bisa dikembari.

Menarik dan enak! Itulah dua kata yang tepat untuk Bakso Bambu Runcing ini. Selain bentuknya yang ajaib, di dalam bakso juga ada isian seperti bakso kecil, daging cincang hingga potongan sayuran (wortel). Kemarin, Saya mencicipi bakso ini disekitaran Pasar Baru dan harganya pun sangat terjangkau yaitu berkisar Rp20.000-25.000.

Ketika malam mulai menghampiri, Saya pun mulai mencari teman ngobrol sambil menikmati lalu lalang kendaraan di Kota Kartini ini. Tak lama kemudian, ada solo traveler lainnya yang mengajak Saya untuk menyeduh kopi. Sambil merogoh tasnya, dia memberi Saya satu bungkus kopi bubuk yang bernama kopi tempur. Kopi ini dikenal sebagai kopi yang memiliki kualitas baik yang berasal dari Desa Wisata Tempur, Jepara. Sehingga, bisa membuat tubuh menjadi lebih rileks ketika minum kopi ini. Setelah Saya tanya, ternyata harga kopi juga merakyat yaitu mulai dari Rp35.000/250 gram. 

Hari semakin larut, sudah saatnya Saya bergegas pulang dan menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Teringat pula pesanan Ica yang meminta Saya untuk membeli sambal khas Jepara dalam jumlah yang banyak. Namanya, sambal samtis yaitu campuran sambal cabai dan petis udang. Katanya sih, ini sambal extra pedas! Saya pun memesan sambal ini sekitar satu kotak untuk dibagi-bagikan ke keluarga maupun teman kantor. 

Begitulah perjalanan Saya ketika berburu kuliner di kota kelahiran kartini. Terima kasih Jepara, icha dan teman baru Saya di kota Jepara. Sungguh pengalaman yang luar biasa! Esok dan lusa, Saya janji akan kembali ke kota ini lagi!

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Santapan yang Lahir dari Kesengsaraan

Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *