ItineraryNusantarasa

Mencicipi Makanan Khas Bali

Luna, teman masa kecilku yang terpisah oleh jarak. Saat ini, aku dan Luna hanya bisa bertegur sapa melalui media sosial. Walaupun, kami berdua sering merasa segan jikalau harus bercerita atau sekedar berbagi kisah kehidupan. Tapi, aku tetap saja mencari seribu cara agar tetap berkomunikasi dengan Luna. Sayangnya, Luna adalah tipe orang yang slow response dan cuek.

Bisa dibilang aku dan dia lost contact hampir 3,5 tahun. Bukan, bukan aku yang nggak berusaha menghubungi, tapi Luna yang nggak kunjung membalas pesan yang kukirim. Tanpa aku sangka, dia mengirim pesan di Instagram. Ketika melihat notifikasi dari dia, pastilah rasanya berdebar!

“Eh tumben, kenapa?” Jawabku.
“Hmmm, pengen main ke kota kamu nih. Boleh?” Jawab Luna lagi.
“Eh, ngapain main ke sini, kita liburan di Bali aja sih yuk!” Kataku.
“Aku pesan tiket sekarang buat kita berdua, aku traktir” Kata Luna tanpa basa-basi.
“Ya ampun. Gercep amat! Ya udah sih kuy lah, see you!

Begitulah si Luna, dia orangnya suka to the point, karena mager buat nyeritain panjang lebar alasan dia mengajakku ke Bali. Walaupun, aku sebenarnya kikuk saat diajak pergi ke sana karena udah lama banget gak ketemu. Tapi, yaudah deh nikmati aja.


Bandara I Gusti Ngurah Rai

Tepat pukul 11.45 WITA aku tiba di I Gusti Ngurah Rai, Bali. Kebetulan, pesawat Luna baru tiba di bandara pukul 17.30 WITA. Waktu yang nggak sebentar, dan aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Sembari menunggu, aku searching makanan khas Bali yang direkomendasikan oleh Google. Ada beberapa makanan yang sepertinya sudah pernah aku makan di sini.

Inilah kedua kalinya, aku mengunjungi Bali. Berada di Bali juga telah mengingatkan kenangan aku bersama almarhum ibu. Setiap makanannya pun memiliki cerita tersendiri dan beberapa makanan Bali yang disukai ibu itu adalah sate lilit!

Ya, sate lilit yang cuma ada di Bali. Makanan khas Bali ini memang menggoda selera setiap penikmatnya. Dulu, sambil menyantap sate lilit, almarhum ibu menanyakan ke pedagang, resep dari sate ini. Aku masih ingat banget diskusi panjang mereka berdua tentang cara membuat sate lilitnya.

Oh ternyata! Sate lilit ini dibuat dengan cara melilitkan adonan daging ke dalam tusuk. Berbeda dong dengan kebanyakan olahan sate, yang harus ditusuk satu persatu daging yang telah dipotong kecil-kecil dan akhirnya dipanggang.

Selain itu, saat proses memasak, bumbu kacang dilumuri pada daging yang belum dibakar. Umumnya sate lilit menggunakan daging ikan atau bisa juga dengan ayam. Intinya, sesuai selera lah. Saat itu, aku dan ibu memakan sate lilit yang terbuat dari daging ikan tuna.

Yang bikin segar adalah aromanya! Benar-benar menggugah selera. Rahasia tersebut ada pada bumbu sate lilit yang terdiri dari serai, daun jeruk, bawang merah, dan bawang putih. Di tempat aku dan ibu makan, juga menyediakan berbagai macam sambal yang bikin kita ingin menambah bertusuk-tusuk sate lilit.

Itulah kenangan bersama ibu yang sulit dilupakan, seperti rasa sate lilit yang selalu bikin rindu. Dan, akhirnya aku berhasil menuliskan satu list makanan yang wajib aku makan bersama Luna, nanti.

Tiba-tiba ada muncul pop up di layar handphone, setelah diperhatikan secara detail ternyata ada rekomendasi makanan khas Bali lainnya. Adalah ikan laut sambal matah. Nama olahan dari ikan ini disebut be pasih mesambel matah.

Ikan segar khas Bali ini diberi bumbu-bumbu seperti ketumbar, kunyit, terasi, kencur, garam, bawang putih yang dilumurkan secara merata ke ikan. Belum lagi ada sambalnya yang terbuat dari cabai rawit, bawang merah, bawang putih, serai, garam, dan terasi bakar yang akan dihaluskan bersama minyak kelapa dan perasan air jeruk limau. Wah, jadi nggak sabar pengen makan ikan laut sambal matah ini lengkap dengan nasi hangat dan makan di tepi pantai.

Tak hanya sampai di situ, aku terus mencari rekomendasi makanan lainnya yang wajib aku dan Luna cicipi.Aku pun mendapati menu bebek betutu khas Bali. Katanya sih, ini, makanan kebanggaannya masyarakat Bali. Bebek ini dibungkus dengan daun pisang, lalu dibungkus lagi dengan pelepah pinang hingga rapat. Setelah itu, bebek siap dikukus dan dipanggang. Hidangan yang biasanya digunakan buat upacara adat dan keagamaan ini, kini menjadi makanan yang paling dicari-cari wisatawan domestik dan mancanegara.

Oh iya, aku baru ingat, ada makanan khas Bali yang pernah aku cicipi bersama almarhum ibu. Seingat aku, namanya bulung kuah pindang. Akhirnya, aku searching di Google dan menemukan banyak banget para blogger yang menyarankan kita untuk menyantap makanan ini.

Bulung kuah pindang ini merupakan rumput laut yang direbus dan diberi kuah pindang serta diberi taburan bumbu khas Bali yang membuat rasanya pedas gurih! Ada dua cara menikmatinya, bisa dengan nasi hangat atau rujak buleleng.

Tak lupa, ditambahkan juga kuah kaldu yang terbuat dari ikan segar bersama daun salam, garam, serai, perasan jeruk limau dan kelapa parut. Supaya lebih nikmat, ada warung makan di Bali yang menambahkan taburan kacang tolo, kedelai, dan kacang tanah goreng kering.

Aku dan Luna memiliki kesamaan, ama-sama senang ngemil. Makanya, aku dari tadi searching cemilan khas Bali. Lalu, menemukan batun bedil Bali yang mirip dengan bubur candil dari Jawa. Usut punya usut, cemilan ini terbuat dari tepung untuk isiannya, kemudian diberi kuah dari gula yang dapat memberi rasa manis. Dan lebih nikmat karena ditambahi dengan parutan kelapa di atasnya.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WITA dan aku pun bersiap-siap menyambut kedatangan Luna! Aku juga mengantongi 5 makanan khas Bali yang akan kami cicipi bersama-sama, dari sate lilit, ikan laut sambal matah, bebek betutu, bulung kuah pindang, dan batun bedil khas Bali.

Tak lama kemudian, terlihat sosok wanita berkaca mata yang menggunakan kaos blazer dan sepatu kets, ialah Luna. Sambil mata berkaca-kaca, kami pun saling berpelukan erat dan memulai petualang kuliner di Bali.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Pesona Budaya Jawa dalam Baluwarti

Itinerary

Menata Pikiran dan Hati dengan 'Spiritual Traveling' di Bali

Itinerary

Ragam Herbal untuk Memelihara Kesehatan dan Daya Tahan Tubuh

NusantarasaTravelog

Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *