Sampah Kita

Menata Ulang Isi Kantong Sampah, Menata Ulang Bumi Menjadi Lebih Baik

Memiliki satu bumi yang perlu kita jaga memang bukan tugas mudah, namun karena kita semua tinggal di satu bumi, seharusnya kita akan selalu memiliki harapan yang sama. Bahwa bumi akan tetap menjadi tempat tinggal yang layak, bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi makhluk hidup lainnya.

Menjaga bumi agar menjadi tempat tinggal yang layak bagi semua makhluk hidup sejatinya tidak sulit. Kita bisa melakukan sesuatu yang sederhana seperti mulai menanam pohon disekitar rumah, atau mulai dengan memilah sampah yang kita produksi sehari-hari. Terutama sampah yang tidak bisa didaur ulang.

Beberapa sampah jenis ini kadang luput dari perhatian, walau kita tahu pada akhirnya sampah ini akan berakhir di tempat pembuangan. Namun di tempat pembuangan, sampah-sampah ini akan dibakar dan menyisakan residu bagi beberapa material yang tidak bisa sekedar dibakar.

Bakar Sampah di Sungai Citarum, Bandung via TEMPO/Prima Mulia

Dalam jangka panjang, residu sampah ini memiliki resiko yang tidak aman bagi lingkungan dan bagi manusia. Salah satu hal yang kita ketahui adalah mikroplastik, dimana partikel plastik ini bisa ikut ke dalam tubuh makhluk hidup seperti ikan, jika residu tersebut hanyut terbawa ke laut. Atau tanah tempat tumbuh menjadi jenuh, karena bakteri tidak bisa hidup di area yang tidak bisa mereka olah secara metabolisme.

Di situlah peran kita sebagai tahap pertama pengolahan sampah, agar lebih mudah diolah dan tidak menyisakan residu yang justru akan memperburuk keadaan lingkungan. Dengan melakukan pengolahan sampah berdasar kategori sampah anorganik. Kita telah paham bahwa sampah anorganik adalah sampah yang tidak bisa diolah secara alami, atau setidaknya yang tidak bisa terurai di alam dalam waktu singkat, seperti plastik. Katakan secara rerata, sebuah kantong plastik akan terurai secara alami dalam waktu 5 tahun. Namun sayangnya tidak semua jenis plastik akan mampu terurai secara maksimal dalam kurun waktu 5 tahun.

Sampah Plastik/assets.thesca.org

Mengingat bahan penyusun plastik berbeda-beda, secara kimia, plastik memang dibuat dari rantai karbon yang kita kenal sebagai ethylene. Sebuah rantai polycarbonate panjang lurus yang mudah putus bila terkena perubahan suhu panas.

Kenyataannya plastik perlu tambahan bahan yang dikenal sebagai addition, untuk membuatnya lebih kuat, atau setidaknya berwarna. Dan addition ini yang kemudian membuatnya sulit terurai dalam kurun waktu singkat.

Memilah sampah plastik dengan warna dan ketebalan yang dimiliki menjadi langkah terbaik bagi kita dalam mengolah sampah anorganik. Mengingat sampah ini bisa bertahan dalam waktu lama, kita bisa menggunakan sampah ini untuk tempat penyimpanan sementara atau tempat mengumpulkan sampah lain yang perlu dibuang di periode waktu tertentu.

Pemilahan sampah anorganik berupa padatan lain juga perlu dilakukan, seperti memisahkan material kaca dari sampah kita. Beberapa sampah anorganik yang mudah ditemui berbahan kaca adalah botol sisa minuman atau kecap. Sampah berupa pecahan kaca tentu kita tahu bahaya dibaliknya, dan perlu pengolahan yang berbeda dari sampah lainnya.

Cara terbaik mengolah sampah kaca adalah dengan mengemasnya dengan bahan kertas atau karton yang cukup tebal. Dengan begitu, saat pecah, tidak akan tercecer dan membahayakan orang sekitar. Kita bisa membungkus botol kecap dengan sampah kertas, kardus, atau kotak kayu yang kemudian bisa kita serahkan kepada pengolahan sampah untuk didaur ulang.

Sampah anorganik bukan hanya berbentuk padatan, beberapa ada yang berupa cairan yang tentu saja memiliki bahaya tersendiri bila tidak diolah. Dalam jangka panjang, sampah ini mampu mencemari tanah, menjadikan unsur organik yang ada di dalamnya rusak, mengganggu pertumbuhan tanaman, atau mengganggu sumber air yang kita konsumsi.

Salah satu sumber sampah anorganik berupa cairan berasal dari detergen yang tidak ramah lingkungan, atau sabun mandi berbahan kimia. Selain berbahaya bagi lingkungan, beberapa bahan ini juga berbahaya bagi kulit. Untuk itu kita bisa mengganti bahan detergen dan sabun yang lebih ramah lingkungan. Lalu menyediakan kolam netralisasi, bisa berupa tong yang bisa diisi dengan limbah tadi untuk ditambahkan coagulant berisi bakteri yang mampu mengolah cairan tersebut agar lebih aman dari sisi pH dan kandungan kimia berbahaya saat dibuang ke saluran pembuangan dan tanah.

Pekerja membuat tempat sampah organik dan non organik via TEMPO/Arie Rinto Novianto

Sampah anorganik lain yang berupa cairan adalah sisa minyak menggoreng yang sudah jenuh. Kita mungkin bingung apa yang hendak dilakukan dengan minyak sisa ini, mengingat tidak baik digunakan untuk memasak. Cara terbaik untuk mengolah minyak sisa ini adalah menempatkannya dalam sebuah botol plastik, memberi label bahwa itu adalah minyak bekas. Dengan demikian pengelola sampah nantinya bisa mengidentifikasi dan mengolahnya secara tepat di tempat pembuangan akhir.

Atau jika kalian memiliki pengetahuan lebih tentang proses pengolahan minyak menjadi minyak diesel, maka kalian bisa mulai membangun proyek rumahan kalian untuk memproduksi bahan bakar dari sisa minyak bekas kalian. Sejauh ini, proses termudah memang cukup dengan mengemasnya dalam bentuk botol, dan memberi label. Kita juga bisa menggunakan botol kaca untuk wadah bekasnya, namun perlu diperhatikan terkait sumbat yang akan menutup botol kaca tadi, sehingga minyak tidak akan tercecer atau bocor pada proses perpindahan dari tempat pembuangan sementara, ke tempat pembuangan akhir.

Tidak sulit untuk menjaga bumi ini tetap relevan sebagai tempat terbaik untuk tinggal bagi semua makhluk hidup, tinggal masing-masing dari makhluk hidup, terutama kita sebagai manusia yang diberikan akal pikiran oleh Tuhan, untuk memainkan peran lebih banyak agar mewujudkan misi tersebut.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Peduli dengan Lingkungan, Mulai dari Keluarga

IntervalSampah Kita

Alam Bebas Sampah sebagai Esensi Kawasan Wisata

IntervalSampah Kita

Siapkah Hidup Berdampingan dengan Sampah?

Pesona HutanSampah KitaTravelog

Sampahku, Tanggung Jawabku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *