Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Nihiwatu adalah semacam legenda di Pulau Sumba. Kita kadung membacanya sebagai hiperbola: terbaik, termahal, termewah.

Ketika mengunjungi Sumba lima tahun silam, tepatnya saat berdiri di karang raksasa di tepian Pantai Kerewee, tukang ojek yang menemani saya menyebut bahwa Nihiwatu tidak sembarangan dikunjungi siapa saja. Bahkan orang lokal tak bisa bebas bermain di pasir pantainya. Ombak di depan Nihiwatu—disebut God’s Left atau Occy’s Left di skena selancar—pun dijaga oleh satpam resor dengan motor skinya. Julien, teman saya, sempat merasakan diusir oleh “polisi ombak” Nihiwatu saat sedang berselancar di Sumba.

Saat kembali ke Sumba lima tahun setelahnya, cerita-cerita Nihiwatu tetap terdengar. Ketika berkendara dari Tambolaka ke Waikabubak, pada suatu siang akhir pekan yang terik, supir yang membawa saya rupanya sering bekerja untuk Claude Graves, “penemu” Nihiwatu. Ia mengisahkan bahwa resor supermewah itu tidak cuma dijaga oleh sekuriti biasa, tapi juga polisi dan tentara. Semuanya demi menjamin eksklusivitas para tamu Nihiwatu, yang tak jarang merupakan selebriti kelas dunia.

Jalan menuju pesisir Marosi, Pulau Sumba/Sarani Pitor

David Beckham, misalnya. Setidaknya ada empat orang yang memberi saya cerita soal Beckham dan Nihiwatu, tak terkecuali Ibu Bupati Sumba Barat. Sedangkan, Mas Wawan, supir yang membawa saya ke Waikabubak, mengingat Beckham sempat mengunjungi Kampung Adat Tarung dan anak-anaknya bermain bola bersama anak-anak Sumba. Om Peter, supir lain, mengingat bahwa hanya Bupati Sumba Barat dan jajarannya yang sempat berfoto bersama sang superstar. Yang lain tak kebagian.

Sebenarnya saya tak terlalu tertarik soal seleb-seleb yang menghabiskan puluhan juta rupiah per malam untuk tidur di kemegahan Nihiwatu. Saya lebih tertarik pada God’s Left, yang mungkin saja adalah ombak paling mahal di dunia.

Ombak Tuhan?

Kenapa ombak di depan Nihiwatu dinamai sebagai God’s Left? Hanya Tuhan yang tahu. Sebutan lainnya adalah Occy’s Left, merujuk pada Mark Occhilupo, surfer Australia yang menunggangi ombak itu dalam film surfing 1990-an, Green Iguana. Tapi, entah milik Tuhan atau Occy, yang jelas ombak kiri itu bukanlah untuk orang melarat. Kecuali menginap di Nihiwatu, kita takkan bisa berselancar di sana. Private & exclusive: itulah kata kuncinya.

Di Musa Homestay, Pantai Kerewee, saya sempat berbincang santai dengan sang pemilik. Ditengahi air kelapa muda, kami ngalor-ngidul ngobrol soal perselancaran di Kerewee, Sumba Barat, hingga akhirnya tiba di topik klasik itu: Nihiwatu. Menurut Mama, istri Bapa Musa, God’s Left hanya bisa dimainkan oleh tamu Nihiwatu. Tamu homestay-nya beberapa kali mencoba naik perahu ke spot itu dengan tujuan untuk berselancar di sana. Namun, mereka selalu dihalangi dan akhirnya diusir oleh sekuriti resor.

Ombak yang menggulung di Pantai Kerewee/Sarani Pitor

Mas Wawan punya versi lain. Dia menyebut bahwa sebenarnya God’s Left bisa diselancari surfer asing yang bukan tamu Nihiwatu, asalkan ada warga lokal Sumba yang menemani. Tapi, biasanya hal seperti itu akan diizinkan bila tidak ada tamu resor yang sedang berselancar. Hak eksklusif berselancar di ombak itu tetap dipegang tamu-tamu tajir Nihiwatu. Yang lain cuma menumpang. Surfer yang nakal akan diusir oleh “satpam ombak.” Jika tetap ngotot, polisi dan tentara bisa saja turun ke laut untuk mengusir si surfer nakal.

Jidat saya mengernyit. Ibu Musa seperti membaca kernyit di dahi saya. Ia juga bingung bagaimana caranya ombak dan laut bisa diklaim. Kira-kira begini yang diucapkan Mama: Okelah mereka bisa klaim tanah dan memagarinya, walaupun yang mereka punya cuma hak sewa. Tapi, bagaimana caranya mengklaim ombak? Laut itu ‘kan hak semua orang (berdasar ingatan saya, kata-katanya tidak persis, tapi sebisa mungkin maknanya tak direduksi).

Hal semacam itu sebenarnya bukan kali pertama saya dengar. Di Mentawai, hal serupa saya dengar dari staf-staf salah satu resor surfing di Siberut Barat Daya. Mereka menyatakan bahwa “ombak itu bebas, tidak ada yang memiliki” dan “datangnya dari atas (Tuhan),” sehingga klaim kepemilikan ombak—biasanya oleh resor-resor mewah—sangatlah absurd. Tapi, itulah yang kerap terjadi di banyak tempat di mana ombak telah menjadi aset, komoditi.

Di luar pagar Nihiwatu

Untungnya, kehidupan berlangsung normal di luar kawasan eksklusif Nihiwatu. Di Sumba, ombak untuk surfing tidak hanya terletak di God’s Left. Dari barat ke timur, di pesisir selatan Sumba, ombak-ombak memecah. Misalnya di kawasan Pantai Pero, di barat daya, ombak kanan dan kiri bergulung. Claude Graves menyebut ombak di sana sebagai “salah satu ombak paling mengerikan yang pernah kulihat.”

Bergerak ke arah barat, tepatnya di Pantai Kerewee, saya menemukan semacam enklav wisata selancar kecil-kecilan. Terdapat beberapa bangunan yang difungsikan sebagai homestay, surf camp, atau bahkan resor, yang utamanya menyasar peselancar, termasuk Musa Homestay yang saya hampiri. Di sana, selain berteduh dari matahari Sumba yang garang, saya mendengar cerita yang tak mungkin terjadi tanpa adanya ombak.

Salah satu sudut Musa Homestay/Sarani Pitor

Keluarga Musa pertama kali menerima tamu peselancar di rumahnya pada 2014. Saat itu, seorang surfer Prancis meminta izin untuk diperbolehkan tinggal di rumah itu selama ia mencari ombak di sekitar Kerewee. Ia diizinkan, tapi dengan fasilitas yang sederhana. Ia hanya tidur di tikar seadanya. Sekarang, maju lima tahun ke depan, bule Prancis itu telah memiliki surf camp yang letaknya tak jauh dari Musa Homestay.

Sejak tamu pertama itu, keluarga Musa semakin sering kedatangan tamu surfer. Lambat laun mereka kian serius menggeluti usaha akomodasi surfing. Mereka memperbesar rumah dan memperbanyak pondok-pondok tempat tinggal. Ibu Musa bersyukur usaha keluarganya cukup lancar, terlebih di bulan Maret hingga Oktober yang ramai peselancar.

Surfing, olahraga kuno dari Polinesia dan Peru itu, tak dipungkiri telah mengubah kehidupan keluarga Musa (serta banyak keluarga lain di Sumba dan daerah-daerah lain yang diberkahi ombak surfing). Entah untuk lebih baik atau lebih buruk, bukan saya yang menilainya. Toh, setidaknya, saya jadi bisa mengingat Anna Tsing: “We are contaminated by our encounters; they change who we are as we make way for others […] Everyone carries a history of contamination; purity is not an option.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Travelog

Bermain dan Belajar bersama "Art For Children" di TBY

Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Pala, Muara, dan Kejora (3)

Travelog

Belajar Memilah Sampah "Iso Bosok" dan "Ora Iso Bosok" di Kongres Sampah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *