IntervalSampah Kita

Melindungi Laut, Melindungi Kehidupan Semua Makhluk Hidup

Kita sama-sama mengetahui, Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar di Dunia. Sekitar 17.499 pulau terbentang sesuai lagu karangan R. Suharjo, dari Sabang sampai Merauke. Dengan luas total wilayah sekitar 7,81 juta km2, 70% sebagian besar adalah perairan.

 Maka tidak heran, jika kekuatan pariwisata di Indonesia akan didominasi oleh atraksi Pantai dan Laut. Hampir tiap daerah yang bersinggungan dengan bibir pantai pasti memiliki kekhasan pariwisata air. Sebut saja Pulau Bali, yang sejak lama dikenal sebagai pulau Dewata dengan jajaran pantai-pantai Indah, dan menjadi destinasi wajib para pelancong Domestik dan Mancanegara.

 Lalu ada Taman Nasional Bunaken, yang sudah terkenal dengan pemandangan bawah air yang kaya akan ekosistem bahari. Menjadi tujuan wisata wajib para penyelam untuk menikmati pemandangan bawah air yang luar biasa.

Dibalik semua kemegahan spot-spot wisata tersebut, tersimpan satu masalah klasik yang perlu menjadi perhatian. Dimana ada aktivitas manusia dalam jumlah besar secara kontinu, akan ada produksi limbah yang tercipta. Mulai dari yang paling sederhana, produksi sampah sebagai limbah pariwisata, hingga limbah air yang bercampur bahan kimia, seperti sodium (salah satu bahan dalam sabun/sampo), menghantui kehidupan laut tiap detiknya.

Mari kita perhatikan satu persatu masalah ini, dimulai dari sampah yang paling kecil, yaitu puntung rokok. Mengutip dari halaman kompas tentang 5 Jenis sampah terbanyak di Bumi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan dilakukan oleh jutaan orang. Setidaknya dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar atau selokan, dan akhirnya berujung di lautan.

Puntung tersebut tidak dapat terurai secara alami dalam waktu singkat, dan kemudian hanyut bersamaan dengan aliran air, bisa karena banjir, atau karena terbawa ke saluran pembuangan. Kemudian dikonsumsi oleh hewan laut, yang tidak bisa membedakan antara sampah tersebut dengan makanan alami mereka. Hal ini tentu mengganggu kesehatan dan kelangsungan hidup, mengingat mereka tidak bisa mencerna sisa puntung rokok.

Sampah lain yang mengganggu kehidupan laut adalah plastik dan styrofoam, yang sering ditemukan sebagai pengemas atau pembungkus makanan cepat saji yang dibawa ke bibir pantai. Sampah ini bisa mengapung bersamaan arus laut dalam waktu lama, dan setidaknya butuh 18 hingga 20 tahun sebelum akhirnya sampah tersebut hilang dari laut. Bisa karena terurai, terkonsumsi oleh hewan laut, atau kembali ke pantai terbawa arus.

Data dari WWF pada tahun 2019 dan dipublikasikan dalam situs plasticethics.com dibentuk sebagai infografis, bahwa Indonesia merupakan Negara penyumbang sampah plastik yang tidak diolah dengan layak kedua setelah Tiongkok.

Selain limbah yang berbentuk padatan, kehidupan air juga cukup terganggu dengan aktivitas pembuangan limbah sabun yang ditimbulkan dari tempat mandi cuci di beberapa wisata yang saluran pembuangannya langsung ke aliran menuju Laut. Sabun yang terlarut ini akan terakumulasi dalam air yang mengurai mineral dalam air dalam jangka panjang, mengganggu pembentukan endapan terumbu, yang akan membuat makhluk laut bergeser ke perairan yang lebih dalam, mengganggu rantai makanan.

Beranjak dari fakta-fakta diatas, menjadi sebuah renungan bagi kita sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan Laut, bahwa sebuah langkah perlu dilakukan untuk menjaga kehidupan demi masa depan laut Indonesia yang lebih baik. Membuang sampah yang tidak dikelola dengan seksama bisa sangat merugikan, dengan efek jangka panjang yang tidak bisa kita bayangkan.

Kita tidak bisa langsung menghentikan, tapi kita bisa mulai mengurangi, setidaknya kebiasaan untuk membuang sampah tanpa diolah terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Mulai dengan memilah sampah dalam beberapa kategori. Bukan hanya memilah organik dan anorganik, tapi memilah seperti sampah organik yang bisa diurai dalam waktu singkat dan butuh waktu lama, memilah sampah anorganik berdasar karakteristik bahan, plastik, kaleng, kaca, kertas, dan sebagainya.

Langkah mengurangi sampah di laut juga bisa kita mulai dengan pengelolaan sampah di rumah kita. Dengan mengumpulkan kedalam satu buah kemasan besar, dan memastikan tidak ada yang tercecer, mengikatnya dan melabeli sampah tersebut agar mudah dikenali saat masuk area pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir. Langkah ini juga cukup membantu sampah kita tidak tercerai saat dalam perjalanan pengangkutan menuju ke tempat pembuangan sampah.

Dan bagi kita yang menikmati aktivitas bermain air di laut, bisa mulai dengan mengurangi penggunaan produksi limbah kimia dari sabun, mengganti dengan sabun bilas yang ramah lingkungan, atau sabun berbahan organik/ramah lingkungan yang kini sudah banyak diproduksi secara komersial.

Menjaga kehidupan merupakan tanggung jawab kita bersama, mengurangi limbah yang bisa mengancam keberlangsungan kehidupan bisa menjadi langkah penting menjaga Bumi ini tetap asri, dan menjadi tempat tinggal yang layak bagi semua makhluk hidup. Dan kebiasaan tersebut ditularkan kepada anak cucu kita di masa depan.

Rujukan :

1.https://sains.kompas.com/read/2019/02/21/200000223/5-jenis-sampah-terbanyak-di-bumi-dari-puntung-rokok-hingga-styrofoam
2.https://www.plasticethics.com/home/2019/3/17/the-countries-polluting-the-oceans-the-most-with-plastic-waste

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Interval

Energi Terbarukan untuk Listrik Daerah Wisata Terpencil

IntervalSampah Kita

Alam Bebas Sampah sebagai Esensi Kawasan Wisata

IntervalSampah Kita

Siapkah Hidup Berdampingan dengan Sampah?

Interval

5 Quotes tentang Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *