Interval

Melabrak Machoisme Perjalanan

“Perjalanan dan tulisan perjalanan … telah lama ditandai oleh istilah-istilah yang partiarkis dan imperialis, yang telah tertanam di dalam gagasan yang maskulin/jantan tentang petualangan, penaklukan, kesenangan, dan eksotika. Sedangkan, feminin diartikan sebagai antitesis dari kebebasan dan pengalaman yang independen.”

Kira-kira itulah yang diutarakan Annette Pritchard dalam sebuah bab berjudul “Gender and Sexuality in Tourism Research” di koleksi A Companion to Tourism (2004). Dalam telaahnya, Pritchard sebenarnya sedang berusaha mendobrak dan melabrak cara berpikir kita—yang kita anggap natural dan baik-baik saja—tentang fenomena bias gender bernama pariwisata. Lebih jauh lagi, dia mencecar kajian pariwisata (tourism studies) yang dianggapnya tak melek gender dan justru melanggengkan praktik pariwisata yang maskulin.

machoisme
Seorang backpacker sedang melintasi pegunungan via pexels.com/Mike Tanase

Menurut Pritchard, struktur/sistem masyarakat yang bias genderlah yang telah membentuk aktivitas dan kajian pariwisata yang bias gender. Lalu, sebagai gantinya, pariwisata yang bias gender ini akan melanggengkan masyarakat yang bias gender pula. Begitu seterusnya, seperti lingkaran iblis yang tak kunjung habis.

Lebih dari satu dekade sebelumnya, kerangka berpikir yang ditawarkan Pritchard di atas pernah disinggung oleh Cynthia Enloe dalam Bananas, Beaches and Bases (1989). Dia menyebut pariwisata, secara mendalam, memang bias gender. Itu karena pariwisata didasari ide tentang maskulinitas dan femininitas, baik di masyarakat asal wisatawan maupun masyarakat yang dikunjungi. “Struktur dasar dari pariwisata internasional memerlukan partiarki agar bisa bertahan,” tukas Enloe, tanpa tedeng aling-aling.

Dari wisata seks hingga pemasaran yang seksis

Dalam praktiknya, pengejawantahan kerangka berpikir tersebut bisa beragam bentuk. Wisata seks adalah contoh yang paling sering dibahas dalam kajian yang menautkan pariwisata dan gender. Industri wisata seks ada karena industri wisata yang bias gender. Enloe menyebut ada tiga faktor yang melandasi industri wisata seks internasional.

Pertama, dari sisi supply, kemiskinan membuat banyak perempuan terpaksa masuk ke industri seks. Kedua, dari sisi demand, wisatawan laki-laki dari Barat telah “disosialisasikan” untuk memandang perempuan dari negara berkembang sebagai “penggoda yang eksotik.” Ketiga, sebagai penghubung supply-demand, adanya institusi (ekonomi dan politik) yang mendorong pria untuk melancong ke destinasi tertentu demi tujuan seks.

Studi Enloe berfokus pada wisatawan pria yang menikmati jasa seks perempuan. Kendati begitu, beberapa studi lain telah mengungkap hal yang sebaliknya. Sebagai contoh, di negara-negara Karibia atau Mediterania, banyak turis perempuan yang sengaja berwisata ke sana untuk terlibat dalam bisnis seks dengan laki-laki setempat.

machoisme
Swafoto di pantai via pexels.com/Rawpixel

Selain wisata seks, pemasaran wisata sering kali terjebak pada narasi yang seksis dan menempatkan perempuan sebagai objek yang subordinat. Belum lama ini, Menteri Pariwisata Uganda, Godfrey Kiwanda, meluncurkan kontes kecantikan bertajuk “Miss Curvy Uganda.” Mengutip The Independent, kontes ini adalah salah satu strategi promosi pariwisata yang diluncurkan Uganda untuk menarik minat wisatawan.

Dalam hal ini, wanita montok dilihat sebagai atraksi wisata semata, sejajar dengan alam liar dan taman nasional. “Kami diberkahi dan memiliki wanita-wanita molek yang luar biasa menarik untuk dilihat. Mengapa kita tak memakai mereka sebagai strategi untuk mempromosikan pariwisata kita?” tandas Kiwanda.

Tak sulit melihat betapa bermasalahnya logika berpikir Kiwanda. Logika itu didasari ideologi dominan yang seksis di industri pariwisata. Pritchard menyebut “tanda, simbol, mitos, dan fantasi yang terkandung dalam pemasaran wisata selalu ditujukan untuk pria.” Hal ini membuat (tubuh) perempuan sering kali dieksotisasi dan dierotisasi untuk alasan “promosi destinasi.” Lebih jauh lagi, ini menunjukkan gambaran dominan tentang siapa itu turis: “putih, Barat, laki-laki, dan heteroseksual.” Yang lain (dianggap) bukan.

Machoisme

Wisata seks dan marketing yang seksis hanyalah sekelumit contoh. Ada banyak bentuk lain dari relasi gender yang timpang di dalam dunia pariwisata dan perjalanan, mulai dari yang terang-terangan sampai yang tersembunyi. Machoisme, misalnya, sudah kadung menjadi unsur yang diterima secara taken for granted di skena perjalanan.

Saat meneliti soal backpacking, saya menemukan bahwa “macho” adalah salah satu identitas yang terkandung dalam backpacking (sebagai produk budaya massa). Identitas lainnya adalah “keren,” “petualang,” “anti-mainstream,” dan “tangguh.” Dengan kata lain, individu berusaha menjadi/merasa macho dengan melakukan perjalanan ala backpacker.

Elemen “macho” juga kentara di dunia pencinta alam. Sebuah artikel di Tirto mendedah hubungan antara kekerasan dan pencinta alam, dan menempatkan machoisme di tengah-tengah keduanya. “Kegiatan alam bebas, selain sebuah hobi, juga punya tujuan dalam membentuk karakter fisik, mental, inteligensi seseorang, kadang ditambah unsur “machoisme” yang sering kali menempatkan peserta didik dalam wilayah abu-abu apakah tengah menjalani gemblengan ataukah kekerasan,” tulis Suhendra dalam artikel itu.

melakukan perjalanan
Bersama-sama dengan kawan via pexels.com/Helena Lopes

Machoisme adalah “maskulinitas yang dilebih-lebihkan” (exaggerated masculinity). Dalam cerita-cerita perjalanan, kita mungkin sering membaca/mendengar anasir-anasir machoisme. Kutipan Pritchard di awal artikel secara tersirat menunjukkan bahwa istilah “penaklukan” atau “petualangan” bisa menjadi bentuk terselubung dari maskulinitas yang dilebih-lebihkan (dan kemudian dipamerkan) itu. Contoh: “Saya menaklukkan Mahameru” atau “saya menjelajahi Nusantara.” Oh, betapa machonya.

Pritchard menyebutkan bahwa, dalam konteks perjalanan dan pariwisata, “laki-laki diasosiasikan dengan aksi dan kekuatan, sedangkan perempuan dengan kepasifan.” Kembali lagi, anggapan ini tak bisa dicerabut dari akarnya, yaitu struktur/sistem masyarakat yang bias gender. Perjalanan (wisata) menerjemahkannya, kemudian secara tanpa sadar mengamplifikasinya.

Mungkin, sudah waktunya kita berhenti meletakkan unsur machoisme, penaklukan, atau eksotisme dalam perjalanan-perjalanan kita.


Referensi

Enloe, C. (1989). Bananas, Beaches and Bases: Making Feminist Sense of International Politics. Berkeley: University of California Press.

Pritchard, A. (2004). “Gender and Sexuality in Tourism Research.” In Lew, A. A., Hall, C. M., & Williams, A. M. (Eds.), A companion to tourism (pp. 316-326). Oxford: Blackwell.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Amsterdam: Dari Ingatan dan Kayuhan

Interval

De-eksotisasi Perjalanan

Interval

Pariwisata Inklusif versus Eksklusif, Menang Siapa?

Interval

Pariwisata yang Berlebihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *