Itinerary

Makanan Khas Purworejo Pengantar Pulang Malam

Ada banyak makanan khas yang bisa dinikmati di Purworejo. Sebab Purworejo cukup terkenal sebagai kabupaten lumbung pangan.

Ya, Purworejo memang salah satu pemasok logistik penting untuk daerah di Jawa Tengah. Termasuk untuk beras, bawang, jagung dan lainnya.

Jaraknya yang hanya kurang-lebih satu jam dari Jogja ini membuatnya cukup nyaman untuk dikunjungi saat sedang di Jogja. Seperti disampaikan Sobat TelusuRI dalam kisah berikut ini.

Empat orang sahabat ini pernah satu kost ketika sama-sama kuliah di Jogja. Meski telah terpisah jarak dan waktu, mereka berkumpul kembali di suatu hari di awal 2019 untuk menghadiri pernikahan teman mereka di Purworejo.

Menggunakan mobil sewaan, keempatnya berangkat bersama-sama dari Jogja ke Purworejo. Perjalanan yang relatif dekat itu dilakukan PP alias Pulang-Pergi tanpa menginap. Tapi, bukan berarti di perjalanan tak ada yang dicari.

Buruan kuliner mereka malam itu, sepulang dari kondangan, adalah mencari makanan khas Purworejo. Ya, bukankah tak ada yang lebih seru daripada jalan bersama teman, kulineran sambil nostalgia?

Clorot, Kudapan dengan Cara Makan yang Khas

Clorot

Clorot/Fransiska Sylvia Indarto (Flickr)

Makanan khas yang paling mudah ditemukan manakala berkunjung ke Purworejo adalah Clorot. Makanan ini juga biasa menjadi kudapan di acara pernikahan.

Memiliki banyak sebutan di berbagai daerah, makanan yang berbahan dasar tepung beras dan gula merah ini cukup umum ditemukan di Jawa, terutama di Purworejo.

Di setiap daerah, bentuk Clorot kurang lebih sama seperti yang ada di Purworejo, dibungkus dengan janur, kemudian di bentuk seperti terompet atau corong dengan simpul di sisi yang lebih besar.

Clorot dimasak dengan cara dikukus, lalu dimakan dengan cara membuka bungkusan janur. Nah, cara makannya ini yang konon menjadi inspirasi nama kue ini di Purworejo.

Dalam bahasa Jawa sehari-hari, istilahnya janur itu akan di-slorotke’ atau diturunkan, dari bagian yang besar ke bagian yang kecil. Nah, kata slorot itu yang kabarnya diadopsi jadi clorot.

Cenil

Midori, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons

Cenil, Cemilan Populer Warna-warni

Kudapan lainnya yang juga cukup populer adalah Cenil. Makanan berbahan dasar pati singkong yang dibentuk bulat, dengan variasi warna merah dan hijau ini menjadi makanan khas Purworejo yang juga biasa disajikan di acara-acara.

Cenil merupakan jenis makanan yang unik, selain karena warna, bentuknya kadang bervariasi tergantung pembuatnya. Ada yang membuat bulat seperti kelereng, dan ada juga yang membuat kotak. Namun intisarinya tetap sama.

Cenil biasa disajikan bersama taburan kelapa parut bercampur gula. Kombinasi ini akan memunculkan rasa manis gurih yang sedap. Di wilayah lain, cenil juga dikenal sering dikombinasikan dengan olahan singkong lainnya dan disajikan dalam pincuk daun pisang.

‘Teman baik’ cenil biasanya termasuk gatot, tiwul, awug, getuk dan jagung rebus pipilan. Seporsi cenil dan kawan-kawan ini biasanya cukup untuk sarapan pagi yang padat karbohidrat. Cocok untuk memulai hari yang penuh aktivitas fisik.

Tahu Kupat Purworejo, Apa Sih Bedanya?

Karena clorot dan cenil sudah dinikmati di acara, keempat sahabat itu sepakat untuk mencari makanan lain. Tercetuslah ide untuk menikmati Tahu Kupat khas Purworejo.

Ya, untuk yang belum tahu, Purworejo juga terkenal akan makanan bernama tahu kupat atau kupat tahu. Tapi apa bedanya dengan kupat tahu Magelang atau daerah lainnya?

Jadi begini, jika di tempat lain kuah atau bumbu kupat tahu dibuat dari kacang yang dihaluskan, di Purworejo bumbunya terbuat dari kecap atau rebusan gula jawa yang dicampur rempah-rempah kaya rasa. Rasa bumbunya cenderung pedas. Penyajiannya pun masih ditambah dengan sayur pelengkap seperti kol dan tauge yang renyah serta segar.

Lho, kok terdengar sangat mirip dengan kupat tahu Magelang ya? Atau bahkan tahu kupat di Solo? Nah, mungkin Sobat TelusuRI punya pengalaman lebih rinci soal perbedaan makanan dengan nama mirip ini? Yuk, sampaikan ke kami.

Pilih Sego Koyor atau Sate Winong?

Sate ayam winong

Sate ayam winong/Imamul Muttaqin Rokhmat (Flickr)

Selain kupat tahu, ada juga sate yang menjadi khas kota ini. Jika di Purwakarta ada Sate Maranggi, maka di Purworejo ada Sate Winong yang menjadi incaran para pemburu rasa makanan yang mengenyangkan.

Ah, tapi di titik ini, keempat sahabat itu beradu argumen. Sebab, selain Sate Winong ada juga makanan lain yang bernama Sego Koyor. Makanan ini cukup unik.

Koyor, atau urat sapi dalam sebutan masyarakat di Purworejo, menjadi bahan utama makanan ini. Diolah dengan bumbu krecek dan dituangkan ke atas nasi yang diletakan di wadah daun pisang. Terdengar sedap sekali.

Tidak seperti Jeroan atau gajih yang dijadikan bahan isian pada Krecek, Koyor turut menambah tekstur kenyal. Sensasinya berbeda dan konon tak bisa dilupakan.

Keunikan lain dari Sego Koyor adalah tidak disajikan di jam yang lazim. Warung sego koyor baru buka sejak tengah malam, tepatnya pukul 00:30 WIB, dan dijual dalam jumlah terbatas.

Informasi terakhir ini yang mengurungkan niat keempat sahabat mencoba Sego Koyor. Ya, apa mau dikata, meski sudah malam tapi belum juga sampai ke waktu bukanya.

Ternyata semangat petualangan mereka sudah mulai pudar, bersamaan dengan perut yang terus membuncit dan usia yang merangkak naik. Seandainya masih mahasiswa kinyis-kinyis, mungkin menunggu tengah malam untuk sego koyor sama sekali bukan hal berat.

Keanggunan Rasa dari Bumbu yang Khas

Pilihan jatuh pada Sate Winong yang ternyata lebih searah dengan jalan pulang. Mobil sewaan pun diarahkan ke (dan berhenti di) Sate Winong Pak Wasino yang beralamat di Jl. Letjend Suprapto, Tuksongo, Purworejo, Kec. Purworejo, Kabupaten Purworejo.

Sepintas, Sate Winong tidak berbeda jauh dari sate-sate daerah lain. Sate ini menggunakan daging kambing muda sebagai bahan utama dan bawang serta cabai sebagai pelengkap.

Namun justru kejutan terletak di saus yang dipakai. Sate di tempat lain umumnya pakai kecap atau bumbu kacang untuk sausnya. Sedangkan Sate Winong menggunakan saus dari rebusan gula jawa dan cabai.

Aha, terdengar familiar bukan? Ya, bahan dasar sausnya serupa dengan yang digunakan untuk membuat bumbu kupat tahu tadi. Hasilnya adalah sebuah paduan rasa pedas manis yang tak berlebihan kalau dibilang anggun. Sungguh menggugah selera.

Puas menyantap Sate Winong yang harganya murah, perjalanan pulang dilanjutkan dengan perut kenyang. Tapi sebungkus Lanting yang diniatkan sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah, seakan memanggil-manggil gerombolan yang gemar ngemil ini.

Yah, nasibnya tak akan bertahan lama. Sebentar lagi juga Lanting itu akan habis dikunyah. Tapi rasanya akan selalu dikenang. Seperti juga persahabatan mereka yang legit dan penuh bumbu suka-duka. Kenangannya akan selalu dirasa.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Kekayaan Nusantara itu Bernama Halili dan Topi Nunu

Itinerary

Camping di Waduk Sermo

Itinerary

Mencicipi Ragam Soto Nusantara

Itinerary

Ada Apa Saja di Museum Santet Surabaya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *