Interval

Lelana, dll.: Melacak Akar Sosiohistoris “Perjalanan” Hari Ini

Beberapa pekan lalu, saya mengobrol santai dengan Ayos Purwoaji. Kami membahas soal backpacking dan bagaimana istilah itu mengalami de-popularisasinya, setelah 10-15 tahun silam sempat meledak di Indonesia. Persoalan saya sebenarnya sederhana: bagaimana sebuah istilah bisa mendadak sangat trendi di era yang satu, lalu mengalami kemunduran atau bahkan hilang begitu saja di era yang lain?

Pada satu titik, Ayos teringat esai Onghokham di sebuah bunga rampai bertitel Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial (1984). Di esai itu dikisahkan beragam konsep/istilah lain yang secara sosiohistoris mengawali terma “gelandangan.” Kata itu berasal dari “gelandang,” artinya orang “yang selalu mengembara.” Onghokham tak sungkan memakai istilah “pengembara” dalam menyusun argumennya, terutama terkait mobilitas fisik tradisional di Jawa yang dianggapnya adalah prototipe gejala gelandangan.

Istilah lain yang disebut Onghokham adalah lelana (berkelana). Ayos menduga lelana bisa jadi adalah prototipe lokal dari apa yang sekarang kita sebut pejalan atau traveler, dengan napas yang sama ketika cendekia Barat menyebut bahwa drifter (dicetuskan Cohen, 1972) adalah prototipe backpacker. Secara khusus, Onghokham memakai istilah “ksatria lelana” untuk merujuk pada kaum priyayi yang jatuh dari kedudukannya, lalu menjadi pemberontak. “Ksatria lelana [adalah] seorang tokoh yang sangat diromantisir di antara para pengembara,” tulisnya.

Tiga warga dari suku Baduy berjalan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2016 via TEMPO/M. Iqbal Ichsan

Ketika membaca esai Onghokham itu, saya teringat percakapan dengan seorang informan saat dulu meneliti tentang backpacking sebagai gejala budaya massa di Indonesia. Informan itu bercerita bahwa ia dipengaruhi novel-novel Balada si Roy, karya Gola Gong, perihal hobi melakukan perjalanan ala backpacker. Disebutnya bahwa Roy adalah sosok pemuda yang mengekspresikan pemberontakan terhadap sistem, aturan, nilai, dan norma pada masanya. Gola Gong sendiri memakai istilah “avonturir.”

Menggelandang & “ngegembel”

Saya agak tercekat ketika membaca ulang transkrip interviu dengan informan di atas. Ia mengatakan, “[B]ackpacker tahun 80-an, 90-an itu sama-sama lifestyle, cuma kalo dulu lifestyle yang ngegembel, antikemapanan, lari dari sekat-sekat formalitas, terutama kota-kota.” Istilah “(nge)gembel” juga keluar dari mulut informan lain, yang menyebut backpacking sebagai “jalan-jalan cara gembel.” Jika kita cukup cermat mengikuti blog-blog backpacking medio 2005-2013, istilah “ngegembel” begitu kentara.

Pemakaian lema “gembel” dan “ngegembel” dalam narasi perjalanan membuat saya teringat istilah lelana dan gelandangan yang disebut Onghokham. Gembel dan gelandangan, dalam konteks urban kontemporer, sama-sama mengandung makna yang peyoratif. Kita mengidentifikasi keduanya dengan orang yang lusuh, berpakaian compang-camping, dan tinggal di jalan; atau, menyitir Parsudi Suparlan, orang yang berstereotipe “tidak menetap, kotor, dan tidak jujur.” Pertanyaannya: mengapa istilah yang peyoratif seperti “ngegembel” (atau menggelandang) dipakai sebagai salah satu kosakata dalam (sub)kultur perjalanan kita?

Mungkin kita bisa kembali ke makna “asli” gelandang, seperti yang dicatat Onghokham, yaitu orang yang selalu mengembara. Kembara dan kelana (beserta mengembara, pengembara, mengelana, dan pengelana) menunjukkan mobilitas/perjalanan dari satu titik ke titik lain. Kemudian, seiring waktu, kembara dan kelana identik pula dengan tualang (juga petualang dan petualangan). Di situ, ada unsur-unsur yang menyimbolkan entah apa; mungkin alternatif untuk wisata massal, atau sesuatu yang lebih praktikal.

Saya menduga lema “gembel” dan “lelana” dalam kultur perjalanan kita dimaksudkan untuk menunjukkan bentuk mobilitas fisik yang spesifik, seperti “serba murah,” “dekat dengan penduduk lokal,” “macho,” dan “berani ambil risiko” (berdasarkan interviu dengan informan penggemar Balada si Roy di atas). Seperti halnya “ksatria lelana” dalam esai Onghokham, perjalanan ala “gembel” bukan tak mungkin lebih pas diletakkan sebagai gaya hidup kelas menengah, yang memiliki privelese untuk keluar rumah dan “berkelana.”

Merantau & mudik: mobilitas ala Indonesia

Tulisan ini sebenarnya bagian kecil dari refleksi saya tentang kultur perjalanan pejalan Indonesia dalam 1-2 dasawarsa terakhir. Ketika saya mulai meneliti hal ini pada 2012-2013, backpacking sedang ada di puncaknya sebagai bentuk perjalanan (leisure) yang digemari. Belakangan bentuk-bentuk lain menyeruak, bahkan terlalu heterogen hingga saya/kita tak sempat merekamnya dan gagap dalam memahaminya.

Salah satu usaha (konseptual) yang saya tempuh adalah meletakkan perjalanan (wisata) ke ranah mobilitas. Di kajian pariwisata, mobilities turn dalam menelaah fenomena pariwisata telah dimulai sejak beberapa tahun ke belakang. Usaha ini memaksa saya untuk mencari-cari wujud perjalanan lokal, yang tumbuh secara organik di Indonesia. Dalam hal ini, bayangan pertama saya selalu tertuju kepada para pelaut Bugis yang berlayar menjelajahi samudra-samudra dunia sejak ratusan tahun silam. Kemudian, ada merantau dan mudik.

Pemudik Lebaran dengan sepeda motor melaju di jalur tengah Cadas Pangeran saat arus balik, Sumedang, Jawa Barat, Kamis, 29 Juni 2017 via TEMPO/Prima Mulia

Noel Salazar, dalam artikel The (Im)Mobility of Merantau as a Sociocultural Practice in Indonesia (2016), menyebut merantau sebagai tradisi mobilitas yang paling umum di Indonesia. Pada mulanya, tradisi ini mengakar kuat di masyarakat Minangkabau, hingga kemudian dianggap sebagai bentuk mobilitas skala nasional, terutama pasca-kemerdekaan dan setelah ekspansi kapitalisme membuat mobilitas fisik manusia atas nama penghidupan dan pekerjaan menjadi kian tak terelakkan. Selain itu, merantau mengalami perubahan, dari yang tadinya menitikberatkan pada proses “pulang” (temporer) menjadi perpindahan yang permanen.

Hal itu membuat relasi antara rumah dan tanah rantau juga mengalami pergeseran. Dalam konteks itulah praktik mudik (atau pulang kampung) menjadi relevan, terutama sebagai temali yang menautkan hubungan rumah-rantau, betapa pun rapuhnya dan sementaranya temali itu. Mudik tentu saja bukan hanya peristiwa religio-spiritual, tapi juga sosioekonomis dan kultural, yang menghubungkan pusat-pusat pekerjaan/pendidikan dengan desa-desa, orang tua dengan anak, dan mereka-yang-merantau dengan mereka-yang-tinggal.

Klaim atas kultur perjalanan

Tradisi merantau, mudik, dan istilah lelana, gelandang, kembara, dan sebagainya menunjukkan bahwa perjalanan telah membudaya di Nusantara sejak dulu. Praktik jalan-jalan (traveling) tak serta-merta datang dari luar, melainkan tumbuh secara organik di masyarakat kita. Karena itulah saya agak bingung ketika terma “backpacker” menjadi populer, juga istilah “traveler,” seakan-akan kita diajari melakukan perjalanan oleh orang “mereka.”

Saya tak akan masuk ke ranah analisis poskolonial di sini. Usaha melacak akar sosiohistoris “perjalanan” kita/pejalan hari ini adalah usaha dekolonial; mengklaim ulang kultur perjalanan sebagai tradisi kita. Tentu saja globalisasi memberi nama bagi pertemuan budaya serta memberi pintu masuk bagi berkembangnya gaya-hidup jalan-jalan ala backpacker. Tak ada masalah dengan itu. Sama sekali tak ada. Sebaliknya, popularitas istilah backpacking, backpacker, traveling, dan traveler menunjukkan relasi global yang kompleks, di mana perjalanan/perpindahan fisik menemukan nama-nama barunya di kultur lokal.

Seperti yang saya tulis, tujuh tahun lalu, backpacking/traveling telah menjadi budaya populer di mana kita mendefinisikan ulang makna dan praktiknya, seraya membuatnya menjadi milik kita. Persis seperti perumpamaan John Fiske soal celana jin; di mana kita membeli [celana] jin di mal dan merobeknya di bagian lutut untuk memberi pernyataan kultural tentang siapa kita. Sayangnya, kemudian, jin robek juga dijual di toko-toko. Ia dikomodifikasi, perlahan menjadi barang konsumsi yang laku di pasar, justru karena ia dilabeli “alternatif.”

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Artikel Terkait
Interval

Turisme, Cahaya, dan Pencarian yang (Tak) Sederhana

IntervalPilihan Editor

Suka Duka di Balik Panen Raya

IntervalPilihan Editor

NuArt Talks dan Renungan Menjelang Hari Anak Nasional

Interval

Mengenal H.O.K. Tanzil lewat “Catatan Perjalanan Pasifik, Australia, Amerika Latin”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *