Interval

Jalan-jalan dan Perbedaan

Musim panas 2017. Saya telah lama ingin melancong ke Bulgaria. Maka, ketika suhu menghangat dan liburan menjelang, saya bersiap mengepak ransel untuk meluncur ke Sofia.

Tapi, ada sedikit keraguan. Saat itu, popularitas ideologi sayap kanan di Eropa sedang naik-naiknya. Rasisme adalah tajuk biasa di media massa. Isu pengungsi dibingkai dengan frasa “krisis,” sehingga sentimen terhadap orang-orang non-Eropa dan non-putih kian menjadi. Bulgaria, negara Balkan di tenggara Eropa itu (“[The] East of the West,” kata penulis Miroslav Penkov), konon tak luput dari demam yang sama. Nyali saya kecut sedikit.

Saya ceritakan kekecutan itu pada seorang kawan. Jawabannya adalah satu dari sedikit kalimat yang tak akan bisa saya lupakan: “Justru karena itulah kamu harus ke sana. Mungkin selama ini orang-orang di Bulgaria tidak pernah bertemu orang seperti kamu. Kamu harus ke sana supaya mereka tahu manusia itu beragam. Pergilah.” Dengan kata-kata itulah saya berangkat ke Sofia dan menghabiskan berminggu-minggu di Bulgaria.

perbedaan
Cathedral Saint Alexander Nevski di Sofia, Bulgaria via unsplash.com/Alexandr Bormotin

Kenyataan tentu tak selurus yang diharapkan. Di Sofia, dua kali saya di-stop Pak Polisi untuk ditanyai paspor. Di Burgas, kala sedang nego-nego dengan supir taksi, dua orang polisi datang dengan mobilnya dan melakukan interogasi kecil-kecilan. Saya bilang saya cuma turis. (Bahkan, di Serbia, negara Balkan lainnya, polisi menghampiri hostel tempat saya menginap dan membangunkan saya di pagi buta hanya untuk mengecek identitas.) Tapi, toh saya baik-baik saja dan membiarkan perbedaan-perbedaan yang ada terekspos, bertemu, dan menjadi pengalaman yang riil—meski mungkin ada juga kecutnya.

Perbedaan: di antara komoditas dan keterbukaan pikiran

Dalam skena perjalanan dan pariwisata, perbedaan adalah tema yang klasik. Meski ada banyak perspektif, setidaknya saya ingin membahas dua di antaranya. Pertama, perbedaan adalah salah satu elemen terpenting dalam industri pariwisata. Saking pentingnya, Keith Hollinshead (1998) sampai melabeli pariwisata sebagai “industry of difference and otherness.” Akuilah, banyak di antara kita melakukan perjalanan untuk mencari suasana yang berbeda, melihat dan merasakan kultur yang berbeda, atau bahkan mendamba asingnya sebuah kota/desa.

Sosiolog Zygmunt Bauman (dalam wawancara dengan Adrian Franklin, 2003) menyebut ketertarikan terhadap yang liyan atau yang asing sebagai mixophilia, yaitu “sincere curiosity of the fascinating secrets which all otherness holds and the desire to learn them, to know and to see at close quarters how other people live, what they think.” Pejalan atau turis, saya cukup yakin, sebenarnya didorong oleh “rasa ingin tahu yang tulen” itu. Tak ada masalah di situ. Tapi, ketika pariwisata sudah menjadi industri (massal), perbedaan disulap jadi komoditas dan ketertarikan terhadap perbedaan disihir jadi semacam fetisisme. (Itulah kenapa “eksotis” adalah kata kunci paling jamak ditemukan dalam pemasaran wisata.)

perbedaan
Che Guevara di Museum of Socialist Art, Sofia, Bulgaria/Sarani Pitor

Kedua, selain sebagai komoditas, perbedaan juga kerap ditautkan dengan narasi tentang open-mindedness (keterbukaan pikiran). Jalan-jalan memberi kita kesempatan untuk bertemu, melihat, mendengar, merasakan, dan bahkan belajar sedikit tentang hal-hal yang berbeda dari diri/kehidupan kita. Dari perjumpaan itu, harapannya, pikiran kita akan menjadi lebih terbuka. Kita akan menyadari bahwa dunia itu tak sempit, tak cuma hitam-putih, tak hanya dihuni satu agama dan kultur, dan tak cuma punya satu sudut pandang.

Antropolog Noel Salazar (2015) menyebut jalan-jalan bisa menjadi bentuk dari praktik kosmopolitanisme, yang lewatnya manusia bisa mengumpulkan pengetahuan tentang perbedaan-perbedaan yang ada di dunia. Pada level yang lebih optimistis, beberapa studi bahkan menilik kemungkinan pariwisata sebagai alat perdamaian. Argumennya begini: jalan-jalan akan membuat pikiran orang lebih terbuka dan menerima perbedaan antarmanusia, dan dari situlah perdamaian dunia bisa jadi akan terwujud. Optimismenya sih oke, namun kenyataannya konflik dan perang masih terus berkecamuk di banyak lokasi. Padahal, jumlah wisatawan internasional terus melonjak setiap tahun.

Apa yang keliru?

Beberapa bulan ke belakang, ada satu pertanyaan yang sering menggelayuti pikiran saya. Jika jumlah turis semakin tinggi dan traveling telah menjadi tren di kalangan kelas menengah (artinya semakin banyak orang yang jalan-jalan), lalu kenapa belakangan gelombang populisme sayap kanan kian marak dan merebak? Apa yang salah dengan jalan-jalan beserta retorika “keterbukaan pikiran” di dalamnya? Omong kosong?

plovdiv bulgaria
Pohon natal di Plovdiv, Bulgaria via pexels.com/Anton Atanasov

Entahlah. Saya masih mencari-cari jawabnya. Tapi, jika harus menebak-nebak, mungkin itu karena kebanyakan wisatawan dan pejalan hanya mengonsumsi perbedaan sebagai komoditas belaka, entah itu dalam bentuk atraksi budaya, kuliner, heritage, dan sebagainya. Jalan-jalan hanya sebatas eskapisme kelas menengah urban. Cukup sampai di situ. Jika itu benar, wajar saja jika potensi keterbukaan pikiran tak muncul dari perjalanan-perjalanan kita hari ini. Ia cuma mendekam di sel-sel pikiran, dipenjara narasi-narasi mindless consumerism.

Atau mungkin itu salah. Kenyataan tak sesederhana itu. Dalam konteks masyarakat perkotaan, Bauman beranggapan bahwa manusia sebenarnya terjebak di antara mixophilia dan mixophobia. Jika mixophilia adalah ketertarikan terhadap perbedaan, mixophobia adalah ketakutan terhadap perbedaan. Dalam tegangan yang ambivalen inilah, mungkin, kita hidup di masa kini. Termasuk dalam konteks perjalanan (wisata), mixophobia dan mixophilia bersitegang, membentuk semacam kebingungan antara ingin tahu dan takut, antara suka dan tidak-suka, terhadap orang asing, agama yang berbeda, dan berbagai perbedaan sosio-kultural lain.


Referensi

Franklin, A. (2003). “The tourist syndrome: An interview with Zygmunt Bauman.” Tourist studies, 3(2), 205-217.

Hollinshead, K. (1998). “Tourism, hybridity, and ambiguity: The relevance of Bhabha’s ‘third space’ cultures.” Journal of Leisure Research, 30(1), 121-156.

Salazar, N. (2015). “Becoming Cosmopolitan through traveling? Some anthropological reflections.” English Language and Literature, 61(1), 51-67.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Interval

Mengaca pada Sri Lanka, Menilik Pariwisata Indonesia

Interval

Mojok di Diên Biên Phu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *