Pilihan EditorTravelog

Jakarta-Jogja 20 Jam: Migrasi dan Imajinasi tentang Kota

Should we have stayed at home, wherever that may be?

Elizabeth Bishop

Pada ruas Kanci-Pejagan, asap menyembul dari kap mobil. Lancer SL 82 yang saya tumpangi seperti meraung-raung meminta rehat yang sedikit lebih panjang. Overheat.

Setelah tol yang lurus terus, mobil ini seperti memahami kebosanan saya, yang saat itu sedang kebagian jatah menyetir, sedang Deddot Tengengean tidur pulas di kursi penumpang. Ia bangun di waktu yang tepat, melihat indikator heat yang terus menanjak naik, dan asap keluar beberapa saat kemudian. Saya menepikan mobil dengan segera, mematikan mesin, dan menikmati perjalanan yang memang harus super selo ini.

Sejak awal, saat memutuskan membawa mobil dari Depok ke Yogyakarta, saya memahami betapa pentingnya mindset untuk tidak terburu-buru. Saya mencari kawan menyetir yang selo pula. Dan kami mengeset rencana: 2 jam jalan, 1 jam istirahat, 2 jam jalan, 1 jam istirahat, begitu seterusnya, sampai sedan tua itu tiba di Jogja. Entah kapan.

Rencana itu sejatinya buyar setelah overheat. Sesudah overheat adalah overheat-overheat. Saya jadi lupa menghitung waktu karena sekarang semua ditentukan jarum di indikator heat yang ada di dasbor. Matematikanya jadi lebih simpel. Jika jarum sorong ke kanan terus, kami harus menepi dan mendinginkan mesin. Di ruas tol Semarang-Bawen, tong berisi air (untuk radiator) memberi kami ide untuk menepi. Kami menyesap kopi yang sedap di situ, seraya menikmati raung mobil-mobil lain yang kencang bergerak menuju selatan.

Membayangkan Yogyakarta

Saya selalu membayangkan tinggal di sebuah kota yang tidak terlalu sibuk, yang diukur tidak dengan berapa besar rumah, berapa banyak mobil, atau berapa rupiah deposito. “Berapa” adalah kata tanya metropolitan. Dan saya bukan tak bisa menjawabnya, tapi merasa ada yang janggal pada pertanyaannya. Saya lebih suka “bagaimana,” yang lebih kualitatif dan tak berusaha merangkum kerumitan-kerumitan empiris ke dalam angka-angka.

Tentu saja saya akan merindukan waktu-waktu yang nikmat di Commuter Line saat sepi, ketika saya bisa santai membaca buku—entah sambil duduk atau berdiri. Tapi, selebihnya saya akan baik-baik saja: mendekap dalam kota yang, meski terlalu kerap diromantisir, selalu menjadi negasi untuk Jakarta yang riuh dan tak henti mencari.

Melaju ke timur/Sarani Pitor Pakan

Dalam 20 jam Jakarta-Jogja, akhir Desember kemarin, sebenarnya saya sedang bergerak menuju apa yang selalu saya bayangkan sejak 8-10 tahun lalu. Prosesnya panjang. Saya bahkan mesti melakukan detour ke Wageningen untuk mencerna nonsens macam apa yang saya bayangkan sejak dulu dan risiko-risiko praktikal-filosofis yang menanti. Dalam rentang 8-10 tahun, kota-kota—yang saya tinggali, datangi, tumpangi, angani—seperti memberi saya klu-klu untuk jawaban dari gelisah-gelisah yang menahun di dada.

Tapi, tak ada jawaban yang final. Ketika Ring Road Utara terlintas 20 jam kemudian, yang ada hanya hipotesa. Kepala saya justru dipenuhi fragmen-fragmen yang tak paralel tentang hal-hal yang terjadi (dan tak terjadi) satu dekade ke belakang. Saya mengingat kalender-kalender yang robek serta membayangkan bagaimana robekan-robekan itu telah menjadi bensin yang membuat mesin Lancer SL 82 yang saya bawa terus menyala dan melaju.

Menjadi migran

Mobilitas itu diberi nama macam-macam: vakansi, migrasi, komutasi, dan lain-lain. Seiring waktu, dalam semangat yang posmodern, batas-batas di antara mereka menjadi kabur. Kita jadi kesulitan untuk mencerna perjalanan-perjalanan ini, terlebih di zaman yang kian “bergerak,” di mana mobilitas menjadi ruhnya. Di 2020, sama sekali tak bergerak—setidaknya dalam konteks urban—adalah semacam ketidakmungkinan.

Saya bergerak: meninggalkan rumah dan kota yang lebih dari 26 tahun saya tinggali, dan menuju kota di mana saya bukan “native” (apa pun itu makna native, pribumi, “asli”). Saya menjadi migran. Saya menyukai kata itu, karena enam huruf itu mengandung kategori-kategori yang saling bertubrukan: “rumah,” “asing,” “aku,” “mereka,” “asli,” “pendatang,” serta relasi-relasi yang menghubungkan kesemuanya dengan rumit.

Ketika menghabiskan dua tahun di Eropa Barat, isu “pengungsi” sedang naik di sana. Selain itu (1), migrasi adalah salah satu topik dosen pembimbing tesis saya. Selain itu (2), overtourism juga sedang jadi tema yang banyak dibicarakan. Jadi, saya kerap merenungi soal migrasi, mobilitas (perpindahan), dan konsekuensi politis-kultural yang dideritanya.

Salah satu dari sekian banyak perhentian antara Jakarta dan Jogja/Sarani Pitor

Sempat saya berpikir untuk tidak ke mana-mana, membayangkan beban yang akan saya berikan pada warga “lokal” ketika saya pindah. Tapi, cara pikir semacam itu menempatkan saya sejajar dengan orang-orang sayap kanan di Eropa yang antipati pada mereka yang datang dari seberang. Lalu saya berpikir: apa sebenarnya “lokal’ dan “bukan-lokal”?

Bukankah sebenarnya kota-kota kontemporer diisi oleh aliran (flow) manusia-manusia yang saling bergerak keluar-masuk? Kita campur baur di situ, seraya berbagi spasi yang sama dan memberi arti pada kehidupan satu sama lain. Saya membayangkan bapak saya yang dulu merantau dari Rantepao ke Cepu, lalu bertemu ibu saya, lalu sama-sama pindah dan menetap di Depok. Migrasi adalah kenyataan historis yang sejak dulu saya adalah pesertanya.

Pada akhirnya, Lancer SL 82 yang saya bawa ke Jogja telah menjadi buku catatan baru untuk itu: untuk migrasi yang mengantar saya dari rumah ke rumah yang lain.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
#dirumahajaTravelog

Cinere-Thamrin Hari Pertama Imbauan "Social Distancing"

Travelog

Cerita Kopi di Hari Liburku

Travelog

Cikuray, Kecil-kecil Cabe Rawit

Travelog

Suatu Malam di M Bloc Space

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *