Itinerary

Jadi Masyarakat Melayu Sesaat, Jangan Lupa Nikmati Kuliner Khas Melayu

Kuliner Melayu Ada yang bilang bahwa Indonesia masih satu rumpun dengan Malaysia, hal ini bisa ditemukan dalam salah satu kemiripan dalam hal pengolahan masakan dan bumbu yang digunakan. Jika perhatikan, masakan di Indonesia, terutama yang berasal dari pulau Sumatera, kaya akan bumbu kari, rempah, dan santan. Sebuah fundamental bumbu khas melayu yang kaya akan rasa gurih.

Maka tidak heran, kita bisa menemukan berbagai makanan khas Sumatera dan Malaysia yang memiliki kemiripan walau berbeda nama. Agar memperkaya khasanah kamu terhadap makanan khas melayu, berikut kami sajikan beberapa makanan khas melayu yang wajib kamu ketahui. Siapa tau saat berkunjung ke salah satu kota di Sumatera atau Malaysia, kamu bisa mencoba rasa yang kaya rempah dari tiap olahan makanan ini. Silahkan masukan kedalam bucket list ya.

Bubbor Paddas

Kuliner Melayu

Bubbor Paddas. Foto: Flickr/Nano Fakhrur Rozy.

Walaupun ada kata “paddas/pedas”, bukan berarti pedas beneran loh ya. Ini hanya perumpamaan bagi suku Melayu Sambas, dimana paddas yang berarti dalam makanan tersebut memiliki beragam sayuran dan rempah.

Satu-satunya rasa pedas yang terasa dalam masakan ini berasal dari lada yang telah disangrai. Pedasnya pun tidak berlebihan, hanya meninggalkan rasa pedas di lidah. Setelah sekian lama mengkonsumsi kuah, kamu akan mulai terbiasa dengan pedas dan hangat lada dalam Bubbor Paddas ini.

Bubur yang dijumpai biasanya terbuat dari nasi, berbeda dengan bubur yang satu ini. Bubur pedas terbuat dari beras yang ditumbuk hingga halus kemudian dioseng. Bubur pedas dipadukan dengan sayur-sayuran seperti pakis, kangkung, wortel dan daun kesum yang dimasukkan secara bersamaan ketika bubur sedang dimasak. Topping tambahan diatas bubur pedas biasa menggunakan ikan teri goreng dan kacang tanah sebagai pelengkap protein dalam sajiannya.

Kamu bisa menemukan bubbor paddas di daerah Kalimantan Barat khususnya Pontianak, Singkawang dan Sambas.

Seiring berjalannya waktu, bubur ini tersedia sampai ke negara tetangga yaitu Serawak, Malaysia. Harga satu mangkok bubur pedas bervariasi. Biasanya dimulai dari harga Rp 7.000,00 sampai Rp 10.000,00 tergantung tempat membelinya. Pokoknya bisa bikin ketagihan deh! Satu porsi aja udah bisa bikin kenyang, yakin mau nambah?

Cincalok

Kuliner Melayu

Cincalok. Foto: Flickr/Zul Mie

Makanan tradisional khas daerah pedalaman Kalimantan Barat yang difermentasi dengan sempurna menggunakan garam dan gula sehingga memiliki cita rasa yang khas gurih.

Masyarakat Pontianak menyebutnya cincalok sedangkan masyarakat pesisir berbeda penyebutannya yaitu peda’ atau bubuk. Bahan dasar cincalok adalah udang rebon yang biasanya didapatkan di pinggiran pantai. Cincalok dijadikan pelengkap sambal yang disantap dengan nasi putih hangat dan bisa dinikmati kapan saja.

Masyarakat melayu biasanya mencampur cincalok dengan cabe rawit, irisan bawang merah, tomat, dan air jeruk nipis.

Proses pembuatannya cukup rumit, karena beberapa tahap harus dilalui yang tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Cincalok yang banyak dijual di warung di Kota Singkawang bernilai mulai dari Rp 2.000,00 untuk porsi sekali makan hingga porsi yang lebih besar dengan harga yang bisa dibandrol dari Rp 15.000,00 hingga Rp 40.000,00 ke atas. Bisa nih beli share in jar toples kecil untuk persediaan kalau udah akhir bulan.

Pacri nanas

Kuliner Melayu

Pacri nanas. Foto: Flickr/Riana Ambarsari.

Pada umumnya, nanas dijadikan selai isi nastar atau rujak. Uniknya, masyarakat melayu mengolah nanas menjadi sayur menggunakan bumbu rempah kemudian dimakan bersamaan dengan nasi hangat.

Sekilas memang mirip seperti kari atau gulai kambing karena berwarna coklat kemerahan dengan warna khas kari yang harum. Ketika pertama kali mencoba merasakan akan terasa cukup renyah dengan kandungan air yang menyegarkan karena sedikit rasa asam segar tapi tak menutupi rasa gurih dan bumbu karinya. Apakah kamu tertarik mencoba memasak pacri nanas? Cuss beli nanasnya dulu.

Lempok durian

Kuliner Melayu

Lempok durian. Foto: Flickr/Eddy Setyawan

Lempok, dodol dari bahan dasar durian ini cukup terkenal di Sumatera, namun yang tidak banyak orang tahu adalah Lempok merupakan makanan olahan khas melayu siak, lho.

Lempok durian khas melayu siak sebenarnya tidak hanya terdapat di Riau saja, namun juga terdapat di daerah Palembang, Samarinda, Pontianak, hingga Bengkayang dengan pengolahan rasa khas daerah nya masing-masing.

Lempok khas durian menggunakan daging durian yang dicampurkan dengan sedikit gula pasir supaya bisa lebih tahan lama dan awet. Jika dimasukkan ke dalam kulkas akan bertahan lebih lama lagi selama 4 bulan. Tidak usah khawatir, diolah tanpa bahan pengawet. Adonan lempok dibungkus menggunakan plastik dan siap didistribusikan ke pasar. Ukuran lempok durian dijual dengan ukuran yang berbeda-beda mulai dari yang kecil seharga Rp 30.000,00 an hingga yang besar Rp 100.000,00 an.

Durian telah diolah menjadi lempok sejak lama, durian dikenal memiliki tekstur yang kenyal dan rasa yang manis, bahkan memiliki variasi rasa manis yang berbeda-beda tergantung varietas tanaman dan ketinggian tanah tempat durian tersebut ditanam. Namun karena tidak banyak yang menyukai durian karena alasan baunya yang tajam, beberapa petani durian kemudian mengolah durian menjadi makanan yang bisa mengurangi baunya, jadilah lempok.

Lempok durian banyak dijadikan oleh-oleh bagi para wisatawan yang berkunjung ke daerah melayu yang memiliki buah durian yang sangat banyak jika musim durian tiba. Kamu bisa mendapatkan di gerai-gerai khas buah tangan.

Tidak semua orang cocok dengan makanan khas melayu karena menurutnya rasanya berbeda dengan seleranya. Hmmm, tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Sekali coba mungkin bisa jadi makanan favorit.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Menelisik Sejarah di Lembah Tumpang

Itinerary

Film Balada Si Roy: Bukan Sekadar Bahan Nostalgia

Itinerary

Belajar Fotografi Bersama Arbain Rambey

ItineraryNusantarasa

Sehari Memanjakan Perut dengan Beragam Kuliner Khas Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *