Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Hostel lebih dari sekadar persoalan murah. Keputusan untuk memilih hostel terkadang bukan hanya keputusan ekonomi belaka, tapi juga terkait pilihan-pilihan kultural yang pelik. Seperti sudah saya jelaskan di bagian sebelumnya, hostel menawarkan pengalaman yang unik dan kesempatan untuk membentuk identitas seseorang.

Pengalaman anti-hotel dan identitas anti-turis yang melekat pada hostel tidak akan ada tanpa konteks yang melatarinya. Hostel hari ini, menurut saya, perlu dipahami dalam konteks consumer society dan experience economy. Meletakkan analisis hostel dalam konteks-konteks tersebut sangat penting untuk menjaga kritisisme kita, agar kita tak terjebak pada heroisme palsu ala anti-apapun yang hari-hari ini terasa sangat umum.

Masyarakat konsumen dan ekonomi pengalaman

Bauman (2004) dengan yakin menyebut bahwa “masyarakat kita adalah masyarakat konsumen.” Tapi, kenapa baru sekarang kita disebut sebagai “masyarakat konsumen” padahal konsumsi adalah bagian dari eksistensi manusia sejak dulu?  Menurut Bauman, terdapat pergeseran fundamental dari pentingnya etika kerja ke pentingnya estetika konsumsi. Dalam masyarakat postmodern, individu dilihat mula-mula, dan utamanya, dalam kapasitasnya sebagai konsumen. Berbeda dari bentuk masyarakat sebelumnya (Bauman melabelinya producer society) yang menitikberatkan pada proses produksi, konsumsi adalah perhatian utama bagi masyarakat hari ini. Apa yang kita konsumsi mendefinisikan siapa kita.

Analisis sosiologis tentang aktivitas konsumsi sebagai sesuatu yang tak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan dasar telah digagas Thorstein Veblen sejak 1889, lewat bukunya The Theory of Leisure Class. Ia mengajukan konsep “konsumsi yang menyolok mata” (conspicuous consumption) dalam paparan tentang leisure class Amerika Serikat waktu itu yang mengonsumsi sesuatu dengan tujuan untuk dilihat orang lain. Konsumsi adalah cara untuk memamerkan kekayaan dan menyatakan status sosial. Dalam konteks konsumsi waktu luang, Veblen melihatnya bukan sebagai retreatism, tapi sebagai wujud interaksi (untuk menyatakan sesuatu). Jadi, agar bermakna, konsumsi waktu luang butuh orang lain untuk melihat dan mengetahuinya.

Jauh setelah Veblen, Jean Baudrillard menerbitkan The Consumer Society (1970). Dia meletakkan aktivitas konsumsi dalam kerangka berpikir post-strukturalis. Baginya, konsumsi adalah sistem tanda, sistem komunikasi (seperti halnya bahasa), dan sistem nilai ideologis. Individu “dipaksa” untuk menggunakan sistem eksternal tersebut karena hanya dengan itulah mereka bisa saling berinteraksi dengan individu lain. Bisa ditebak, Veblen telah menginspirasi analisis Baudrillard tentang konsumsi yang “interaktif.”

konsumsi budaya
Kamar dorm di hostel backpacker Packer Lodge, Jakarta Barat via TEMPO/Frannoto

Selain benda, hari ini kita juga kerap mengonsumsi jasa dan pengalaman. Konon, kita hidup di era experience economy di mana konsumen mendamba pengalaman-pengalaman yang unik, bukan hanya sekadar membeli produk dan jasa. Produk dan jasa yang berkualitas dianggap tak terlalu menarik lagi. Kita ingin lebih dari itu. Pengalaman yang mengesankan adalah yang terpenting hari ini. Ekonomi semacam ini sangat relevan dengan pariwisata, karena apa pun yang turis lewati di sebuah destinasi sebenarnya adalah bentuk pengalaman.

Dalam industri pariwisata, experience economy memang penting, terlebih dalam kaitannya dengan pengelolaan destinasi. Morgan et al. (2009) menerjemahkan experience economy ke dalam tiga poin: (1) pergeseran dari proses pengambilan keputusan (decision making) yang rasional ke emosional, (2) transisi dari pemuasan kebutuhan ke pemenuhan cita-cita/keinginan, dan (3) perubahan dari konsumen pasif ke pelaku yang aktif. Kendati begitu, kita harus menyadari bahwa “pengalaman” dalam ekonomi pengalaman, terlebih dalam konteks pariwisata, bisa saja berupa “pengalaman yang dibuat-buat” (staged experience), demi memenuhi tuntutan konsumen ala era experience economy.

Menolak turisme massal sebagai pembeda

Tindakan mengonsumsi hostel sebagai pengalaman dan identitas, bukan hanya sebagai pilihan akomodasi termurah, dapat diartikan sebagai penolakan terhadap turisme massal. Di sini, hostel menjelma simbol untuk memisahkan diri dari turis konvensional.

Dalam Distinction (1979), Pierre Bourdieu mempelajari kehidupan sehari-hari kaum borjuis Prancis di mana selera dan preferensi sangat vital dalam kehidupan modern. Bourdieu membangun kerangka berpikirnya dengan berbagai konsep, seperti habitus, modal (capital), dan arena (field). Dalam pembacaan saya, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah: kita bertempur demi posisi kita di kehidupan sosial dengan menggunakan selera (taste) sebagai senjata. Dan, kita menciptakan pembedaan/distingsi satu sama lain atas dasar preferensi kultural.

Kemudian, dalam konteks masyarakat konsumen, kita menunjukkan preferensi/pilihan kultural kita melalui konsumsi (budaya) masing-masing. Dengan mengonsumsi, baik itu benda atau pengalaman, kita menyatakan sesuatu tentang diri kita. Bagaimana bisa? Itu karena hampir selalu ada nilai kultural dalam setiap barang, jasa, dan pengalaman yang dikonsumsi. Dengan mengonsumsi, kita melekatkan diri dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam apa-apa yang kita konsumsi. Dan, “memiliki” nilai bisa berarti pula klaim terhadap identitas.

konsumsi budaya
Tamu asing bersantai di depan kamarnya di hostel backpacker Packer Lodge, Jakarta Barat via TEMPO/Frannoto

Pengalaman, nilai, dan identitas yang melekat pada hostel dapat dipandang sebagai alat pembeda. Pengalaman anti-hotel dan identitas anti-turis menyimpulkan karakter distingtif hostel. Pada dasarnya, ia (berusaha) menolak turisme massal yang konvensional. Hostel melakukan penolakan itu dengan menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki turisme massal. Distingsi yang dimiliki hostel ini penting bagi mereka yang menolak turis konvensional. Tapi, kemudian, pembedaan ini dikomodifikasi dan disimplifikasi menjadi segmentasi pasar belaka.

Ujung-ujungnya konsumerisme

Komodifikasi terhadap pengalaman ala hostel, dalam semangat experience economy dan konsumerisme, telah mengubah watak dasar hostel. Richards (2016) mencatat dua perubahan besar dalam sektor industri hostel: (1) profesionalisasi dalam hal [bagaimana] hostel dikelola dan dipasarkan, serta (2) masuknya berbagai perusahaan besar dalam pangsa industri hostel. Dalam dua poin itu, pengalaman adalah kata kuncinya. Richards berujar, “keduanya memberikan konsep hostel yang berbeda, yang didasari bukan dari harga termurah atau fasilitas sederhana, tapi menyediakan pengalaman berkualitas dengan harga yang masuk akal.”

Fenomena ini juga disadari O’Regan (2010). Dulu, hostel biasanya dikelola secara lokal dan tidak terlalu formal. Hari-hari ini, hostel telah berubah menjadi ruang-ruang teatrikal yang mirip dengan jaringan glokal ala Starbucks. Menurut O’Regan, konsumen hostel sengaja diberi kebebasan yang cukup supaya mereka melihat dan merasa diri mereka tidak dikonstruksikan secara sosial (socially constructed). Padahal kebebasan itu ilusif, sengaja diciptakan bersama pengalaman ala hostel yang dibuat-buat demi retorika konsumsi budaya yang alternatif, identitas backpacker, anti ini-itu, dan sebagainya.

“Common room” yang biasa digunakan untuk bersantai dan berkumpul para tamu di hostel backpacker Packer Lodge, Jakarta Barat via TEMPO/Frannoto

Sebagai konsumen, pengguna hostel akhirnya terperangkap dalam kenyamanan yang familiar (Wi-Fi, common room yang homey, staf berbahasa Inggris) dan pengalaman-pengalaman artifisial ala hostel-hostel “professional.” Edensor (2001) mengingatkan kita bahwa organisasi, benda-benda, estetika, dan hal-hal lain dalam sebuah ruang lingkup turisme akan memengaruhi cara turis dalam menampilkan dirinya. Pada akhirnya, pengalaman dan identitas ala hostel hanyalah semacam “pertunjukan” yang sengaja dirancang oleh industri (hostel dan pariwisata). Ujung-ujungnya kita cuma angka dalam statistik.

Bagi industri hostel, kita hanyalah ikan-ikan di lautan. Mereka bukan satu-satunya nelayan di sana. Ada juga industri hotel dan akomodasi ala sharing economy (seperti Airbnb) yang berjuang menangkap kita: konsumen. Lalu, distingsi-distingsi akhirnya diciptakan sebagai umpan untuk memikat kita. Bagi sebagian dari kita, pengalaman anti-hotel dan identitas anti-turis terasa menarik, bukan? Jadi, begitulah ceritanya. Hostel hanyalah kisah teatrikal tentang konsumerisme, experience economy, pencarian akan pengalaman yang keren, dan hasrat (yang gagal) untuk menjadi sesuatu yang lebih dari turis. Kenyataan itu memilukan.


Tulisan ini disadur dan diadaptasi dari esai berjudul “Beyond Cheap: Consuming Hostel as Experience and Identity Formation” yang ditulis pada Februari 2017, di Wageningen, untuk tugas mata kuliah “Leisure, Tourism and Environment: Experiences and Environments.”


Bagian kedua dari seri “Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya”

Baca juga:

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Interval

Mengaca pada Sri Lanka, Menilik Pariwisata Indonesia

Interval

Mojok di Diên Biên Phu

Interval

Amsterdam: Dari Ingatan dan Kayuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *