Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Pengalaman pertama saya dengan hostel baru tiba pada akhir Agustus 2016. Adalah sebuah pagi musim panas yang cerah di Ljubljana ketika saya check in di Hostel H2O, yang terletak persis berhadapan dengan Sungai Ljubljanica. Saya masih ingat banyak detail tentang hostel itu. Setelahnya, masih di Slovenia, saya singgah di dua hostel lain di Koper dan Bled. Sesudah perjalanan itu saya seperti memiliki perasaan yang romantik terhadap hostel. Pada awalnya, ini tentang harga yang ekonomis. Hostel adalah pilihan akomodasi termurah untuk saya. Kemudian, ia menjadi lebih dari sekadar itu.

Secara tradisional, hostel berkaitan erat dengan berbagi (sharing) banyak hal, seperti kamar, dapur, kamar mandi, toilet, makanan, dan sebagainya. Selain itu, hostel dianggap sebagai antitesis untuk hotel dan terhubung dengan budaya backpacking (O’Regan, 2010; Kerry, 2013). Menurut Kerry, hostel adalah ruang material dan simbolis bagi backpacker. Jadi, untuk memahami hostel sebagai fenomena sosio-kultural, yang perlu kita lakukan adalah sedikit beranjak dari nilai ekonomisnya yang murah.

Esai ini saya tulis untuk memperlihatkan bahwa hostel memiliki makna simbolis yang berujung pada pengalaman yang unik dan identitas yang distingtif. Kemudian, secara kritis, saya ingin menggali narasi soal hostel ini dalam konteks masyarakat konsumen (consumer society) dan ekonomi pengalaman (experience economy). Sebelumnya, rasanya penting untuk sedikit menengok sejarah awal mula kemunculan hostel.

Hostel dan perjalanan anak muda

Tahun 1909 dipercaya sebagai tahun kelahiran hostel (meski ada versi lain yang menyebut kemunculannya bisa dijejaki sejak dibentuknya Young Men’s Christian Association [YMCA] pada 1844). Dikutip dari situs Hostelling International, 1909 adalah tahun ketika seorang guru asal Jerman bernama Richard Schirrmann melihat perlunya akomodasi untuk menampung siswa-siswa saat school trip. Saat itu, ruang-ruang kelas pun dialihfungsikan menjadi kamar tidur.

Berangkat dari kisah itu, hostel sudah lekat dengan perjalanan anak muda (youth travel) sejak mulanya. International Youth Hostel Federation (IYHF) yang didirikan pada 1932 pun menegaskan pertautan keduanya. Setelah Perang Dunia II berakhir, youth travel menjadi sesuatu yang booming, bahkan didorong oleh banyak negara agar anak muda saling memahami budaya-budaya yang berbeda. Meningkatnya perjalanan yang dilakukan muda-mudi secara tidak langsung menumbuhkan industri perjalanan khusus anak muda, termasuk di dalamnya adalah makin berkembangnya eksistensi hostel.

hostel
Kamar tipe dormitori di Kamar-Kamar, Fatmawati, Jakarta Selatan via TEMPO/Frannoto

Richards (2016) menegaskan konsep dasar hostel: “Akomodasi yang sederhana dan murah, yang dilengkapi fasilitas untuk tidur, makan, dan sanitasi yang kolektif. Ruang bersama diperuntukkan agar para tamu saling bergaul dan berinteraksi, seraya menciptakan ikatan di dalam komunitas hostel.” Secara logis, anak muda tentu mencari akomodasi yang murah dalam perjalanan mereka dan hal itu bisa didapat dengan konsep hostel yang menitikberatkan pada fasilitas yang digunakan bersama-sama (shared facilities). Semangat untuk saling berbagi pun paralel dengan gairah untuk bertemu dan mempelajari budaya orang lain.

Kemudian, hostel pun bergerak mengikuti arus zaman. Sekarang, industri hostel dikelola secara lebih profesional dibanding dulu, dan para pejalan muda saat ini mendamba kenyamanan yang lebih saat berpergian. Tapi, ada hal-hal yang tak berubah. Hostel masih menawarkan pengalaman yang berbeda dari jenis akomodasi lain. Pengalaman itu yang membuatnya tetap memikat banyak orang, termasuk saya.

Pengalaman anti-hotel

Latar sosio-historis di atas membentuk karakter dan pengalaman yang distingtif, yang “hostel banget.” Sebagai sebuah pengalaman, hostel menitikberatkan pada hal-hal seperti belajar budaya baru, bertemu orang baru, dan menemukan diri sendiri. Hostelling International, organisasi yang menaungi banyak hostel di dunia, menegaskan bahwa “ketika kamu tinggal di hostel, kami akan memastikan kamu mendapat pengalaman yang terbaik.” Jadi, hostel adalah tentang pengalaman dan “bukan hanya tentang tempat untuk singgah.”

Tentu saja, pengalaman adalah aspek yang sangat penting dalam perjalanan. Dan, perlu diingat, pengalaman tak akan terjadi di ruang hampa. Ia butuh ruang untuk jadi ada. Di sisi lain, ruang butuh pengalaman untuk menjadi tempat yang bermakna. Di titik inilah saya memahami hostel sebagai salah satu ruang di mana pengalaman traveling bisa terjadi. Lalu, seperti apa pengalaman ala hostel?

Sering kali kita lebih mudah memahami sesuatu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lain, dalam hal ini adalah hotel. Clifford (1997) menggambarkan hotel sebagai “tempat yang kamu lewati begitu saja, di mana pertemuan-pertemuan di dalamnya hanya sepintas dan manasuka (arbitrer).” Karena O’Regan (2010) menyebut hostel sebagai antitesis hotel, saya menyebut pengalaman ala hostel sebagai pengalaman anti-hotel. Hostel adalah tempat di mana pertemuan-pertemuan yang terjadi di dalamnya tidak sepintas dan tidak arbitrer.

Hal ini membuat saya mengingat Freiburg, pada sebuah pagi musim gugur saat saya check in di Black Forest Hostel. Saat itu matahari belum tampak betul, masih ada sisa remang malam. Saya mengetuk pintu hostel dan seorang staf menyilakan saya masuk. Saya dibawa bukan ke meja resepsionis, seperti lazimnya proses check in, tapi ke dapur. Dia menawarkan segelas kopi dan kami bercakap-cakap bersama seorang tamu lain. Pada satu titik, dia berkata kira-kira begini: “Aku sudah kerja di hostel ini selama tiga tahun. Aku sangat menyukainya. Aku selalu bertemu berbagai macam orang tiap harinya, dari mana-mana. Seperti sekarang. Aku sedang menikmati kopi pagiku dengan pria-pria asal Indonesia dan Paraguay. Siapa yang bisa membayangkan hal seperti ini? Inilah hal terbaik yang bisa kudapatkan.”

hostel
Para tamu asing mengobrol di ruang dapur Packer Lodge, Jakarta Barat via TEMPO/Frannoto

Kutipan di atas, bagi saya, menyimpulkan apa itu hostel. Ia adalah semacam titik di mana orang-orang berkesempatan untuk bertemu orang-orang baru di situasi yang informal dan berbagi kehidupan bersama selama beberapa hari/minggu, dengan cara memakai fasilitas-fasilitas kolektif, seperti dapur, toilet, komputer, mesin cuci, buku, dan sebagainya. “Sharing” adalah kata kunci penting karena ia memberi sejumput rasa kebersamaan di antara para tamu hostel. Kebersamaan inilah yang membedakan hostel dengan jenis akomodasi lain.

Hal-hal di atas sangat berbeda dengan hotel yang lebih formal, lebih individualis, dan tidak seinteraktif hostel. Jika orang menginap di hotel, itu bukan tentang bertemu orang baru atau belajar budaya yang berbeda. Hotel hanyalah tempat untuk tidur. Di sana, kita tidak berharap untuk berbagi kamar dengan banyak orang asing, untuk memasak sambil mengobrol dengan orang yang baru dikenal, untuk berbagi cerita dengan staf, dan untuk menonton film bersama-sama di common room. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua hostel menawarkan pengalaman yang “ideal.” Terkadang interaksi di hostel bisa saja kaku dan tak alamiah, yang berujung pada pertemuan yang sepintas dan manasuka, seperti di hotel-hotel.

Identitas anti-turis

Istilah hostel dan backpacking terasa ekuivalen. Meski belum tentu tepat pada level individu, kultur backpacking tak bisa lepas dari kultur hostel. Demikian pula sebaliknya. Jika kita menengok lima pilar ideologi backpacking yang dirumuskan Bradt (1995), tiga terkait hostel: berpergian dengan bujet rendah, bertemu dengan orang-orang yang berbeda, dan menjadi/merasa bebas, independen, serta berpikiran terbuka. Sementara itu, jika merujuk pada kriteria backpacking dari Pearce (1990), tiga juga sejalan dengan konsep hostel: pilihan terhadap akomodasi murah, pertemuan dengan pejalan lain, dan aktivitas yang informal.

Lebih jauh lagi, O’Regan (2010) mengelaborasi hubungan mesra antara backpacking dan hostel. Menurutnya: “Hostel adalah jaringan akomodasi yang berorientasi pada backpacker, yang secara simbolis dan material merupakan bagian nyata dari praktik kebudayaan backpacker. Hostel adalah bagian dari sistem global yang memungkinan, memengaruhi, dan membentuk arus (flow) backpacking (vice versa). Hostel adalah pintu gerbang untuk masuk ke gaya hidup backpacking, yang sangat penting untuk memperbarui dan mengembangkan lifestyle itu.” Secara lebih material, O’Regan menjelaskan hostel sebagai “infrastruktur penting dan bangunan pokok yang melaluinya orang mengasosiasikan diri dengan backpacking” dan “tempat yang ditujukan untuk mengonsumsi dan menampilkan narasi mobilitas spasial, pencarian pengalaman, performans, dan identitas.” Singkatnya, hostel adalah material dan simbol penting bagi perjalanan backpacking.

hostel
Himbauan dan aturan untuk tamu di Packer Lodge, Jakarta Barat via TEMPO/Frannoto

Backpacking sering kali disebut sebagai subkultur dari turisme massal dan backpacker sebagai anti-turis (Power, 2010; Welk, 2004). Backpacker biasanya menolak hal-hal yang turistik untuk membedakan diri dari turis. Pilihan itu bukan hanya soal menghindar dari atraksi dan destinasi turisme massal, tapi juga tinggal di akomodasi yang berbeda dari turis. Usaha tersebut adalah persoalan identitas. Kerry (2013) menjelaskan bahwa seorang backpacker berusaha untuk membentuk identitasnya sebagai backpacker dan akan marah bilang dituduh dengan sebutan “turis.” Jadi, tak salah bila ia menyebut hostel sebagai tempat simbolis untuk backpacker.

Sekali lagi, hal ini memperkuat ide bahwa hostel bukan hanya sekadar tempat fisik. Ia mengandung makna simbolis yang berarti sangat penting dalam proses pembentukan identitas backpacker. Hostel adalah konteks spasial di mana backpacker mengembangkan, menampilkan, dan mempertahankan identitas anti-turis miliknya. Singkat cerita, hostel tak hanya simbol budaya backpacking, tapi juga sebuah panggung (stage) untuk backpacker menampilkan identitasnya dan memisahkan dirinya dari turis konvensional.


Tulisan ini disadur dan diadaptasi dari esai berjudul “Beyond Cheap: Consuming Hostel as Experience and Identity Formation” yang ditulis pada Februari 2017, di Wageningen, untuk tugas mata kuliah “Leisure, Tourism and Environment: Experiences and Environments.”


Bagian pertama dari seri “Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hanifati Radhia dan Pengalamannya Menjadi Pendamping Desa

Interval

Hannif Andy dan Desa Wisata Institute: Gotong Royong Membangun Desa Wisata

Interval

Ranar Pradipto: Mempromosikan pariwisata Indonesia lewat Fotografi

Interval

Solilokui Jalan Tol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *