Pilihan EditorTravelog

Harus Kembali ke Batu Katak untuk Melihat Amorphophallus yang Mekar (1)

“Di sini, ada itu yang namanya Batu Katak. Tapi batu ini tidak setiap saat bisa terlihat. Mistik, lah! Batunya ada, tapi kalau kita ke sana, nggak kelihatan. Ada hari-hari tertentu untuk bisa melihat batu tersebut. Itu pun harus bersama juru kunci.” Pak Bahagia, seorang pemandu di Ekowisata Batu Katak, menjawab rasa penasaran saya mengenai asal usul nama Batu Katak.

Iya, namanya Bahagia. Orang di sini memanggilnya dengan nama Pak Hepi (Happy), lebih mudah diucapkan. Kami bertemu kembali di perjalanan saat trekking di Gunung Kapur karena saya berjalan cukup lambat dan tertinggal oleh rombongan. Ia menjadi sweeper para peserta yang berada rombongan paling akhir hari itu. Kami tak berbincang banyak, karena saya kemudian berjalan lebih cepat untuk mengejar teman-teman lain di depan dan minggel dengan pemandu lain. Saat briefing sebelum trekking mulai, ia sempat memaparkan beberapa hal terkait Ekowisata Batu Katak.

Awalnya saya kira, nama Batu Katak diambil dari nama batu yang menyerupai katak. Sederhana. Karena memang penamaan tempat di Indonesia kerap kali berdasarkan temuan, atau hal-hal identik yang ada di tempat tersebut. Misalnya saja, Jatingaleh yang mendapatkan nama dari cerita bahwa dulunya ada dua pohon jati yang berpindah. Ngaleh, dalam bahasa Jawa artinya pindah. Atau, Pantai Siung yang namanya diambil dari sebuah tebing mirip dengan siung (taring) binatang. Ada juga kisah Surti yang penuh kasih sayang merawat anaknya yang sakit-sakitan menjadi latar belakang penamaan Pantai Siung (akronim dari kasih biyung; dalam bahasa Indonesia kasih sayang ibu).

Ekowisata Batu Katak
Ekowisata Batu Katak/Mauren Fitri

Pagi itu, setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit dari Bukit Lawang Ecolodge—tempat menginap—saya dan rombongan tiba di kawasan Ekowisata Batu Katak yang terletak di Dusun Batu Katak, Desa Batu Jongjong, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Mengutip dari laman resmi Taman Nasional Gunung Leuser, secara pengelolaan, kawasan ini terletak di Resor Bukit Lawang SPTN Wilayah V Bahorok,  BPTN Wilayah III Stabat.

Kawasan ini memiliki potensi hutan yang menjadi “ladang” Amorphophallus atau bunga bangkai, dan juga rumah untuk beberapa satwa endemik seperti orang utan, gibbon, serta siamang. Dari informasi yang saya dapat, ada lebih dari 10.000 bunga Amorphophallus tumbuh di sini. Kebanyakan tumbuh di kawasan Gunung Kapur. Sedangkan untuk bunga Raflesia arnoldi, tumbuh di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

biring manggis
Penari biring manggis/Mauren Fitri

Suara musik mulai terdengar sesaat sebelum pembukaan kegiatan familiarization trip. Empat orang perempuan mengenakan pakaian khas Karo berwarna merah berdiri di ujung pendopo Orchid Bungalow. Sebelum mereka menampilkan tarian biring manggis, kami berbincang sejenak sambil menikmati sirup asam gelugur.

“Apa arti biring manggis, Dek?”

“Hitam manis, Kak!” jawab salah satu dari mereka.

Sirup asam gelugur ini cenderung berasa manis. Tak seperti buahnya yang asam.  Sirupnya berwarna kuning kecokelatan, tapi setelah diolah menjadi minuman, warnanya berubah menjadi kuning seperti warna buahnya. Menyegarkan, seperti sirup-sirup pada umumnya. Apalagi saat tersaji bersama es batu. Sayangnya, butuh waktu cukup lama untuk masyarakat percaya diri bahwa asam gelugur merupakan potensi yang bisa dikembangkan menjadi produk oleh-oleh unggulan. Untuk mereka, produk-produk olahan seperti ini terkesan “biasa”, padahal menurut saya justru ini yang menjadi ciri khas karena jarang ada di tempat lain.

Masyarakat di Langkat biasa menggunakan buah gelugur sebagai pengganti asam jawa saat memasak. Kalau dikeringkan, si asam gelugur bisa jadi pengawet alami. Belakangan, potensi ini dikembangkan menjadi salah satu produk UMKM pilihan. 

Mejuah-juah, mejuah-juah…”

Salam khas masyarakat Karo ini menjadi pembuka yang terucap oleh Zuah Bangun, Program Officer, DESMA Center. Masyarakat di sini biasa menggunakannya sebagai kata ganti halo. “Kalau di Medan kata sapaannya horas, kalau di sini mejuah-juah,” lanjutnya. “Kalau di Langkat, ahoi,” ucap Ibu Lorisma yang berada di sebelah saya menjelaskan lebih detail.

Saya baru kali pertama menginjakkan kaki di Langkat, penasaran dengan suku Batak yang ternyata ada banyak. Tampak dari bahasa sapaannya saja, cukup beragam. “Di Tapanuli Utara itu [sukunya] Batak Toba, kalau Parapat menuju Medan, tepatnya di kawasan Simalungun ada Batak Simalungun. Di sini ada Batak Karo, sama dengan di Berastagi, ada Batak Toba, Batak Mandailing, juga Pakpak yang dia berbatasan dengan Aceh Singkil (Aceh Tenggara). Lalu Tapanuli Selatan, perbatasan antara Sumatera Utara dan Sumatera Barat, punya bahasa yang berbeda meski sama-sama suku Batak,” lanjut Bu Lorisma.

Tak hanya bahasa, ternyata adat, kain, makanan, hingga motif tenun di masing-masing suku Batak ini juga berbeda satu sama lain. Mungkin ini karena berdasarkan benda-benda alam yang ada di sekitar tempat tinggal masing-masing. Namun satu hal yang cukup menarik, ada satu kesamaan di antara seluruh suku Batak yang ada yakni simbol binatangnya. Semuanya sama, yakni cicak.

“Ray itu kan punya biro perjalanan yang namanya Boraspati. Nah, boraspati ini binatang yang sangat diagungkan oleh orang Batak pada umumnya karena melambangkan kemakmuran dan kesuburan. Di semua orang Batak ada.”

Belum selesai kami berbincang, biring manggis hadir menjadi pengantar hari yang bersemangat.

Menurut Bang Zuah, Batu Katak menjadi salah satu tempat terbaik untuk get lost, karena selain tidak ada sinyal selular, orang-orang yang datang ke sini bisa lepas dari pekerjaan. Kebanyakan wisatawan yang ke sini punya kehidupan hectic yang serba cepat, makanya mereka datang untuk lepas dari segala hal tersebut, bukan untuk mencari tempat yang ter-cover wifi dan sebagainya.”

Ia menegaskan, “Sulit untuk seseorang ter-distract sesuatu di sini.”

“Hampir semua wisatawan yang ke Batu Katak, memang mencari hal yang seperti itu. Bukan seperti di Bukit Lawang yang sudah ada treknya. Mereka [wisatawan] lebih suka kegiatan seperti bird watching, mengamati dan melihat yang ada. Kalau dapat melihat satwa ya itu rejeki, kalau nggak ada, dibuat fun aja!” lanjutnya.

Selain trekking di Gunung Kapur, ada beberapa aktivitas seperti trekking Goa Air, camping, tubing Sungai Berkail dan Sungai Sikelam, serta caving ke Goa Sibanyak yang bisa wisatawan jajal ketika berkunjung ke sini.

Agenda saya dan rekan-rekan lainnya hari itu adalah short trekking melintasi hutan Gunung Kapur dengan estimasi waktu kurang lebih dua jam dan tubing di Sungai Berkail. Jika beruntung, di sepanjang jalur trekking kami akan bertemu dengan satwa endemik hingga melihat bunga endemik Amorphophallus yang sudah mekar. Jantung saya berdegup lebih kencang, ini kali pertama kembali trekking semenjak pandemi.

Lubuk larangan
Lubuk larangan di Batu Katak/Mauren Fitri

Usai pembukaan, kami beranjak menuju jalur trekking. Kami berjalan berlawanan arah dengan aliran sungai. Dari atas, airnya tampak bening berwarna hijau. Beberapa orang tampak sedang memancing sembari berbincang satu sama lain. Masyarakat Batu Katak sepakat untuk menerapkan lubuk larangan—salah satu bentuk kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya perikanan perairan sungai—yang mana masyarakat tidak boleh mengambil ikan di sungai, selain dengan cara memancing.

“Bahkan menangkap ikan dengan menggunakan tangan pun tidak diperkenankan. Jika menangkap dengan sarung tangan, orang bisa mendapatkan ikan cukup banyak, sedangkan memancing, jumlah ikan dapat dihitung,” terang Zuah. Oleh karena itu, lubuk larangan menjadi wujud prinsip konservasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap sumber daya perikanan perairan sungai.

Beberapa tahun lalu, ada program pelepasan 3.000 ikan jurung di Sungai Sikelam dan Bekali. Ikan jurung terkenal sebagai ikan seserahan para raja, karena langka dan tidak bisa dibudidayakan. Satu kilogram, harganya bisa mencapai Rp900.000. Nah, di Batu Katak, hanya dengan memancing, kita bisa mendapatkan ikan jurung. 

“Mancing di sini tidak berbayar, nggak ada rate-nya sama sekali. Masyarakat setiap sore boleh memancing, dan itu tidak dilarang sejauh mereka tidak menyetrum, meracuni, menjala, atau menangkap ikan menggunakan tangan.”

Sebelum masuk hutan, saya melewati jembatan besi, lalu bebatuan menyerupai stalaktit goa yang menyambut di sisi kanan. Warnanya krim, kecokeletan, di beberapa sisi berwarna hijau penuh dengan tumbuhan lumut. Di bawahnya, ada beberapa genangan air sisa hujan semalam, namun tak banyak. Di sisi kiri, air jernih sungai masih tampak dari pandangan. Jarak trekking kami hari itu tidak terlalu panjang, hanya sekitar 3-4 km saja, namun karena trek berliku, banyak tanjakan dan turunan, jadi terasa berjalan lebih dari 10 km.

Kami kemudian memasuki kawasan hutan basah. Vegetasi masih belum begitu rapat, pohon-pohon tinggi belum banyak saya temui. Daun kering menempel pada tanah yang masih basah. Sampai akhirnya saya mulai terperangah. Belum ada 15 menit perjalanan, kami bertemu mata air. Di sini, Pak Hepi mulai menceritakan tentang Gunung Kapur kepada saya dan Pak Johan yang saat itu berada di barisan paling belakang.

Dulunya Gunung Kapur merupakan hutan masyarakat. Hingga pada tahun 1997 sebuah perusahaan membeli lahan di sini sebesar 210 hektare untuk menjadikannya pabrik semen. Karena Gunung Kapur terletak di Batu Katak, masyarakat mengambil kesimpulan jika kawasan berubah menjadi pabrik semen, maka kampung akan hilang. “Ada kemungkinan kampung akan mendapatkan relokasi, entah di mana.”

Menjadikan Batu Katak sebagai kawasan wisata menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan kampung. Nilai tambahnya, masyarakat sudah lama menghentikan perburuan dan penebangan liar. Mereka juga berkomitmen untuk bersatu melestarikan hutan kembali. Tahun 2013, Wisata Batu Katak resmi buka. Hingga kini, tak ada pembangunan pabrik semen dan pihak perusahaan mendukung penuh program ekowisata yang masyarakat gagas. Hutan Gunung Kapur pun, beralih fungsi menjadi hutan konservasi dengan kepemilikan tetap di pabrik semen tersebut.


Pada 22-25 September 2022 lalu, TelusuRI mengikuti kegiatan Familiarization Trip Ekowisata Batu Katak, yang diselenggarakan oleh DESMA Center sebagai tindak lanjut dari kegiatan Digitalisasi dan Promosi Ekowisata serta Penguatan Kapasitas Pelaku Ekowisata di Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Artikel Terkait
Travelog

Kembali ke Fatubraun

Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Perjalanan LestariTravelog

Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Overtourism, Mengintai Dibalik Ingar-Bingar Pariwisata Indonesia