IntervalSampah Kita

Hal itu dimulai dengan Sebuah Kata, Haus

Perjalanan mengunjungi tempat-tempat menakjubkan sepertinya menjadi idaman banyak orang. Kegiatan travelling memang menjadi semacam remidi ampuh untuk mengurai kepenatan, satu atau dua hari libur dari serangkaian pekan penuh analisa di ruang kerja, menjadi checklist wajib untuk menjaga rasionalitas tetap terjaga. 

Alih-alih ingin melepas stress ke sebuah destinasi wisata, aku malah bermuram durja atau sedikit mengeluarkan kata umpatan, dalam hati tentu saja, aku bukan tipikal yang mudah meledak. Manakala keindahan yang ku harapkan tidak ku temukan, akibat ulah wisatawan yang tidak sadar akan pentingnya menjaga tempat wisata tetap bersih dari sampah.

Pekerja membersihkan sampah di Pantai Kuta, Bali [TEMPO/STR/Johannes P. Christo; JPC2017020505]

Bukan sekali, setidaknya dua dari empat kunjungan ku ke beberapa tempat wisata, pasti menemukan sebuah pemandangan yang tidak mengenakan di beberapa sudut, karena kehadiran sebuah sampah, yang bentuknya bermacam. Mulai dari sebuah puntung rokok, yang paling kecil, hingga botol bekas air mineral. 

Aku sadari betul, bahwa mindset “ah gampang, beli minum aja sampai di tempat tujuan” atau “ah, nanti dibersihkan sama pengelola, kok” sepertinya sudah menjalar ke alam bawah sadar kita.

Namun pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” menjadi alasan penting mengapa aku jarang “menggampangkan” urusan membeli air minum di lokasi tujuan, tanpa meninggalkan sampahnya juga disana. Seringnya aku lebih memilih sampah itu ku bawa dalam bentuk lipatan kecil, yang kemudian akan kubuang jauh dari destinasi wisata tersebut. 

Menjunjung tinggi peribahasa diatas, membuatku sadar betul bahwa untuk menghormati sebuah lokasi, bisa dimulai dengan menjaga diri agar tidak merusaknya, dimulai dengan tidak meninggalkan apapun, selain jejak, tidak mengambil apapun selain makna, dan jangan menghilangkan apapun selain kebosanan, tentu kalian paham makna dari setiap prinsip yang disebutkan bagi petualang, bukan? 

Ini sebabnya, untuk menjaga agar tidak meninggalkan atau mengambil sesuatu di tempat yang dikunjungi, aku pasti akan selalu membawa botol minum yang bisa digunakan berulang kali, mengisinya dengan air minum sebelum berangkat, untukku konsumsi di perjalanan selama menuju ke lokasi, dan sisanya untuk di perjalanan pulang. Langkah ini sudah biasa ku lakukan untuk mengurangi pembelian air minum kemasan dan sampah setelahnya. Jangan sebut pelit, ini cukup menghemat menurutku.

Setidaknya, aku membantu mengurangi produksi sampah plastik di setiap perjalanan yang ku lakukan. Satu sampah plastik jika tidak dikelola secara bijak dan seksama, setidaknya bisa membebani bumi untuk mengurainya dalam kurun waktu yang lama, walau ada beberapa plastik yang diklaim dapat terdaur ulang secara alami. Aku rasa tetap butuh waktu, dan cukup mengganggu keseimbangan alur kerja ekosistem di sekitarnya. 

Jika mengharuskan membeli, maka setidaknya aku akan memasukan minumannya ke dalam botol yang ku bawa, lalu kemasan plastiknya akan ku lipat sekecil mungkin, mengemasnya dalam tas atau saku, dan kemudian ku buang jauh dari lokasi wisata tersebut, sebagai bentuk penghormatan untuk tidak meninggalkan apapun. 

Dampak Langsung yang bisa Aku harapkan dengan langkah kecil ini, sudah tentu, bisa membantu setidaknya mengurangi tumpukan. Aku paham, bahwa satu sampah plastik yang aku kemas dan bawa pulang ini tidak akan mengurangi secara keseluruhan, namun bagaimana jika mindset seperti ini diikuti oleh mereka yang juga mengunjungi satu tempat tujuan yang sama? 10 atau bahkan 100 orang melakukan gerakan untuk tidak memproduksi sampah dalam bentuk dan ukuran tertentu, itu artinya sudah 10 hingga 100 buah sampah seperti botol mineral tidak akan menumpuk di kantong-kantong pembuangan sampah sementara.

Pekerja menata kemasan minuman botol plastik untuk dijual [TEMPO/Tony Hartawan; TH2016042215]

Hal ini menurutku berlaku juga untuk sampah-sampah lain, dengan tidak meninggalkan sampah tersebut di kantung-kantung sampah di lokasi wisata, membantu menjaga keindahan secara keseluruhan tempat tersebut. 

Kita tidak merusak roda perekonomian para pedagang yang menjual minuman kemasan yang mungkin sebagian besar rejekinya ada pada tiap botol atau makanan kemasan yang terjual, tapi juga menjaga lingkungan. Jauhkan mindset “lalu nanti orang yang bertugas membersihkan lokasi ini akan kerja apa?” karena Aku percaya, mereka punya tugas yang lebih penting daripada sekedar memunguti satu kemasan air bekas konsumsi secara sembarangan. Siapa tahu mereka akan mendapat tugas menata taman atau area di sekitar lokasi wisata tersebut. Dengan begitu kita sebagai pengunjung akan lebih diuntungkan, bisa mendapatkan pemandangan yang segar, indah, dan tanpa ada sebuah pengganggu kecil diantaranya. 

Kehidupan ekosistem di sekitarnya akan berjalan sebagaimana mestinya, sampah organik bisa terurai menjadi elemen yang membantu pertumbuhan, pohon akan memproduksi oksigen lebih maksimal, dan manfaat itu semua akan dirasakan secara adil bagi semua makhluk hidup, menjaga bumi tetap berseri.

Aku rasa langkah konkret ini bisa sama-sama kita pahami bersama, ditularkan secara bertahap kepada mereka yang belum menyadari, dan menjadi sebuah kebiasaan yang wajib kita lakukan secara konsisten, terus menerus, untuk menjaga tempat tujuan wisata yang kita kunjungi tetap bersih dan indah. Melalui tulisan ini, aku mengajak kalian untuk turut serta menjaga bumi dan isinya menjadi tempat yang lebih indah.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Interval

Energi Terbarukan untuk Listrik Daerah Wisata Terpencil

IntervalSampah Kita

Alam Bebas Sampah sebagai Esensi Kawasan Wisata

IntervalSampah Kita

Siapkah Hidup Berdampingan dengan Sampah?

Interval

5 Quotes tentang Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *