IntervalSampah Kita

Mereka, Garda Terdepan dalam Urusan Sampah

Karena tinggal di tengah kota dan dekat dengan pasar, memandang tumpukan sampah menjadi hal biasa untukku. Belum lagi, lalu lalang masyarakat sekitar saat membuang sampah ke tempat penampungan sementara. Tumpukan sampah ini tentu bukan pemandangan yang mengasyikan, karena menjadi setiap hari sampah makin menggunung. Jadi bukan sekedar membuang sampah lalu selesai masalahnya. Perkara sampah di tempat pembuangan sementara ini justru memunculkan turunan masalah lain yang membuat semuanya menjadi kompleks.

Aku yang tinggal di Kota Bandung jelas tak memiliki tempat untuk pembuangan akhir. Kontrak dengan TPA Sarimukti di kawasan Kabupaten Bandung Barat dalam dua tahun terakhir akan habis. Tak mengherankan kemudian TPA Legok Nangka di Kabupaten Garut akhirnya jadi pilihan selanjutnya. Dapat aku bayangkan ketika tak ada daerah lain yang mau menampah dari kotaku ini, sungguh sebuah petaka. Karenanya jangan remehkan orang-orang kecil yang selalu bergelut dengan sampah.

TPAS Ciroyom menampung sampah
TPAS Ciroyom menampung sampah/Deffy Ruspiyandy

Jika tak ada penyapu jalanan, penarik sampah, atau pemulung yang mau terjun kelola sampah tersebut, mungkin tumpukkan sampah itu akan ada setiap harinya di sini. Mereka yang memilih mencari nafkah dan bergelut dengan kekotoran dan serakan sampah terkadang tidak mempedulikan kesehatannya. Boleh jadi nafkah yang mereka dapatkan tidaklah begitu besar, tetapi semangat mereka demi terciptanya sebuah kebersihan di kota menjadikan mereka rela berbuat untuk banyak orang. Mereka melupakan yang di rumah untuk sementara waktu demi terangkutnya sampah untuk dibuang keluar dari kotaku ini.

Seorang penyapu jalanan di Jalan Rajawali sedang menyapu
Seorang penyapu jalanan di Jalan Rajawali sedang menyapu/Deffy Ruspiyandy

Benar bisa jadi sebagian dari mereka yang memilih sampah yang bisa dijadikan uang tentu akan terbantu penghasilan dari hal itu. Namun demikian mereka yang bekerja murni mengangkut sampah barangkali selain dapat gaji dari instansi kebersihan kota yang ada, mungkin sedikit mendapatkan rezeki dari orang-orang yang peduli kepada mereka. Tentu saja mereka harus menjadi fokus perhatian siapapun. Persoalan sampah adalah persoalan global, karenanya kalau kita memikirkan urusan mereka sangat pantas dilakukan karena langsung tidak langsung mereka peduli dengan urusan sampah kita yang dihasilkan setiap hari. 

Menarik memang, bagi mereka yang selalu hadir di garda terdepan dalam urusan sampah ini. Mereka  tak mau peduli dan tak mau tahu siapa yang membuang sampah setiap harinya. Namun mereka jalankan tugasnya agar suasana kota tidak terkotori oleh sampah. Namun aku sendiri dan juga masyarakat lainnya mungkin cukup tahu jika mereka adalah orang-orang yang membersihkan sampah semata tanpa ada rasa peduli dengan kondisi kehidupan mereka. Aku kadang menghela nafas mereka bekerja tanpa lelah diantara kotornya sampah. Demi siapa mereka bekerja ? Tentu saja demi kenyamanan dan keasrian kota yang imbasnya memberikan nilai-nilai kebahagiaan bagi masyarakat itu sendiri. Bayangkan saja, jika lingkungan kotor oleh sampah maka kehidupan kita sendiri terganggu karenanya. 

Para petugas pengangkut sampah bekerja mengangkut sampah
Para petugas pengangkut sampah bekerja mengangkut sampah/Deffy Ruspiyandy

Jelas aku tak menganggap mereka orang-orang kecil yang tak memiliki apa-apa. Jelas mereka adalah bagian terkecil dari kehidupan masyarakat yang berjibaku demi menyelamatkan lingkungan di sekitarnya. Tanpa mereka, tentu saja kekotoran yang terjadi akibat sampah barangkali setiap hari akan terjadi. Mereka bukan orang-orang yang telah bekerja secara sempurna tetapi mereka telah berjuang sekuat tenaga agar lingkungan tetap bersih dan kota tetap cantik menawan. Terkadang pekerjaan semacam ini dipandang sebelah mata tetapi dengan tenaga dan keberanian mereka hidup dengan resiko tertular penyakit ternyata mereka hadir untuk kita dan untuk kebersihan kita semua. 

Aku sangat berpikir jauh jika mereka sudah seharusnya mendapatkan imbalan yang setimpal dengan apa yang telah dikerjakannya. Mereka bekerja dengan resiko yang cukup besar. Inilah memang tantangan hidup bagi mereka karena tak ada pilihan pekerjaan yang mungkin dapat mereka lakukan. Mereka sudah tak peduli dengan pandangan orang yang memicingkan mata ketika melihat mereka. Mereka sudah tak peduli dengan bau, lalat, kotoran dan hal-hal yang sebenarnya membuatnya jijik ketika melihat. Tetapi mereka sudah terima resiko semua itu demi keluarga yang harus dinafkahi dan mereka memikul beban semua itu demi masyarakat pula. Karenanya harga yang pantas jika kesejahteraan mereka diperhatikan. Bukan soal pemberian berupa uang tapi perlu pula kepedulian lain karena mereka bekerja untuk menyelamatkan banyak orang dari lingkungan yang terkotori oleh sampah. 

Mereka yang mengelola sampah di TPAS Ciroyom
Mereka yang mengelola sampah di TPAS Ciroyom/Deffy Ruspiyandy

Ada kelayakan jika mereka dilabeli sebagai pahlawan kebersihan. Ketika tak ada orang yang mau bergelut dengan kotornya sampah justeru mereka malah memilih pekerjaan yang dianggap banyak orang menjijikan. Oleh sebab itu aku sangat menghargai jika ada masyarakat yang telah mengurangi volume sampai dengan cara dipilah dan dipisahkan. Hal itu tentu mengurangi beban mereka yang biasa bergelut dengan sampah. Bukan itu saja, masyarakat pun semestinya sudah mesti bisa mengolah sampah itu untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat. Mereka yang bekerja dans elalu bergelut dengan sampah saat masyarakat mampu melakukan hal itu, rezeki mereka takkan pernah berkurang karena sampah akan selalu ada selama manusia hidup. Namun setidaknya dengan banyaknya hal semacam itu paling tidak bisa meringankan beban mereka. 

Setidaknya ketika masih ada mereka, hatiku menjadi tenang karena tanpa mereka urusan sampah di Kota bandung akan tetap jadi masalah juga. Adanya mereka sampah masih bisa diangkut dan dibuang dan kota tetap cantik menawan. Karena itulah, sebagai masyarakat yang baik buanglah sampah pada tempatnya agar bisa diangkut oleh mereka yang ada di garda terdepan walau sampai kapanpun sampah akan selalu ada selama manusia masih hidup di atas dunia ini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.
    Artikel Terkait
    IntervalSemasa Corona

    Menghadiri Pernikahan di Masa Pandemi

    Interval

    Menyusuri Sulawesi lewat Buku “Cerita yang Datang dari Pulau Berkaki Empat”

    Interval

    Eksistensi PLTA sebagai Destinasi Wisata

    IntervalSampah Kita

    Lautan yang Indah Kini Menjelma Tumpukan Sampah

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Menyusuri Tlogodringo, Dusun di Ujung Timur Karanganyar