Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

I

Awal Februari, Siargao, Filipina. Debur angin laut melenakan kami yang sedang berdiskusi nikmat tentang relasi dan empati terhadap elemen-elemen yang-bukan-manusia: pohon, semut, ombak? Saya sedang mengikuti sebuah residensi riset selama sepekan di Siargao, ketika Filipina mendapati kasus corona pertamanya. Seorang warga Wuhan kedapatan membawa virus itu, yang kala itu belum membentuk pandemi.

Awal Februari itu, corona masih berupa desas-desus. Juga di Filipina, yang lebih sibuk mengurusi erupsi Gunung Taal. Taal, jika dilihat saat ini, mungkin hanya memberi pertanda tentang sebuah tragedi yang lebih ngeri.

Ketika saya tiba di Manila, 25 Januari, corona urung mengubah kenyataan sosio-material di jalanan, bandara, bus, dan ruang-ruang konferensi. Ketika saya pulang, awal Februari, dari Siargao ke Manila dan Manila ke Jakarta, bandara telah menciptakan apokalipsnya sendiri. Di Bandara Siargao yang kecil itu, masker-masker yang terpasang seperti menyiratkan kiamat mini. Orang-orang tampak cemas, setelah kasus perdana tumbuh di Manila. Di ruang tunggu bandara, di negeri basket itu, televisi menyiarkan tribut untuk Kobe Bryant.

Siargao, Filipina/Sarani Pitor Pakan

Juga di Bandara Ninoy Aquino, Manila, orang-orang seperti menyimpan kengerian di balik maskernya. Botol-botol pembersih tangan telah tersedia di sana. Filipina seperti siap untuk sesuatu, yang tak tampak dan siap menyentak kapan saja.

Saat saya tiba di Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, bandara-bandara tampak santai. Masker belum jadi kewajiban, juga cairan pembersih tangan. Beberapa hari kemudian saya membaca berita: pemerintah siap memberi insentif pariwisata.


II

Februari-tengah Maret, Yogyakarta. Corona masih kenyataan yang jauh di sini. Berita-berita diisi lelucon-lelucon pejabat kita yang menertawai virus ajaib itu: dibasmi pakai wudu, takut masuk Indonesia, takut nasi kucing, dan kedunguan-kedunguan lain.

Hidup berjalan normal. Orang-orang masih merencanakan rencana-rencana epiknya di 2020 ini: liburan ke pulau, pergi ke Eropa, dan ambisi-ambisi lain. Sementara itu, sepasang kawan membatalkan kunjungannya ke Yogyakarta. Mereka tinggal di Shanghai, jadi rasa ngeri yang riil telah menjangkiti keduanya. Alih-alih Jogja, mereka memutuskan pulang ke Italia, negeri asalnya, yang kala itu baru mulai menjadi episentrum corona.

Awal Maret, hal yang (tak) ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kasus nomor satu dan dua diumumkan Pak Presiden. Rencana insentif pariwisata batal sudah. Kasus-kasus baru perlahan bermunculan satu per satu. Kita seperti sedang menggali neraka, yang kita susun justru karena kita sepelekan sejak berminggu-minggu sebelumnya.

Suatu sore, saya sedang membawa pulang Kijang kantor. Matahari sore jatuh di Ringroad Barat. Radio mengumumkan kasus bertambah lagi. Saya mematikan radio, membuka kaca jendela, dan menikmati sepoi udara Yogyakarta menjelang akhir pekan.

Seminggu setelahnya, saya bahkan masih sempat pulang ke Depok pada akhir pekan. Saya naik kereta pada Jumat, 13 Maret. Orang di sebelah saya seperti agak flu. Ia tak mengenakan masker, saya juga. Paranoia corona pelan-pelan menanam dirinya di kepala saya.

Pada akhir pekan itu, segalanya berubah cepat. Di hari Sabtu, berbagai kebijakan dikeluarkan pemerintah. Mulai Senin, 16 Maret, semua diperintahkan bekerja dari rumah. Saya kembali ke Yogyakarta, pada hari Minggu, dengan badan yang agak meriang. Kemungkinan karena psiko-somatis, karena bayangan mas-mas yang bersin di sebelah saya.


III

Tengah Maret hingga tengah April, Yogyakarta. Adalah tiga pekan yang membingungkan di Godean. Statistik-statistik corona mulai menjadi santapan sehari-hari. Kepastian-kepastian runtuh. Di titik ini, kita tahu bahwa sebuah virus telah mengekspos kerentanan kita manusia. Sebuah periode telah berakhir, entah untuk lebih baik atau buruk.

Di Godean, di wilayah semirural di mana saya tinggal, desas-desus corona mulai membentuk. Mula-mula lewat cerita mbak-mbak yang biasa lewat depan rumah, ketika membeli sayur di pagi hari. “Itu di rumah timurnya SD ada keluarga yang baru datang dari Jakarta. Bukannya diam di rumah, malah sepedaan,” katanya suatu pagi.

Di pagi yang lain, ia membawa cerita soal seorang anak dari tukang ojek daring yang terkena corona. “Padahal, bapaknya yang ojek ndak kena, lho,” tukasnya.

Koran Kedaulatan Rakyat terbitan suatu hari di bulan Maret 2020/Sarani Pitor Pakan

Desas-desus juga berupa obrolan sederhana di sore hari, dengan dua bapak-bapak di utara dan timur rumah saya. Saya memanggil keduanya “pakde.” Di sore hari, saya biasa keluar rumah, duduk di teras, kadang untuk membaca, tapi lebih sering saya menutup buku (atau koran) dan malah mengobrol santai dengan dua pakde itu. Kadang kami membahas corona, tapi kadang juga membahas yang bukan-corona. Seakan corona adalah penanda.

Mungkin corona memang demikian: sebuah batas. Ia memisahkan era sebelum dan sesudah. Di dua bagian yang berseberangan itu terkandung cara hidup yang berlainan. Juga ketakutan-ketakutan yang tak sama.

Setelah tiga pekan, saya mulai berpikir untuk pulang ke rumah Depok. Bukankah di saat paling sulit seperti ini lebih baik jika kita dekat dengan orang-orang terkasih? Itu isi pikiran saya kala itu, beberapa hari sebelum mengepak tas dan terbang ke Cengkareng.


IV

April-Juli, Depok. Saya beruntung masih sempat terbang, karena beberapa hari setelahnya pemerintah mulai mengetatkan batas-batas kota, serta menerbitkan apa yang kemudian disebut PSBB. Sejauh ini, corona telah memberi kita banyak kosakata asing: lockdown, PSBB, work-from-home, physical distancing, dan nantinya new normal.

Di rumah, saya jadi lebih sering menonton televisi. Jika tidak ada kerjaan—dan biasanya tidak—saya akan melihat Pak Yuri dengan muka mesemnya; ia seperti malaikat pembawa kabar duka. Di bibirnya, angka-angka diubah jadi berita-berita.

Dalam skala apa pun, situasi di Depok tentu lebih mencekam dari Godean. Ini kota di mana kasus pertama muncul. Ada semacam psikologi ketakutan setiap saya pergi ke luar rumah: membeli telur di toko atau lari pagi di UI. Selebihnya, saya hanya di rumah: membaca di teras, kerja di kamar, makan di meja makan, dan menonton TV. Di televisi, berita-berita corona berpadu dengan kian mendekatnya bulan puasa dan musim mudik.

Selama Ramadan, sesekali saya keluar rumah di jam-jam jelang waktu berbuka. Seperti tak ada bedanya dengan tahun-tahun lain. Kerumunan manusia berjejalan di jalan, mencari hidangan buka puasa, atau mungkin bosan di rumah terus. Di televisi, mudik dilarang, lalu tidak dilarang, lalu dilarang lagi. Simpang siur adalah strategi negara melawan corona.

Memasuki akhir Mei, terlebih setelah Juni tiba, perubahan-perubahan fundamental terjadi. Pemerintah tahu ekonomi telah ngos-ngosan. Pelonggaran mulai dilakukan, meski dari dulu sudah longgar. Di saat-saat itu, kata-kata Pak Presiden menjadi mantra yang kita telan utuh: kita mesti berdamai dengan corona. Pagar-pagar, riil dan imajiner, dibuka.

Setelah itu, kasus melonjak stabil di angka seribu ke atas. Per hari.


Coda

Awal Juli saya kembali ke Yogyakarta. Secara statistik, jumlah kasus di sini relatif kecil; demikian pula jumlah tesnya. Saya terbang dengan degup di dada. Di Bandara Halim, laku-laku manusia era corona mulai tampak terang: sarung tangan, face shield, penutup rambut, masker selam. Setelah beberapa hari di Jogja, pemerintah merevisi istilah “new normal” menjadi “adaptasi kebiasaan baru.” Sementara itu, WHO membuat maklumat bahwa corona mungkin saja tersebar lewat udara.

Di Godean, sepi malam membuat saya tidur lebih cepat

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Artikel Terkait
IntervalPilihan Editor

Suka Duka di Balik Panen Raya

IntervalPilihan Editor

NuArt Talks dan Renungan Menjelang Hari Anak Nasional

Pilihan EditorSemasa Corona

Bermodal Percaya, Mengajar Daring Semasa Corona

Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (2): Antara Raden Saleh Raya dan Kwitang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *