Interval

De-eksotisasi Perjalanan

Di sebuah kamar mandi di kawasan Jakal, Sleman, saya mengingat minggu-minggu yang baru berlalu. Sambil mandi pagi, saya membayangkan jalan-jalan, orang-orang, dan kota-desa yang saya temui sepanjang tiga pekan ke belakang. “Tak ada yang eksotis di sana,” pikir saya, sambil mengarahkan pancuran air ke rambut yang sudah terolesi sampo.

Pertama-tama saya mampir ke Salatiga untuk urusan pekerjaan. Saya numpang di rumah om-tante, mengklaim tempat tidur di salah satu kamar, dan diberi kunci motor serta kunci rumah selama empat hari berseliweran di sana.

Sebenarnya saya hendak menuju Jogja untuk urusan simposium antropologi di UGM. Tapi, acara itu baru akan dihelat dua pekan lagi. “Daripada pulang, mending melipir dulu sambil menunggu waktu simposium tiba,” renung saya di alun-alun Kota Salatiga. Maka, dari situ saya beranjak ke Blora dengan travel.

Ada dua keluarga om dan tante saya yang tinggal di Blora, sementara rumah eyang ada di Cepu. Lebih dari seminggu saya berada di antara dua kota itu, menghabiskan waktu di hari-hari yang biasa di tempat-tempat yang biasa. Tak ada yang extraordinary di sana. Saya cuma singgah sementara.

Pertandingan Liga 3 antara Persikaba Blora dan Persab Brebes/Sarani Pitor

Dari Blora, saya akhirnya meluncur ke Jogja dan selama seminggu mendekam di kenyamanan kota yang sedang sibuk membangun. Ribut crane dan desing ekskavator di Ringroad Utara rasanya bikin nuansa makin melankolis. Di sela-sela simposium, saya mendapati Jogja berubah. Tapi, apa sih yang tidak berubah?

Simposium berakhir. Saya naik kereta menuju persinggahan terakhir: Bandung. Kawan saya akan menikah di Padalarang. Jadi, sebelum kembali ke Depok, saya ingin memberinya selamat secara fisik, tidak dengan emoji Whatsapp. KA Pasundan membawa tubuh saya dari Lempuyangan ke Kiaracondong. Saya tiba di tengah malam.

Keseharian/perjalanan: blur!

Persoalan “de-eksotisasi” perjalanan pernah dikupas secara mendalam oleh Jonas Larsen (2008). Ia menyerukan para peneliti pariwisata untuk keluar dari narasi sempit tentang perjalanan wisata sebagai eskapisme dari keseharian. Ia juga menggugat dualisme yang menempatkan pariwisata dan kehidupan sehari-hari (everyday life) dalam dua kategori ontologis yang terpisah.

Dalam konteks masyarakat yang kian mobile seperti sekarang, pemisahan terhadap perjalanan dan keseharian rasanya tak lagi masuk akal. Perjalanan wisata tak lagi sebatas pelarian dari keseharian, tapi juga cara untuk menunjukkan (performing) seperti apa wujud keseharian itu. Pariwisata adalah perpanjangan/kelanjutan bagi kehidupan sehari-hari. “Bahkan ketika traveler pergi meninggalkan rumah, rumah tidak meninggalkan si traveler,” tulis Larsen, mengutip G.J. Molz (2005).

bojonegoro
Matahari terbenam di jalanan Bojonegoro/Sarani Pitor

Batas-batas di antara keseharian dan perjalanan telah menjadi blur. Ketika saya berada nyaris sebulan di luar rumah, dan singgah di beberapa kota di Jawa, saya tak yakin apakah saya sedang menjalani keseharian atau perjalanan. Atau mungkin keduanya. Atau malah bukan keduanya. Entahlah.

Saat batas-batas itu mengabur, sebenarnya kita punya jalan keluar dari narasi-narasi yang eksotis, eskapis, dan hiperbolis di perjalanan-perjalanan kita.

Tim Edensor (2001), dikutip Larsen, mengingatkan bahwa turis/pejalan selalu membawa kebiasaan sehari-hari dan melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin/biasa saat melakukan perjalanan. Pula, mereka berusaha untuk merasa di rumah (feel at home) saat berada di tempat yang asing. Jadi, secara praktikal, turis/pejalan hanyalah orang-orang biasa yang menjalani aktivitas-aktivitas biasa di tempat-tempat yang biasa. Tak ada yang spesial dan tak perlu ada yang spesial. Untuk apa sih fetisisme terhadap keluarbiasaan?

Hanya saja, dalam konteks industri, pariwisata sudah telanjur disusun sebagai produk konsumen yang eksotis (“an exotic set of specialized consumer products”), yang di dalamnya kita mengonsumsi yang liyan, yang luar-biasa, dan yang berbeda dari keseharian. Dorongan industrial itulah yang membuat kita (seakan-akan) melakukan perjalanan untuk mencari yang eksotis: pantai-pantai berpasir putih, budaya-budaya aneh, orang-orang asing.

VFR, LDR, dan relasi “home-away” yang diasporik

Ketika kemarin singgah di beberapa tempat di Jawa, yang saya cari dan dapati bukanlah orang-orang yang asing. Saya bertemu dengan om, tante, sepupu, eyang, teman SD, teman kuliah, dan teman-teman lain yang entah ketemu di mana. Saya menumpang tidur, meminjam motor, merepotkan ini-itu, bercerita macam-macam, dan melakukan banyak hal lain yang rasanya biasa-biasa saja. Saya seperti sedang berada di rumah yang bukan di rumah.

Sehabis kebaktian pagi di GKJ Cepu, misalnya, seorang bapak paruh baya menunjuk wajah saya sambil terheran-heran. Kemudian, ia bertanya, “Anak Pak Sony, ya?” Bahkan saya tak tahu nama om itu. Tapi, ia menemukan jejak bapak saya, teman masa mudanya di Cepu tempo dulu, melalui muka saya. Apakah pengalaman seperti itu bisa disebut eksotis?

eksotis
Cerobong-cerobong pabrik di Padalarang tampak dari pesta pernikahan/Sarani Pitor

Bagi Larsen, perjalanan wisata tipe VFR (visiting friend and relatives) sering kali dikesampingkan saat kita membahas pariwisata. Ia ditelan wacana-wacana dominan yang didorong industri pariwisata. Kita perlahan lupa bahwa perjalanan dan berwisata tak harus melulu ke tempat-tempat yang asing. “Banyak orang pergi ke tempat yang jauh untuk bertemu significant others (keluarga atau teman), bukan mengonsumsi yang liyan,” kata Larsen.

Lebih jauh lagi, Larsen menapaki keterkaitan antara perjalanan wisata, migrasi, dan bentuk-bentuk mobilitas lainnya. Ketika masyarakat semakin mobile dan teknologi memangkas ruang-waktu, banyak orang menjalin hubungan jarak jauh dengan orang-orang lain di banyak tempat. Relasi-relasi yang berjauhan secara geografis itulah yang sering mendorong perjalanan, entah itu untuk melepas kangen, silaturahmi, atau bernostalgia.

Di titik itu, setidaknya bagi saya, perjalanan telah menjadi ruang di mana berbagai perasaan diasporik tentang rumah dan bukan-rumah dipertemukan, direnungkan, dan dinegosiasikan. Tak ada yang eksotis di situ. Perjalanan di luar narasi-narasi industri pariwisata adalah perjalanan yang sehari-hari. Mundane. Kita tak perlu lagi menelan eksotisme. Karena, saat kita berjalan, kita membawa serta “rumah” dan bertanya ulang tentang apa maknanya.


Referensi

Larsen, J. (2008). De‐exoticizing tourist travel: Everyday life and sociality on the move. Leisure Studies, 27(1), 21-34.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Womentourism.id: "Women Empower Women"

Interval

Hanifati Radhia dan Pengalamannya Menjadi Pendamping Desa

Interval

Hannif Andy dan Desa Wisata Institute: Gotong Royong Membangun Desa Wisata

Interval

Ranar Pradipto: Mempromosikan pariwisata Indonesia lewat Fotografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *