Interval

“Dark Tourism”: Merayakan yang Kelam

“[K]ami tinggal di Pripyat, dekat reaktor. Sampai hari ini, aku masih mengingat cahayanya, pendar merah raspberry … [W]arna yang sangat indah. Bukan api biasa, tapi tampak menyala. Sangat cantik. Jika kamu melupakan segala hal lainnya, itu sangat indah … [B]eberapa orang menyetir atau bersepeda lusinan kilometer untuk melihatnya. Kami tak menyangka bahwa kematian bisa terlihat begitu indah.”

Kutipan di atas saya terjemahkan dari buku Chernobyl Prayer yang ditulis Svetlana Alexievich, pemenang Nobel Sastra 2015. Pada bab “Admiring Disaster,” Alexievich memulainya dengan oral history milik Nadezhda Petrovna Vygovyskaya. Ia menjudulinya dengan “monologue on something we did not know: death can look so pretty. Buku yang ditulis Alexievich adalah kumpulan monolog orang-orang yang terlibat dan terkait dengan Chernobyl secara langsung. Mereka yang mesti melanjutkan hidup dengan label “orang Chernobyl.” Mereka yang hidup dengan radioaktif dari reaktor nuklir di tubuhnya.

Monolog Nadezhda tiba-tiba saja membuat saya mengingat ide lama untuk menulis sedikit soal dark tourism. Chernobyl, misalnya, sering didatangi pejalan dan turis. Saat saya berkelana di Balkan selama beberapa minggu, saya kerap bertemu pejalan yang pernah singgah di Chernobyl dalam perjalanan mereka, biasanya ketika mereka mampir di Ukraina. Mereka mengisahkan betapa menariknya “Tur Chernobyl.” Chernobyl pada akhirnya telah menjadi situs turisme, tempat turis dan pejalan berhenti sejenak untuk mengambil makna apa pun yang dapat mereka petik dari salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia.

Yang gelap (dan terang) dari “dark tourism”

Lalu apa itu dark tourism? Di ranah akademis, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Lennon dan Foley (2000) untuk mejelaskan produk dan pengalaman wisata di mana kematian, bencana, dan kekejaman menjadi atraksi utama. Istilah ini menjadi menarik karena menggabungkan dua kata (“dark” dan “tourism”) yang sekilas tampak berbeda. Pariwisata pada umumnya berasosiasi dengan relaksasi, eskapisme, hedonisme, dan kesenangan. Bagaimana mungkin ia bisa bersanding dengan kematian dan tragedi?

Tapi itulah yang terjadi dalam dark tourism. Di dalamnya, kita sebenarnya sedang menikmati yang tragis, sehingga dilema etis tak jarang muncul ketika berada di situs-situs dark tourism. Saya teringat saat mengunjungi bekas kamp konsentrasi Neuengamme di Hamburg, salah satu tempat Nazi melakoni genosida bejatnya. Mengapa saya di situ? Kenapa saya harus “berwisata” ke tempat yang tragis situ? Apa yang saya cari? Kenapa saya tidak pergi saja ke pub di Reeperbahn atau mengonsumsi bangunan antik di pusat kota?

Sejumlah warga mengarak jenazah dalam upacara adat pemakaman Rambu Solo di Sa’dan To’Barana, Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 27 Juni 2017 via TEMPO/Frannoto

Hal serupa juga menjadi renungan ketika beberapa bulan lalu pulang kampung ke Toraja, yang selama ini dikenal karena upacara kematiannya. Rambu solo’ kadung menjadi atraksi yang dijual ke mana-mana. Sejak dulu antropolog dan wisatawan mencarinya; mereka penasaran bagaimana mungkin kematian dirayakan dengan begitu megah, dengan memenggal belasan kerbau dan babi, dan dengan menghabiskan kocek yang lumayan membikin pening orang-orang yang tak punya kaitan dengan Toraja.

Apa yang sebenarnya diharapkan, dirasakan, dialami, dan dibawa pulang oleh wisatawan ketika berkunjung ke tempat atau atraksi yang berkaitan dengan kematian, kuburan, pemakaman, tragedi, genosida, pembunuhan, bencana, kekerasan, dan hal-hal “gelap” lain? Bagi saya, yang menarik adalah ketika dark tourism bisa membuat kita merenungi dan memahami ulang makna kematian, tragedi, bencana, dan kekejaman di hidup yang sementara ini. Jika benar demikian, setidaknya kita jadi bisa mengamini ucapan Marcel Proust bahwa perjalanan dapat memberi kita mata baru dalam memandang banyak hal.

Rekonseptualisasi pariwisata

Saya sudah menyebut beberapa contoh spot dark tourism: Chernobyl, bekas kamp Nazi, dan Tana Toraja. Sebuah serial di Netflix, Dark Tourist, bisa menjadi referensi lanjutan tentang lokasi-lokasi yang bisa didatangi jika anda ingin mengalami rasanya menjadi seorang dark tourist. Di Indonesia, beberapa lokasi terbayang di kepala: mulai dari Lubang Buaya, Gua Jepang Bukittinggi, Monumen Bom Bali, Museum Gunung Api Merapi, Desa Trunyan, Museum Tsunami Aceh, lumpur Lapindo, dan masih banyak lagi.

Tempat-tempat itu punya cerita yang beragam, tapi disatukan oleh pengalaman dan perasaan yang berbeda dibanding turisme yang selama ini kita pahami. Jadi, mungkin saja, dark tourism sebenarnya sedang menawarkan rekonseptualisasi terhadap makna pariwisata. Selama ini kita nyaris selalu mengasosiasikan turisme dengan yang enak-enak dan menyenangkan. Istilah 3S (sun, sand, sea) pun lekat dengan pariwisata. Padahal, menurut Stone and Sharpley (2008), sejak dulu orang sudah berpergian ke tempat-tempat yang saat ini dikonseptualisasi sebagai dark tourism. Sebenarnya tak ada yang benar-benar baru pada dark tourism.

Masalahnya mungkin ada di kebiasaan kita yang menempatkan pariwisata sebagai eskapisme sementara dari rutinitas. Ia lebih sering berwujud relaksasi daripada tengkorak-tengkorak yang berjejer di Londa. Ia lebih sering berwujud kuliner-kuliner maknyus daripada cerita-cerita pembantaian sebuah rezim jahanam. Dan, mungkin karena itu pariwisata telanjur berkaitan dengan plesir dan kesenangan. Perasaan lain dikesampingkan dalam pariwisata. Padahal, dalam konteks dark tourism, perasaan-perasaan sedih, tak nyaman, shock, dan ngeri justru lebih dominan (Buda dkk., 2014).

Tapi, apakah dark tourism adalah antitesis untuk pariwisata mainstream? Mungkin, tidak sepenuhnya. Lennon (2017) mengingatkan bahwa selain fungsinya untuk mengingat (commemorative) dan mendidik (edukatif), dark tourism kontemporer juga sering kali terjebak pada komersialiasi yang banal, tak etis, dan eksploitatif. Pada akhirnya, pariwisata tetaplah pariwisata. Ketika perjalanan masuk ke ranah industri, lalu berkelindan dengan kepentingan bisnis, jumlah turis, dan devisa negara, maka ia menjadi menyedihkan.

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Mengenal H.O.K. Tanzil lewat “Catatan Perjalanan Pasifik, Australia, Amerika Latin”

Interval

“My Boyhood and Youth”: Masa Kecil dan Remaja John Muir

Interval

Junko Tabei, Perempuan Pertama yang Mencapai Tujuh Puncak Dunia

Interval

Setelah Lumpur Menyembur: Menengok Kehidupan “Wisata” Lumpur Sidoarjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *