Itinerary

Cilacap, Catatan Perjalanan Destinasi Kota Satelit Selatan Jawa

Sisi selatan jawa selalu memiliki keunikan destinasi wisatanya, mulai dari bagian paling barat hingga paling timur. Pariwisata yang paling mencolok tentu saja pantai, bagaimanapun selatan jawa beririsan langsung dengan laut selatan yang terkenal dengan ombak besar dan legenda Ratu Kidul di dalamnya. Dan aku percaya kalian semua sudah sangat sering mendengar kisah Ratu ini dari berbagai obrolan masyarakat atau melalui tayangan-tayangan berkonsep mistis.

Walau begitu, selatan Jawa memiliki kota-kota pesisir yang menyimpan banyak eksotisme destinasi, yang menjadikan aku berencana mengunjunginya di akhir liburan panjang tahun ini. Salah satu kota yang menjadi persinggahan kala menelusuri jalur selatan, Cilacap, kabupaten yang sangat terkenal dengan ciri khas bahasa jawa “Ngapak” dan sebuah pulau Nusakambangan.

Mengenal sedikit tentang Cilacap, kabupaten yang berada di selatan Jawa Tengah, bersinggungan langsung dengan teluk penyu, yang terkenal dengan arus kuatnya. Tidak jauh dari sini terdapat sebuah destinasi peninggalan masa kolonial di Indonesia.

Cilacap adalah salah satu kabupaten yang menjadi daerah eksplorasi Belanda kala menelusuri tanah Jawa. Disini terdapat sebuah benteng bernama Benteng Pendem yang menjadi benteng pertahanan sisi selatan yang mengarah langsung ke laut.

Benteng ini menurut catatan sejarah, dibangun selama 18 tahun dari tahun 1861 hingga 1879, untuk menjaga area Cilacap dari masuknya kapal-kapal yang tidak dikenal atau sebagai pertahanan dari serangan laut. Sebelum ditemukan, lokasi benteng ini sempat tertutup tanah dan tidak terurus, sehingga masyarakat yang menemukannya menyebut markas peninggalan pemerintahan masa kolonial ini sebagai “pendem” yang artinya tenggelam.

Pada tahun 1986, pemerintah Cilacap bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, mulai melakukan proyek untuk mengangkat pasir yang menutupi benteng ini, melakukan pemugaran secara berkala selama 3 tahun, hingga akhirnya benteng ini dinyatakan sebagai situs kebudayaan milik pemerintah Cilacap dan dibuka untuk umum.

Di dalam benteng ini kita bisa menemukan ruangan-ruangan khas seperti barak, gudang amunisi, dan ruang-ruang lain yang fungsinya diperuntukan sebagai benteng pertahanan seperti ruang kesehatan dan ruang rapat. Namun menurut pemaparan dinas terkait, masih ada beberapa ruangan yang tidak diketahui fungsinya hingga sekarang, karena minimnya catatan sejarah terkait tempat ini akibat sudah terkubur lama.

Untuk mengunjungi benteng ini, pengelola membuka jam operasional mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, dengan harga tiket masuk mulai dari Rp7.500 per orang.

Tidak jauh dari Benteng Pendem yang menjadi pelindung garis pantai, terdapat pantai teluk penyu yang sering menjadi destinasi wajib dikunjungi oleh pelancong saat mereka berada di Cilacap. 

Pantai ini sangat dekat dengan pelabuhan penyeberangan Teluk Penyu, dari sini kita bisa pergi ke pulau Nusakambangan dengan kapal kecil yang dikelola oleh nelayan dan bisa berangkat setiap hari. Lokasi ini sering sangat ramai kala sore, karena orang-orang akan mengambil swafoto sunset, dan juga untuk makan malam romantik laksana di Teluk Jimbaran Bali. Di sini banyak rumah makan menyajikan olahan laut yang gurih dan menggugah selera.

Selain rumah makan juga terdapat cafe yang bisa menyajikan makanan selain olahan laut, mulai dari kopi, sandwich, atau makanan olahan barat dengan harga yang terjangkau. Mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 50.000 untuk satu porsinya. 

Sembari menikmati seafood, Aku melihat beberapa orang melakukan negosiasi dengan nelayan untuk menyewa sebuah kapal, atau warga menyebutnya compreng, sebuah kapal bermotor yang bisa membantu menyebrang ke pulau Nusakambangan. Kalian pasti bingung, kenapa harus ke sana, atau ada apa di Nusakambangan selain Lapas yang terkenal itu? 

Aku mungkin bisa bercerita sedikit tentang sebuah laguna yang sering dikunjungi oleh wisatawan, lokasi ini bernama Laguna Segara Anakan. Sebuah Laguna yang unik di pantai selatan Pulau Jawa ini memiliki ekosistem rawa bakau (mangrove) dengan komposisi dan struktur hutan terlengkap di Pulau Jawa. 

Kawasan Laguna Segara Anakan menjadi tempat bertemu 3 (tiga) sungai besar di Cilacap, yaitu Sungai Citanduy, Sungai Cibeureum dan Sungai Cikonde. Sungai-sungai ini merupakan perpaduan sungai-sungai kecil sepanjang jalurnya.

Kalian bisa mendapati sebuah laguna dengan udara yang sejuk, pemandangan yang teduh, air yang berwarna biru, dan menenangkan siapapun yang bersantai di sana. Airnya yang tenang juga memungkinkan pengunjung berenang seharian.

Mereka yang telah puas berenang biasanya akan langsung pulang, mengingat nelayan juga menghindari pulang kala petang untuk menghindari arus laut dan angin teluk yang kian kencang. Maksimal waktu pulang yang ditentukan dalam satu rombongan adalah pukul 4 sore.

Ada catatan kecil untuk menuju ke sini, selain melalui Cilacap, Laguna ini bisa dijangkau melalui pelabuhan dari Ciamis, Jawa Barat. Semua pengunjung akan di arahkan ke perkampungan nelayan di pulau Nusakambangan, sebelum akhirnya bisa menuju ke Laguna ini. Waktu tempuh rata-rata 90 menit menggunakan compreng, baik dari Ciamis maupun Cilacap.

Setelah lelah kembali ke Dermaga, beberapa dari mereka sepertinya memutuskan untuk menikmati senja terbenam sembari menikmati seporsi Mendoan dengan teh manis hangat, yang bisa membantuku mengembalikan energi sebelum kembali ke penginapan. Karena hal itu yang biasa aku lakukan sepulang dari Segara Anakan tersebut saat penghujung tahun 2019 silam, untungnya saat itu belum seramai sekarang.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Curug Leuwi Hejo, Destinasi Air Terjun Hijau Toska di Bogor

Itinerary

Awas Rem Blong di Gekbrong

Itinerary

Sambut 2022 dengan 7 Film Perjalanan Ini

ItineraryPilihan Editor

Indonesia Graveyard: Merawat serta Belajar dari Makam Kuno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *