IntervalPilihan EditorSemasa Corona

Berkah Sederhana dari “Social Distancing”

Pada awal tahun 2020, dunia digemparkan oleh penyebaran virus corona (COVID-19) yang awalnya berkembang di Wuhan, China. Puluhan ribu warga negara China terjangkit penyakit tersebut. Sampai akhir bulan Februari, semua warga dunia takut untuk bertemu warga negara China.

Namun, memasuki akhir Maret 2020, kondisi penyebaran penyakit mulai berubah. Mereka yang terinfeksi di China perlahan sembuh, sementara negara-negara lain justru memasuki periode yang menghawatirkan. Per tanggal 29 Maret 2020, WHO merilis situasi terkini bahwa Amerika Serikat sudah menjadi nomor satu dengan jumlah penderita lebih dari 100 ribu, Italia sudah sekitar 92 ribu, dan beberapa negara Eropa lain sudah mendekati dan melewati angka kasus di China. Sesuai data tersebut, tingkat kematian dengan jumlah terbesar dipegang oleh Italia.

Kondisi ini akhirnya mengusik banyak negara dan memaksa mereka memperketat berbagai kebijakan. Mereka mulai memperketat aturan demi meminimalisir kegiatan di luar rumah, mengurangi kerumunan di jalan, pembatasan kegiatan atau bahkan aturan lockdown dari pemerintah setempat. Pada kondisi ini, wajar jika warga negara China saat ini takut untuk bertemu orang dari berbagai negara.

Kini kondisinya telah berbalik.

“Social distancing” di Indonesia

Di Indonesia sendiri, kekhawatiran masyarakat perlahan mulai memuncak. Dengan penambahan jumlah yang terjangkit—menurut catatan yang disampaikan pemerintah—menjadi 100 orang per hari dalam seminggu terakhir, ketidakseimbangan ekonomi mulai terjadi. Berbagai produk yang berkaitan dengan antisipasi corona harganya meledak. Masker, cairan sanitasi tangan, vitamin, dan lain sebagainya menjadi langka dan mahal.

Pemerintah sendiri mengajukan gerakan social distancing (pembatasan sosial) bagi warganya. Warga diimbau untuk tidak berada di kerumunan dan selalu menjaga jarak dari orang lain sejauh 1-2 meter. Jarak yang cukup jauh tentunya untuk orang Indonesia yang biasa berkerumun, baik di kendaraan umum, pusat perbelanjaan, sekolah, kantor, tempat ibadah, dan lain sebagainya. Lalu, pada perkembangannya, akhirnya beberapa instansi pemerintah dan swasta memberlakukan gerakan bekerja di rumah (work from home) bagi mereka yang memungkinkan untuk bekerja secara mandiri di rumah. Sebagai tambahan, terbaru pemerintah juga mencoba mengganti istilah tersebut menjadi physical distancing (pembatasan fisik). Istilah ini dianggap lebih tepat mengingat yang perlu dijauhi adalah fisik yang membawa virus, bukan keterikatan sosial. Saya pun setuju dengan istilah ini, karena pada era globalisasi seperti saat ini sosialisasi dapat dilakukan tanpa kehadiran fisik. Apa pun itu, intinya masyarakat diimbau beraktivitas dari rumah dan hanya keluar jika terpaksa.

Keterpaksaan masyarakat Indonesia untuk terus berada di rumah tentunya menghadirkan perasaan bosan pada sebagian orang. Dalam berbagai cuitan di media sosial Twitter atau caption dan foto di Instagram, juga obrolan dengan teman, tampak begitu tersiksanya masyarakat dengan pembatasan aktivitas di luar rumah. Tidak sedikit pula masyarakat yang secara gamblang menunjukkannya dengan membuat tantangan-tantangan yang dapat dilakukan dari rumah demi menghindari rasa bosan. Namun, akhirnya banyak dari mereka yang mulai berbincang kembali dengan sahabat lama atau bahkan orang baru. Mungkin ada baiknya juga, hitung-hitung sebagai silaturahmi, meski baru via digital.

Petaka atau berkah?

Sebagai orang Indonesia tulen, tentunya kita selalu dihadapkan pada kenyataan tekanan baik secara internal maupun eksternal untuk memaklumi setiap kondisi yang menimpa kita. Orang Indonesia selalu berusaha bersyukur atas apa yang diterima, dan berpikir akan ada hikmah di balik setiap derita. Saya sendiri tidak berusaha membongkar cara berpikir ini. Biar saja, karena rasanya nikmat-nikmat saja berpikir seperti ini.

Meski begitu, rasanya tidak salah juga menilik berkah dan petaka dari keberadaan virus ini. Salah satu derita yang paling jelas tentunya ekonomi yang mandek. Banyak perusahaan yang terpaksa tutup, pemecatan pegawai, dan pengurangan gaji. Kemudian fakta bahwa banyaknya acara dan kegiatan yang dibatalkan juga cukup menyiksa masyarakat bosan ini. Belum lagi mereka yang perlu menunda atau bahkan membatalkan pernikahan karena kasus ini. Tentunya hal-hal itu cukup familiar di telinga kita belakangan, bukan?

Kembali pada poin awal bagian tulisan ini. Bukan orang Indonesia jika tidak bisa melihat berkah dari kejadian-kejadian buruk. Pembatasan fisik dengan orang di luar rumah maupun pembatasan sosial dengan berbagai kegiatan yang ada di luar rumah akhirnya memaksa masyarakat bosan untuk tetap di rumah. Namun, hal ini ternyata menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang jarang memiliki kesempatan untuk bersama keluarga atau kerabat di rumah, untuk berbincang, bercanda, makan bersama, atau bahkan hal yang paling romantis: bertengkar. Bagi saya sendiri, momen makan siang dan makan malam, yang lama tidak dapat dirasakan bersama keluarga, akhirnya dapat direalisasikan. Dan, rasanya nikmat.

Saya pikir kegiatan makan bersama di keluarga menjadi sangat menarik. Apabila sebelumnya di media sosial banyak orang yang berlomba-lomba menunjukkan foto makanan dengan caption, kini yang banyak adalah unggahan-unggahan tentang memasak di rumah dan bersantap dengan keluarga.

Dunbar (2017) pada tulisan Breaking Bread: the Function of Social Eating menjelaskan bahwa makan bersama keluarga memiliki banyak fungsi, antara lain individu akan mendapatkan rasa dukungan emosional dari keluarga, menjadi lebih dekat dengan keluarga (terutama di momen makan malam), serta meningkatkan social well-being.

Selain itu, sosiolog James Bossard, dalam tulisan Family Table Talk—an Area for Sociological Study (1943) mengungkapkan makan bersama keluarga akan membantu proses transmisi nilai dan pandangan keluarga kepada setiap anggotanya. Dengan obrolan yang dalam dan berimbang, anggota keluarga dapat saling menyampaikan pandangan dan maksudnya agar pandangan keluarga dapat muncul. Meskipun tentu semuanya kembali lagi pada seberapa dalam dan berkualitasnya diskusi yang terjadi, setidaknya wabah COVID-19 ini memberikan peluang bagi setiap anggota keluarga bertukar pikiran dan mencoba mengerti maksud dari anggota keluarga yang lainnya, karena tentunya sudah banyak keluarga yang “tidak saling mengenal” karena kesibukan dan perbedaan nilai yang dimiliki tiap anggotanya.

Akhir kata, meski banyak kerugian yang terus dirasakan selama proses menghadapi virus ini, ada juga berkah sederhana yang bisa didapatkan. Berbagai hal yang selama ini dianggap lewat begitu saja akhirnya menjadi lebih berarti. Memang benar kata orang, kita akan merasa bersyukur ketika kita kehilangan apa yang kita punya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Senang bertukar pikiran dan plesir ke berbagai tempat. Jatuh cinta pada Indonesia Timur.

Timoti Tirta

Senang bertukar pikiran dan plesir ke berbagai tempat. Jatuh cinta pada Indonesia Timur.
Artikel Terkait
Semasa Corona

Menyelesaikan Skripsi Semasa Corona

Interval

Sepenggal Kisah tentang Komodo dan Ata Modo

Semasa Corona

Cerita tentang Dapur Gendong dan Tangisku di Pasar Beringharjo

Interval

Lahan-lahan Bermain yang Mendatangkan Generasi Sehat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *