Itinerary

Berburu Keindahan Golden Sunrise di Posong

Menyaksikan matahari terbit bagi saya seperti meresapi sebuah momen menakjubkan ketika memulai hari. Apalagi jika pemandangannya begitu cantic, siapapun akan semangat memulai hari kala membuka mata sembari membatin dengan senyuman, berkata “Selamat pagi, Aku, Hari ini harus bahagia ya, iya, udah gitu aja!” 

Bagi pelancong tentu sudah menjadi buah bibir banyak orang bahwa pemandangan matahari terbit di Posong yang terletak di Wonosobo, Temanggung, adalah sebuah pemandangan yang luar biasa. Hal ini yang melandasi saya untuk menyaksikan indahnya matahari terbit di sana sambil menikmati waktu liburan. 

Untungnya Wonosobo bukan tempat yang jauh dari kota saya, sehingga saat itu saya memilih untuk naik motor ke sana berdua teman saya. Nantinya ada dua teman saya lagi yang menyusul, kami berjanji bertemu di pintu masuk Posong. Untuk mengunjungi Posong, Saya cukup membayar biaya Rp 20.000 untuk tiket masuknya dan Rp 3.000 untuk parkirnya, jika hendak menginap, mungkin biaya maksimalnya adalah Rp 10.000. Untuk masuk ke lokasi dari pintu masuk saya harus berkendara 4 kilometer lagi. Jalanannya cukup berbatu dan menanjak, sehingga pastikan kendaraan kalian bisa mengantarkan kalian sampai ke sana, atau kita perlu menuntun di tanjakan, saya pastikan itu melelahkan, 

Jajaran pohon pinus membuat pemandangan sekitar sini semakin indah. Suara burung menambah asri suasana alam di sini. Udara yang terasa pun begitu dingin, karena Posong berada di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut (MDPL). Tempat wisata ini luasnya 1,2 hektar dan fasilitasnya cukup komplit, mulai dari tempat makan, toilet, kedai kopi, tempat beli oleh-oleh dan mushola bagi muslim yang ingin menunaikan ibadah, dilengkapi dengan mukena dan sajadah. Tapi saya sarankan untuk membawa mukena dan sajadah sendiri ya, agar tidak saling menunggu bergantian. 

Lokasi posong sebenarnya berada di antara dua gunung yang sangat tersohor di Wonosobo. Setelah memarkir motor, saya langsung mulai menjelajah. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing tampak jelas bahkan sejak dari memasuki area parkiran. 

Camping di Taman Wisata Alam Posong

Berhubung dari awal tujuannya ingin menikmati matahari terbit di sini, jadinya saya memesan tenda untuk camping. Memang tempat ini buka sejak pukul 5 pagi, tapi daripada saya harus repot pagi-pagi berangkat menuju lokasi, lebih baik sekalian menginap saja di sini. Biar bisa lebih mempersiapkan diri untuk memotret matahari terbit yang indah itu. 

Di sini saya dan teman-teman akan menginap satu malam. Kami pun memilih paket yang Paket Camp Family Full Service, fasilitasnya yaitu tenda, kasur, bantal, sleeping bag, penerangan, api unggun, snack & minum, makan (1x) dan stop kontak. Biayanya Rp1.200.000 per tenda dan kapasitasnya bisa untuk 6 – 7 orang. Jadi, kalau dibagi, berarti biaya per orangnya sekitar Rp200.000. Berhubung kami hanya berempat jadi ya masing-masing bayar Rp300.000. 

Namun jika kalian ingin lebih hemat, tersedia paket ekonomi dengan harga Rp700.000 per tenda. Bedanya hanya tidak disediakan api unggun, makan dan stop kontak jika ingin charge perangkat digital. Jadi kalau cuma untuk menginap saja sebenarnya cukup pilih yang paket ekonomi saja juga sudah cukup, tinggal kalian mengatur catu daya agar hemat sampai esok pagi atau siang setelah meninggalkan tempat ini.

Karena ingin merasakan berkemah sungguhan, teman saya membawa peralatan masak yang cukup lengkap, seperti kompor portable, panci, wajan dan pemanggang. Seru banget memanggang daging di tengah malam yang dingin, hanya saja kurang kimchi, mungkin kami semua sudah membayangkan seperti berada di korea dengan hawa dingin ini. Setelah kenyang makan malam, kami merapikan barang-barang bekas masak dan makan, lalu kami pun tidur. Tempatnya luas sekali untuk kami yang memang hanya berempat

Golden Sunrise yang Istimewa

Pukul 5 pagi kami sudah bersiap. Kami menuju spot matahari terbit dekat Gunung Sumbing. Saat sinarnya yang kemerah-merahan mulai muncul, gradasi warna di langit sudah begitu indah. Terangnya menyapa pepohonan sekitar, hingga menerpa kami yang terus memandangi dan mengabadikannya melalui mata dan kamera. Tubuh pun terasa mulai sedikit menghangat. Hangatnya begitu menenangkan. Cahaya terangnya merayap seperti sebuah titik harapan yang menyebar ke segala arah. Mengangkat kelabu dan gelap perlahan. Ah, betapa benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan.

Setelah puas memotret keindahan matahari terbit, kami kembali ke tenda dan kami pun sarapan pagi. Sekadar makan mie instan dan rebusan telur yang kami masak sendiri sudah membuat perut kenyang dan hati senang. Kami juga menyeruput teh hangat, sambil bercengkrama satu sama lain. Bercerita tentang hidup dan kesibukan kami yang memang kami habiskan di tempat yang berlainan. 

Setelah itu, kami berkeliling sambil berfoto, ada banyak sekali spot foto yang instagramable di sini. Ada banyak gazebo untuk bersantai menikmati keindahan alam Posong. Untuk yang membawa anak, pastinya anaknya juga akan senang, karena bisa bermain di udara terbuka dan memang ada tempat bermain anak juga di sini.

Udaranya yang dingin dan sejuk, pemandangannya yang cantik luar biasa, matahari terbit yang menenangkan, serta alam yang luas terhampar dihadapan, sungguh sebuah pengalaman wisata yang sangat mengesankan. Posong adalah tempat wisata yang rasanya tak cukup hanya dikunjungi sekali dalam seumur hidup. Nantinya, kalau ada waktu dan kesempatan lagi, rasanya kami akan kembali lagi ke Posong.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Curug Leuwi Hejo, Destinasi Air Terjun Hijau Toska di Bogor

Itinerary

Awas Rem Blong di Gekbrong

Itinerary

Sambut 2022 dengan 7 Film Perjalanan Ini

ItineraryPilihan Editor

Indonesia Graveyard: Merawat serta Belajar dari Makam Kuno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *