IntervalPilihan Editor

Bahaya Laten Heritagisasi

Saya duduk santai sambil menikmati sore yang kian tua di Kampung Adat Prai Ijing, Sumba Barat. Di sebelah, seorang bapak dan anaknya menemani saya. Sementara kawan-kawan seperjalanan sedang asyik mengambil footage.

Di hadapan kami adalah rumah-rumah adat Sumba, dengan atap-atap jerami yang runcing ke atas. Posisi kami ada sedikit di atas, karena topografi kampung yang memang naik-turun. Jadi, dari ketinggian kami bisa melihat panorama yang syahdu. Masyarakat Instagram akan memujanya. Saya pun demikian, meski belum pernah punya akun Instagram sejak kecil.

“Kami tidak boleh mengganti atap dengan bahan lain. Harus jerami,” ucap sang bapak, di sela-sela obrolan kami tentang budaya Sumba, perubahan di Kampung Prai Ijing, serta turisme yang sudah lama masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kampung itu.

Di kota Waikabubak, sudah banyak saya lihat bangunan-bangunan bergaya adat Sumba tapi dengan atap berbahan seng atau asbes. Bapak itu menambahkan, sejak kebakaran yang melanda Kampung Adat Tarung, beberapa tahun silam, atap non-jerami kian jamak. Sesuatu yang masuk akal. Lagi pula, apa salahnya dengan bukan-jerami?

Suatu pagi ketika eksotisme tak dicari lagi

Yang salah dengan bahan non-jerami adalah absennya eksotisme. Orang-orang datang ke Sumba dengan mimpi-mimpi yang ditanam di majalah-majalah perjalanan, atau artikel-artikel internet tentang Pasola, ikat, bukit hijau, dan sabana yang luas membentang.

Film-film kontemporer tahu betul cara meringkus alam dan budaya Sumba ke dalam sinematografi. Imaji kita tentang Sumba kadung ditanam oleh media-media audiovisual dan tulisan tersebut. Sehingga kita kehabisan cara lain untuk mendekatinya. Ia telanjur menjadi atraksi: tempat kita berpose dengan tone fotografi yang sendu.

Dalam segenap turisifikasi-nya, rumah adat Sumba sejak dulu selalu mendapat tempat spesial. Ia adalah latar yang wajib ada. Dan ia harus tradisional. Bangunan beratap seng atau asbes tak akan laku dilumat turis-turis dari Jawa atau Amerika. Karena itulah jerami adalah semacam kewajiban.

kampung-adat-prai-ijing-sumba-01
Jalan aspal yang membelah Kampung Adat Prai Ijing/Sarani Pitor Pakan

Tapi… kewajiban adat atau kewajiban dari Dinas Pariwisata setempat? Entahlah.

Zaman berubah terus. Angka tahun dalam kalender Masehi yang kita tengok di layar komputer bertambah setiap 365 hari sekali. Di saat bersamaan, banyak tempat dan komunitas dipaksa untuk tak bergerak, tak berubah, dan dibekukan oleh label “adat,” “tradisional,” “heritage,” “Stone Age,” “primitif,” dan lain-lain.

Yang berbahaya dari gairah terhadap eksotisme adalah klise-klise semacam ini. Kita menghambat dinamika perubahan yang organik dan menciptakan semacam stasis. Heritage ala UNESCO adalah bentuk museumifikasi terhadap masyarakat dan budaya yang secara alamiah sebenarnya terus berubah. Semua harus diam seperti mumi.

Ciuman maut heritagisasi

Ketika semua-mua di-heritage-kan, apa yang tersisa? Adalah tulisan bernas Marco D’Eramo, berjudul UNESCOCIDE, yang membuat saya merenung tiap kali orang menyebut kata heritage, apalagi menautkannya dengan UNESCO.

World Heritage List-nya UNESCO adalah ciuman maut (‘the kiss of death’). Ketika label itu diletakkan, kehidupan kota dihabisi; ia siap untuk taksidermi,” ucap D’Eramo. Heritagisasi adalah semacam bunuh diri kultural, dan alasan pelestarian yang sering dipakai sebagai retorika sebenarnya juga mengandung masalah.

Ia meneruskan: “[M]elestarikan berarti membalsemi (to embalm), membekukan, menyelamatkan sesuatu dari kebusukan temporal; juga berarti menghentikan waktu, mengatur objek seperti di dalam foto, melindunginya dari perkembangan dan perubahan.”

D’Eramo sadar bahwa beberapa monumen, objek, atau bangunan memang perlu untuk dirawat. Tapi, bukan berarti kita mesti mematikan denyut sebuah tempat—beserta isinya—hanya demi kepentingan label “UNESCO World Heritage List.”

Tenun khas Sumba dijajakan di kawasan wisata via Dayamaya X Jahitin

Semua ini atas nama autentisitas. Dan pariwisata memberi UNESCO panggung untuk melanggengkan ideologi kulturalnya. Sertifikasi adalah metode yang dipakai untuk melegitimasi praktik heritagisasi. Banyak tempat lalu tergoda oleh mitos bergengsi yang diciptakan UNESCO. Uang mengalir, turis membanjir, dan sebuah kota (atau desa) telah selesai.

Sebuah cerita tentang paku

Saya teringat sebuah presentasi di suatu konferensi antropologi. Si pembawa materi berkisah soal renovasi Kampung Adat Tarung, Sumba Barat. Kampung itu habis dilalap si jago merah pada 2017. Proses renovasi lalu dirancang, melibatkan tetua adat, warga kampung, pemerintah, dinas terkait, dan organisasi masyarakat yang berkepentingan.

Dalam prosesnya, salah satu topik yang menarik adalah soal paku. Banyak pihak mendebat pemakaian paku dalam proses pembangunan “rumah adat.” Bukankah paku akan membuat bangunan tidak autentik, tidak “asli,” dan tidak sesuai adat? Paranoia soal autentisitas dan orisinalitas memasuki babak barunya di situ.

“Seandainya paku ada sejak zaman dulu, bukankah nenek moyang juga akan memanfaatkannya untuk membangun rumah adat?” ujar si pemateri.

Pada akhirnya, rumah adat adalah subjek aktif yang terus berubah seiring berjalannya waktu. Ia jangan dimaknai sebagai objek pasif yang statis. Ketika kita belajar memahami itu, barulah kita bisa sedikit mengerti kenapa autensitas/orisinalitas itu absurd.

Jika mau, cerita paku di atas dapat memberi kita inspirasi untuk memahami heritage bukan dari definisi yang disediakan negara, PBB, monarki, Mendikbud, atau lembaga pendidikan tinggi. Perlulah kita sesekali keluar dari narasi dominan tentang apa itu heritage, memberontak, dan kemudian memberi nuansa baru bagi istilah itu.

Harusnya, heritage bukan hanya yang kuno-kuno. Dan ia harusnya lebih sehari-hari. Bukan hanya cerita yang jauh tentang sejarah yang tak relevan lagi hari ini, yang tak memberi kita apa-apa kecuali perasaan patetik terhadap kehidupan modern yang tak autentik.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Artikel Terkait
Interval

Sepenggal Kisah tentang Komodo dan Ata Modo

Interval

Lahan-lahan Bermain yang Mendatangkan Generasi Sehat

Interval

Lenyapnya Pusaka Pertanian

Interval

Melihat Kampung Wisata Polowijen dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *