Interval

Melabrak Machoisme Perjalanan

“Perjalanan dan tulisan perjalanan … telah lama ditandai oleh istilah-istilah yang partiarkis dan imperialis, yang telah tertanam di dalam gagasan yang maskulin/jantan tentang petualangan, penaklukan, kesenangan, dan eksotika. Sedangkan, feminin diartikan sebagai antitesis dari kebebasan dan pengalaman yang independen.” Kira-kira itulah yang diutarakan Annette Pritchard dalam sebuah…
Read more
Interval

Slow Travel: Untuk Apa Buru-buru?

Seorang teman pernah bercerita. Begini: Pada suatu akhir pekan, ia pergi ke Lisbon bersama kawannya. Mereka cuma punya dua hari, jadi keduanya mengejar banyak atraksi yang ingin dilihat. Waktu singkat, mereka harus mendatangi banyak tempat. Di ujung hari, si teman mengaku…
Interval

Yang (Ter)Asing di Jakarta Raya

Saya seorang turis di gerbong Commuter Line, menengok ke sana kemari seperti baru kemarin tiba di Jakarta Raya. Rasanya seperti berdiri di tengah-tengah “kita” dan “mereka.” Seperti ada yang cerai antara saya dan ibu kota, tapi tak seutuhnya putus. Seperti turis…
Interval

Mencari Indonesia: Petualangan, Ombak, Dukun

Kita sebenarnya tak pernah mencari buku. Buku-buku yang menemukan pembacanya. Dengan itu, saya bertemu tiga buku. “Unlikely Destinations” (Tony dan Maureen Wheeler) mendapati saya di Periplus Lotte Shopping Avenue kala saya bosan menunggu kawan yang tak kunjung datang.
Interval

Apa Rasanya Menjadi “Lokal"?

Oktober 2018. Saya baru beberapa hari kembali ke rumah di Depok, setelah dua tahun merantau ke luar negara untuk sekolah. Suatu siang, saya sedang duduk-duduk di teras ketika mengamati ojek online berseliweran beberapa kali di depan rumah. Realitas ini tak kerap terjadi…
Interval

Ombak dan Hal-Hal yang (Tak) Diceritakan

Tesis sebenarnya omong kosong? Saya bertanya, pada suatu pagi yang mendung di Mappadegat. Mungkin iya, mungkin tidak. Sebenarnya kita tak perlu selalu menjawab. “To respond, not to answer per se,” kata Meghann. Maka, pertanyaan sebenarnya bukanlah antonim untuk jawaban.