Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Hostel lebih dari sekadar persoalan murah. Keputusan untuk memilih hostel terkadang bukan hanya keputusan ekonomi belaka, tapi juga terkait pilihan-pilihan kultural yang pelik. Seperti sudah saya jelaskan di bagian sebelumnya, hostel menawarkan pengalaman yang unik dan kesempatan untuk membentuk identitas seseorang. Pengalaman anti-hotel dan identitas anti-turis yang melekat pada hostel tidak…
Read more
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Pengalaman pertama saya dengan hostel baru tiba pada akhir Agustus 2016. Adalah sebuah pagi musim panas yang cerah di Ljubljana ketika saya check in di Hostel H2O, yang terletak persis berhadapan dengan Sungai Ljubljanica. Saya masih ingat banyak detail tentang hostel itu.
Interval

De-eksotisasi Perjalanan

Di sebuah kamar mandi di kawasan Jakal, Sleman, saya mengingat minggu-minggu yang baru berlalu. Sambil mandi pagi, saya membayangkan jalan-jalan, orang-orang, dan kota-desa yang saya temui sepanjang tiga pekan ke belakang. “Tak ada yang eksotis di sana,” pikir saya…
Interval

Pariwisata yang Berlebihan

Yang berlebihan itu tidak baik. Seperti Indomie. Porsi satu setengah sudah cukup, jangan lebih. Jika lebih, kenikmatan justru akan buyar. Namun, memang tak pernah mudah mengelola keserakahan dan nafsu yang meluap-luap, terlebih dalam iklim di mana pertumbuhan (growth)…
Interval

Menyanyikan Travelog lewat Folk

Cerita perjalanan itu beragam bentuknya. Beberapa orang mencatat rapi di buku catatan kecil yang dibawanya ke mana-mana saat berkelana. Yang lain berbagi lewat fotografi, video, dan bentuk visual lain semisal gambar coretan tangan. Ada juga yang lebih suka bertutur secara…
Interval

Jalan-jalan dan Perbedaan

Musim panas 2017. Saya telah lama ingin melancong ke Bulgaria. Maka, ketika suhu menghangat dan liburan menjelang, saya bersiap mengepak ransel untuk meluncur ke Sofia. Tapi, ada sedikit keraguan. Saat itu, popularitas ideologi sayap kanan di Eropa sedang naik-naiknya.
Pilihan EditorTravelog

Suaka

Ketika lalu lintas satu arah mulai diberlakukan di Jalan Arif Rahman Hakim, saya merasa asing. Kota seperti berbicara dengan bahasa yang tak lagi saya pahami. Juga gedung-gedung tinggi di Margonda. Kota selalu berubah, dan kita sering kali gugup/gagap menerimanya. “Saat…
Interval

Melabrak Machoisme Perjalanan

“Perjalanan dan tulisan perjalanan … telah lama ditandai oleh istilah-istilah yang partiarkis dan imperialis, yang telah tertanam di dalam gagasan yang maskulin/jantan tentang petualangan, penaklukan, kesenangan, dan eksotika. Sedangkan, feminin diartikan sebagai…
Interval

Slow Travel: Untuk Apa Buru-buru?

Seorang teman pernah bercerita. Begini: Pada suatu akhir pekan, ia pergi ke Lisbon bersama kawannya. Mereka cuma punya dua hari, jadi keduanya mengejar banyak atraksi yang ingin dilihat. Waktu singkat, mereka harus mendatangi banyak tempat. Di ujung hari, si teman mengaku…
Interval

Yang (Ter)Asing di Jakarta Raya

Saya seorang turis di gerbong Commuter Line, menengok ke sana kemari seperti baru kemarin tiba di Jakarta Raya. Rasanya seperti berdiri di tengah-tengah “kita” dan “mereka.” Seperti ada yang cerai antara saya dan ibu kota, tapi tak seutuhnya putus. Seperti turis…