Interval

Apa Rasanya Menjadi “Lokal”?

Oktober 2018. Saya baru beberapa hari kembali ke rumah di Depok, setelah dua tahun merantau ke luar negara untuk sekolah. Suatu siang, saya sedang duduk-duduk di teras ketika mengamati ojek online berseliweran beberapa kali di depan rumah. Realitas ini tak kerap terjadi bertahun-tahun lalu. Perumahan tempat saya tinggal relatif sepi. Tak banyak orang “asing” berlalu-lalang di dalam perumahan. Sampai demam ojek online datang.

Entah kenapa, kesadaran itu membuat saya mengingat beberapa kota Eropa yang sesak oleh turis di musim panas. Sebut saja Amsterdam. Saya bayangkan jadi salah satu warga Amsterdam yang tinggal di centrum (pusat kota). Dulu kala, ketika saya kecil, lingkungan tempat tinggal saya sepi-sepi saja. Tak banyak turis lalu-lalang. Tak ada anak-anak muda dari negeri seberang yang datang ke kota saya untuk mabuk-mabukan dan menyesap ganja. Lalu, tiba-tiba saja, pariwisata meledak! Setelahnya semua tak lagi sama.

Bayangkanlah perubahan (disrupsi?) yang diberikan pariwisata—atau ojek online—pada kehidupan kita sebagai “lokal” di sebuah tempat. Tiba-tiba orang-orang “asing” berseliweran di depan rumah kita. Bagaimana kita harus meresponnya? Pindah rumah dan memberikan nama untuk “gentrifikasi”? Tetap tinggal dan mengalir bersama perubahan/disrupsi yang ditawarkan pariwisata? Atau, apakah kita benar-benar punya pilihan?

Judul artikel di atas adalah sejujur-jujurnya pertanyaan. Saya benar-benar ingin tahu. Dari kecil saya tinggal di Depok, yang jelas-jelas bukan kota wisata, jadi saya tak tahu rasanya menjadi “lokal” dalam konteks pariwisata. Sulit bagi saya untuk mencerna bagaimana rasanya turis-turis lalu-lalang di depan rumah, melihat-lihat (“sightseeing”), dan memotret sana-sini. Mungkin menyenangkan. Kita bisa berbagi cerita dan mendengar kisah tentang negeri-negeri yang jauh. Tapi adakah hal lain yang diberikannya? Apakah pariwisata mengganggu? Apakah turis-turis yang berjalan-jalan mengubah ritme hidup di suatu tempat yang baik-baik saja?

“Sightseeing”

Februari 2019. Yogyakarta, pada sebuah siang yang panas di akhir pekan. Saya berjalan-jalan kaki di kota, melewati gang-gang sempit di Sosrowijayan. Saya menjadi turis. Tapi tanpa kamera, tanpa Instagram. Saya cuma menghabiskan waktu, menunggu jadwal kereta malam.

Maka saya mencari-cari toko buku bekas di sekitaran Sosrowijayan, tepatnya Wetan Gang 1. Losmen dan homestay berjejalan di kanan-kiri gang sempit itu. Kadang dengan tulisan “masih ada kamar,” atau kadang “kamar full.” Beberapa kali saya melewati warga, sambil tersenyum dan permisi, sampai toko buku itu akhirnya muncul.

Saya mohon izin masuk ke ibu yang menjaga The Lucky Boomerang siang itu. “Boleh pakai sandal, Bu?” tanya saya. “Oh monggo, Mas,” jawabnya. Beberapa waktu lamanya saya tenggalam di antara ratusan judul buku yang berbaris di rak-rak bambu. Buku-buku bertebaran dalam banyak bahasa: Swedia, Belanda, Jerman, Denmark, Inggris, dan lain-lain.

biaya liburan
Alun-alun kota via pexels.com/iSAW Company

Akhirnya, sebuah buku menemukan saya. Judulnya “Sightseeing” karya Rattawut Lapcharoensap. Saya terpikat deskripsi di bagian belakang buku bersampul biru muda itu. “Laut elok dan pantai berpasir Thailand adalah destinasi impian bagi kebanyakan kita, tapi rumah bagi karakter-karakter di ‘Sightseeing’” (terjemahan saya). Yang dilakukan Rattawut adalah merayakan yang sehari-hari pada yang eksotis (“embraces the everyday in the exotic”). Saya tebus buku itu.

Sambil bertransaksi, si ibu bercerita bahwa buku-buku di sana kebanyakan dikirim adiknya yang tinggal di Australia. “Harganya agak mahal karena ongkos kirimnya mahal, Mas,” jelas si ibu. Dulu, toko buku ini hidup karena buku-buku yang dihibahkan tamu-tamu yang datang ke Sosrowijayan. Kadang metode barter buku juga dilakoni. “Tapi sekarang sudah sepi. Ndak ramai seperti dulu lagi,” lanjut si ibu. Jadi begitu, menurutnya jumlah turis (asing) yang mengunjungi Sosrowijayan tak seramai dulu, berbelas-belas tahun yang lalu.

Apa rasanya menjadi “lokal” di destinasi wisata?

Tiba-tiba saya mengingat Mentawai. Di Ebay, permukiman warga dan kawasan “surf homestay” di Siberut, orang-orang “lokal” seperti tak masalah dengan musim selancar. Bila “musim ombak” selesai dan tak banyak lagi turis-peselancar yang datang ke pulau, ya mereka kembali ke ladang untuk mengolah cengkih dan kopra. Bila musim ombak tiba, mereka yang terlibat di industri wisata selancar keluar ladang dan kembali bekerja untuk turisme. Dua cara hidup (“modes of living”) itu sama-sama dilakoni sehingga warga tak tergantung sepenuhnya pada industri wisata yang rentan, yang seketika siap pergi dan tak kembali lagi.

Kerentanan itulah yang berisiko pada pariwisata. Bayangkan prosesnya. Tadinya sebuah tempat sepi-sepi saja, kemudian ia disorot dan didapuk sebagai “destinasi wisata.” Turis-turis memenuhinya, datang dan pergi silih berganti, membawa masuk dolar dan pulang dengan cerita. Masuknya pariwisata, di banyak tempat, mengubah cara hidup masyarakatnya, dari tadinya bertani, berkebun, atau melaut, menjadi pekerja atau wirausahawan sektor pariwisata. Mereka jadi terlibat dalam kerumitan-kerumitan industrial.

Peliknya, anak-anak muda tak lagi mewarisi mata pencaharian orang tuanya dan tumbuh dewasa untuk melayani wisatawan. Lalu, [seandainya] tiba-tiba tempat itu sepi, entah karena terorisme atau pemasaran yang payah, apa yang akan dilakukan mereka yang tetap tinggal di sana, yang ”lokal,” terlebih ketika sulit untuk kembali lagi ke cara hidup yang lama? Ketakutan-ketakutan seperti itu yang menghantui pembangunan pariwisata yang mendadak dan tergesa-gesa. Dan, sayangnya, itu terjadi di banyak tempat.

Apa rasanya menjadi “lokal” di sebuah destinasi wisata? Ibu penjaga The Lucky Boomerang paham rasanya. Demikian pula orang-orang Mentawai di Ebay dan warga kota di centrum Amsterdam. Mereka mengalami perubahan/disrupsi yang didorong dan dibentuk oleh munculnya pariwisata di tempat tinggal mereka. Entah untuk kebaikan atau keburukan, hanya mereka yang bisa menilai.

Sayangnya, suara mereka—orang-orang lokal di destinasi wisata—tak jarang dilupakan/dipinggirkan dalam narasi-narasi tentang (pembangunan) pariwisata. Terlebih di tengah ambisi kuantitatif berbasis jumlah kunjungan turis. Perih.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Penyembah tiga agama: sepak bola, sastra, dan perjalanan.
Related posts
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Interval

Mengaca pada Sri Lanka, Menilik Pariwisata Indonesia

Interval

Mojok di Diên Biên Phu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *