Itinerary

Alat Masak Tradisional yang Masih Sering Dijumpai

Seiring perkembangan teknologi yang semakin maju, banyak bermunculan berbagai inovasi dan peralatan-peralatan yang lebih efisien. Salah satu perkembangan teknologi yang bisa dirasakan hingga sekarang ini salah satunya adalah peralatan masak.

Berbagai peralatan masak tradisional yang dibuat menggunakan bahan-bahan dari alam. Namun kini kebanyakan peralatan tersebut dibuat dengan material logam yang lebih tahan lama. Alasannya agar bisa bertahan lama dan mampu menjaga bahan makanan agar tidak cepat membusuk. 

Di bawah ini ada beberapa daftar alat masak tradisional yang masih sering dijumpai hingga sekarang ini. Simak daftarnya, ya!

Tungku api

Tungku Api/Sumber

Alat masak tradisional yang masih sering dijumpai adalah tungku api. Alat masak ini merupakan bagian utama yang wajib ada di dapur tradisional. Itulah mengapa jika kamu pergi ke suatu desa pasti masih bisa menjumpai tungku api ini dalam bentuk tumpukan bata atau sudah permanen (sudah disemen).

Bahan bakarnya tak lain menggunakan kayu bakar atau arang. Sekarang ini tungku api sudah berganti dengan kompor gas dan kompor listrik yang lebih bersih dan higienis. Mungkin ada saudaramu yang masih menggunakan tungku api ini di desa, sob?

Kastrol 

Kastrol/Sumber

Alat masak tradisional ini seperti panci biasa namun berbentuk bulat dan cukup tebal. Alat ini digunakan untuk menanak nasi, membuat bubur atau memasak sayuran lain (sayur berkuah). Kastrol sangat populer digunakan di Pulau Jawa khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Ada yang unik dari kastrol ini, ketika menanak nasi biasanya ada sisa nasi yang mengerak dan agak gosong di bagian dasar kastrolnya. Biasanya masyarakat mengambil dan mengolah kerak nasi ini menjadi makanan lain yaitu intip. 

Di zaman modern seperti ini memang agak susah menemukan kastrol ini karena sudah berganti dengan rice cooker yang lebih modern dalam menanak nasi. 

Anglo

Anglo/Sumber

Alat masak yang terbuat dari gerabah ini memang lebih populer digunakan di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Ada beberapa jenis dan bentuk dari anglo ini, namun yang paling populer adalah anglo yang memiliki sekat berlubang di tengahnya. Ketika arang dinyalakan dan digunakan untuk memasak, maka sisa abunya akan jatuh ke bawah anglo. 

Anglo saat ini masih sering ditemukan di warung-warung makan tradisional seperti angkringan, warung nasi goreng, atau di warung sate. Walaupun terbuat dari gerabah, anglo ini sangat awet digunakan dalam jangka waktu yang lama selama tidak berlebihan untuk menopang barang di atasnya.

Tampah

Tampah/Sumber

Tampah adalah salah satu alat masak yang masih sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Tampah terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk melingkar dan pinggirnya dianyam dengan ikat plastik yang kuat. Tampah ini sering digunakan sebagai wadah oleh ibu-ibu rumah tangga untuk menyiapkan bahan makanan sebelum di masak di atas kompor. 

Di pasar tradisional, kamu akan sering melihat tampah ini dengan berbagai ukuran. Mulai dari yang kecil hingga berukuran besar. Selain digunakan untuk mempersiapkan bahan-bahan, tampah biasanya juga digunakan untuk menyajikan makanan syukuran seperti tumpeng, ingkung, pecel atau makanan lainnya. 

Cobek dan ulekan 

Hampir setiap rumah masih memiliki alat masak ini bahkan dengan ukuran yang berbeda-beda. Cobek dan ulekan ini digunakan untuk menghaluskan bumbu masakan atau membuat sambal. Walaupun bisa menggunakan blender untuk membuat sambal, namun tekstur yang didapatkan tidak akan bisa seperti menggunakan cobek dan ulekan ini.

Cobek ini terbuat dari batu alam yang dibentuk bulat atau oval dengan bagian tengah yang cekung. Pasangannya yaitu ulekan yang digunakan untuk menumbuk dan menghaluskan bahan-bahan. Walau penampilannya sederhana, cobek ini sangat kuat dan rata-rata bisa digunakan selama bertahun-tahun. Coba cek umur cobek di rumahmu, apakah lebih tua dengan umurmu saat ini? 

Cething 

Walaupun keberadaannya sudah ditinggalkan untuk digunakan di rumah, cething ini masih sering dijumpai ketika berkunjung ke restoran atau tempat makan tradisional. Cething yang terbuat dari anyaman bambu ini digunakan sebagai tempat nasi yang sudah matang. 

Cething hadir dalam ukuran yang berbeda, ada yang kecil (untuk 3 porsi orang dewasa) atau cething dengan ukuran yang besar (biasanya digunakan untuk acara syukuran atau acara adat). Kekurangan dari cething ini memang tidak bisa mempertahankan suhu nasi dibandingkan dengan rice cooker dengan mode hangatnya.

Belanga 

Belanga merupakan alat masak tradisional khususnya di Asia yang bahkan sudah digunakan sejak zaman Neolitikum. Belanga ini terbuat dari tanah liat namun ada juga yang terbuat dari besi. Pada bagian pinggir belanga dibuat pipih agar mudah untuk membawanya. Di Indonesia sendiri, belanga dikenal dengan banyak nama yaitu kuali di Jawa atau blangong di Aceh. 

Fungsi dari belanga ini beranekaragam, bisa digunakan sebagai tempat air, tempat masak, atau tempat menyimpan bahan makanan. Sekarang ini, belanga sudah berevolusi menggunakan bahan lain yang lebih tahan banting seperti plastik atau stainless steel. 

Dari berbagai alat masak tradisional di atas, memang masih banyak yang menggunakannya terutama di daerah pedesaan. Walau sekarang ini sudah digantikan dengan berbagai alat yang lebih modern, namun kehadiran dari alat-alat tersebut masih bisa ditemukan hingga sekarang ini. 

Bahkan ada juga orang-orang yang sengaja mengoleksi berbagai peralatan masak tradisional tersebut untuk properti hiasan rumahnya. 

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Sepiring Hidangan yang Tak Biasa

Itinerary

5 Tips Memilih Tempat Makan di Destinasi Wisata

Itinerary

Mengenal Desa Boti, Nusa Tenggara Timur

Itinerary

6 Destinasi Ekowisata di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *